Asal-Usul Hari Buruh Internasional 

Dyah Ayu Pitaloka
Dyah Ayu Pitaloka

Rabu, 1 Mei 2019 - 14:01

JATIMNET.COM, Surabaya – 1 Mei diperingati sebagai hari buruh internasional. Banyak catatan menuliskan jika unjuk rasa buruh pada 1 Mei 1886 di Heymarket, Chicago, Amerika Serikat, menjadi peristiwa yang melatari peringatan May Day.

Berikutnya, gerakan perjuangan buruh menuntut hak mereka kepada pemilik modal, terus bermunculan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Berawal  dari aksi unjuk rasa turun ke jalan, pekerja di masa kini turut merasakan manfaatnya. Mulai dari delapan jam kerja, hari libur setiap pekan, cuti, hingga Tunjangan Hari Raya.

Berikut sejarah peringatan hari buruh Internasional, dirangkum dari berbagai sumber.

BACA JUGA: Aksi May Day Macetkan Surabaya

1.May Day pertama di Heymarket

Akhir abad 19, pekerja di Eopa dan Amerika Serikat harus bekerja antara 10 hingga 16 jam setiap hari. Kondisi yang berdampak buruk pada kesehatan, hingga rendahnya harapan hidup para buruh.

Bekerja di bawah jam kerja akan berdamnpak pada potong gaji buruh.

Tahun 1860an, upaya untuk memotong jam kerja menjadi delapan jam sehari mulai muncul. Namun, upaya dalam bentuk serikat baru muncul pada1880an.

Tahun 1884, Serikat Organisasi Federasi Perdagangan dan Buruh (FOTLU) di Amerika, didukung serikat buruh lain, sepakat menuntut jika delapan jam kerja sehari, harus segera diamandemenkan, lewat aksi mogok kerja serta unjuk rasa pada 1 Mei 1886.

BACA JUGA: Selamat Hari Buruh rek!

Bertempat di Heymarket, Chicago, ratusan ribu buruh dan pengusaha berunjuk rasa menuntut agar jam kerja dipendekkan.

Aksi yang berlangsung selama berhari-hari, dan diwarnai dengan ledakan bom itu, kemudian tercatat sebagai perayaan hari buruh pertama kali di dunia, dilansir dari laman Industrial Worker of the World.

Kini setidaknya lebih dari 66 negara di dunia secara resmi menggunakan 1 Mei sebagai hari buruh internasional.

Sementara, di Amerika Serikat sendiri, 1 Mei diperingati sebagai hari penegakan hukum, sedangkan hari buruh diperingati pada Senin pertama September.

2. Aksi pertama di Asia

Pada 1 Mei 1918, serikat buruh Kung Tang Hwee Koan memperingati hari buruh sedunia di Surabaya. Konon, perayaan ini menjadi yang pertama di Asia.

BACA JUGA: May Day, Janji Khofifah dan Harapan Buruh Jatim

Turut hadir Sneevliet dan Baars dari Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda (ISDV). Sneevliet kecewa, lantaran aksi tak banyak menarik penduduk pribumi, meskipun telah diumumkan jauh hari, dilansir dari Historia.

Peringatan berikutnya, tercatat pada tahun 1921, saat HOS Tjokroaminoto dan muridnya, Sukarno, berpidato di bawah sarekat Islam.

1 Mei 1923, dalam rapat Serikat Buruh Kereta Api dan Tram, Semaun berpidato untuk menyebutkan sejumlah permasalahan buruh, dan menyerukan untuk melakukan aksi mogok.

Sejumlah isu yang disebutkan antara lain, jam kerja, badan artibrase untuk menyelesaikan sengketa kerja, kenaikan gaji, serta larangan PHK sepihak.

BACA JUGA: Peringatan May Day di Surabaya, Sebanyak 2.500 Polisi Disiagakan

3. Hari buruh setelah Indonesia Merdeka

Peringatan hari buruh bahkan dianjurkan, oleh Menteri Sosial Maria Ullfah. Di bawah kabinet Sjahrir Mei 1946, Mensos bahkan meminta agar perusahaan tetap membayar gaji, pada buruh yang memperingati 1 Mei.

Kebiasaan memperingati hari buruh terus berlanjut hingga 1 Mei 1950, para buruh mengajukan tuntutan Tunjangan Hari Raya (THR).

Tahun 1954, perjuangan buruh menghasilkan  Peraturan tentang Persekot Hari Raya, Surat Edaran No. 3676/1954 tentang Hadiah Lebaran, dan kemudian Permen No 1/1961 yang menetapkan THR sebagai hak buruh, dikutip dari Beritagar.

THR pun, bisa dinikmati oleh buruh hingga saat ini.

BACA JUGA: Hindari Ruas Jalan Ini

Namun, sepanjang masa orde baru, peringatan hari buruh dilarang. Peringatan 1 Mei dilarang karena diidentikkan dengan aktivitas dan muatan paham komunis.

Meskipun begitu, aksi sporadis sering muncul dan berakhir dengan penangkapan para demonstran.

4. Hari Buruh sebagai hari libur nasional.

Usai orde baru runtuh, gerakan serikat buruh pun bermunculan. Hal ini didukung dengan ratifikasi konvensi ILO nomor 81 tentang kebebasan berserikat bagi buruh,  oleh Presiden BJ. Habibie. Ratifikasi kemudian diiukiti dengan undang-undang nomor 21 tahun 2000.

1 Mei tahun 2000, ribuan buruh pun kembali turun ke jalan. Kali itu, aksi bahkan berjalan hingga tujuh hari.

BACA JUGA: Peringatan May Day, BPJS Ketenagakerjaan Disorot

Sejak itu,aksi hari buruh berlangsung setiap 1 Mei. Hingga, Presiden RI ke VI, Susilo Bambang Yudhoyono, menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Baca Juga

loading...