Anggota FMN Surabaya Dibebaskan Setelah Ditangkap Polisi Saat MayDay

Dyah Ayu Pitaloka

Kamis, 2 Mei 2019 - 12:20

JATIMNET.COM, Surabaya – Dua Anggota Front Mahasiswa Nasional (FMN) Surabaya ditangkap polisi pada peringatan hari buruh, di Grahadi, 1 Mei 2019, sebelum dilepaskan, pada Rabu petang.

Mereka juga menerima kekerasan, saat mengikuti peringatan hari buruh. Perlakuan itu dialami, ketika aparat meminta mereka melepas masker penutup wajah, dan membubarkan peserta aksi.

Ketua Departemen Perempuan FMN Surabaya Anindya Sabrina, mengatakan dua rekannya sudah dibebaskan, setelah mendapatkan pendampingan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

“Sudah dibebaskan kemarin, sekitar jam delapan malam,” kata Sabrina dihubungi lewat telepon, Kamis 2 Mei 2019.

BACA JUGA: Kontras Pertanyakan Penangkapan Mahasiswa dalam Peringatan May Day Surabaya

Ia mengingat, sejumlah rekan peserta aksi memang mengenakan masker saat bergabung di Grahadi, pada peringatan May Day.

FMN yang menyuarakan penolakan komersialisasi pendidikan, menolak sistem kerja alih daya, dan mencabut PP 78 tahun 2005 tentang pengupahan,kemudian mendapatkan sikap represif dari aparat.

“Pagi itu kami long march, dan tiba di Grahadi pukul 11:00. Ketika berjalan ke tengah kami udah dipersekusi. Harus lepas cadar, kalau gak, akan dibubarin. Waktu dibubarin itu, kami ditendang dan banner dirampas oleh polisi juga,” katanya.

Setelah itu, FMN yang bergabung dengan sejumlah aliansi lain, memutuskan untuk mundur dan beristirahat.

BACA JUGA: Sebanyak 137 Demonstran Ditahan di Istambul saat May Day

Beberapa saat kemudian, mereka memutuskan bergabung dengan barisan Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).

FMN bergabung, lantaran Kasbi tidak keberatan dengan masker yang digunakan sejumlah anggota aliansi.

“Polisi menangkap kami ketika berjalan ke tengah menuju Kasbi. Sekitar lima teman kami juga terluka karena tendangan dan pukulan. Dua teman kami ditangkap, sebelum bebas pada sore nya,” katanya.

Mereka ditangkap serta diinterogasi ketika berada di Polrestabes. Dua rekannya pun tidak mengenakan masker, ketika ditangkap.

BACA JUGA:  Polisi Amankan Mahasiswa Penyusup saat Aksi Hari Buruh

Hingga kini, ia menyebut penangkapan  dua rekannya tidak memilliki alasan yang jelas. Ia juga meminta polisi menunjukkan bukti, jika rekan-rekannya berbuat kerusakan seperti aksi vandalisme.

“Kami tidak tahu alasan ditangkap apa, jika karena memakai masker, itu untuk perlindungan pribadi kami. Undang-undang menyampaikanpendapat (UU 9/1998) juga tidak melarang atribut apapun, yang dipakai peserta,” tandasnya.

Anindya menyebut, masker bisa memberikan perlindungan dari persekusi di internet.Sejumlah rekan aktivis telah mengalami teror di media sosial mereka, lantaran identitasnya diketahui.

“Biasanya foto aksi itu disebar di Instagram, kemudian diteror sama akun Instagram milik kepolisian. Ini sudah terjadi pada rekan kami di Bandung dan Yogyakarta. Ini (masker) upaya kami untuk menghindari dari persekusi itu,” katanya.

BACA JUGA: Asal-Usul Hari Buruh Internasional 

FMN pun mengecam aksi penangkapan dan kekerasan yang dilakukan oleh aparat pelindung warga negara Indonesia itu. Polisi diminta menghentikan aksi represif terhadap warga yang menyuarakan pendapatnya.

“Ini hari buruh Internasional, ini adalah bagian dari sejarah perjuangan panjang sampai ada hari libur pada 1 Mei. Ini adalah arena kami menyampaikan pendapat, harusnya tdak ada kejadian seperti ini,” tandasnya.

Sebelumnya, Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Leonard Simarmata mengatakan, aksi kelompok mahasiswa dari FMN Surabaya tersebut tidak memiliki izin.

Terlebih kelompok tersebut berusaha menyusup di tengah-tengah buruh yang hendak menyuarakan pendapatnya.

BACA JUGA: May Day, Janji Khofifah dan Harapan Buruh Jatim

Mantan Kapolres Batu itu juga mengaku kalau anggotanya sempat mengamankan dua anggota dari FMN Surabaya. Keduanya diduga melakukan provokasi ricuh kepada massa. “Kejadiannya tadi sore (Rabu, 1 Mei 2019),” katanya, Rabu 1 Mei 2019.

Baca Juga

loading...