22 Mei, Jurnalis Alami Kekerasan dari Aparat dan Massa

Dyah Ayu Pitaloka

Kamis, 23 Mei 2019 - 11:45

JATIMNET.COM, Surabaya – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta memverifikasi terdapat tujuh jurnalis yang mengalami kekerasan, intimidasi, dalam peliputan aksi di sekitar Gedung Bawaslu Jakarta, pada Rabu 22 Mei 2019.

Mereka di antaranya, Budi Tanjung (Jurnalis CNNIndonesia TV), Ryan (CNNIndonesia.com), Ryan (Jurnalis MNC Media), Fajar (Jurnalis Radio Sindo Trijaya), Fadli Mubarok (Jurnalis Alinea.id), dan dua jurnalis RTV yaitu Intan Bedisa dan Rahajeng Mutiara, dalam siaran pers pada Rabu 22 Mei 2019.

Tak menutup kemungkinan, masih banyak jurnalis lainnya yang menjadi korban. Sampai saat ini AJI Jakarta masih mengumpulkan data dan verifikasi para jurnalis yang menjadi korban.

Peristiwa itu terjadi saat sejumlah jurnalis meliput di sekitar Gedung Bawaslu. Mereka dilarang aparat kepolisian saat merekam aksi penangkapan orang-orang yang diduga sebagai provokator massa.

BACA JUGA: Jadi Ketua Dewan Pers, M.Nuh Ingin Media Perkuat Edukasi

Budi Tanjung, jurnalis Transmedia, dipukul di bagian kepala dan rekaman video dalam ponselnya dihapus oleh beberapa anggota Brimob di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, pada Rabu dini hari.

Peristiwa kekerasan lainnya juga dialami jurnalis CNNIndonesia.com, Ryan saat meliput di Jalan Jatibaru, Jakarta Pusat. Ryan sedang merekam aksi polisi yang menangkap provokator massa. Namun, polisi merebut ponselnya dan meminta menghapus video.

Ryan dipukul di bagian wajah, leher, lengan kanan bagian atas, dan bahu oleh beberapa anggota Brimob dan orang berseragam bebas. Mereka juga menggunakan tongkat untuk memukul Ryan.

Aparat kepolisian tetap melakukan kekerasan walaupun Budi dan Ryan mengaku sebagai jurnalis, bahkan telah menunjukkan identitasnya sebagai jurnalis.

BACA JUGA: Cium Reporter Saat Wawancara, Petinju Bulgaria Kena Skors

Kekerasan terhadap jurnalis juga dilakukan oleh massa aksi.

Mereka melakukan persekusi dan merampas peralatan kerja jurnalis seperti kamera, telepon genggam, dan alat perekam.

Massa memaksa jurnalis untuk menghapus semua dokumentasi berupa foto maupun video. Beberapa jurnalis  bahkan mengalami tindak kekerasan fisik berupa pemukulan.

AJI Jakarta dan LBH Pers mengecam keras aksi kekerasan dan upaya penghalangan kerja jurnalis yang dilakukan oleh aparat kepolisian maupun massa aksi.

Tindakan yang mengintimidasi jurnalis saat meliput peristiwa kerusuhan itu bisa dikategorikan sebagai sensor terhadap produk jurnalistik.

BACA JUGA: 95 Jurnalis Tewas Sepanjang Tahun 2018

Perbuatan itu termasuk pelanggaran pidana yang diatur dalam Pasal 18 UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp 500 juta.

AJI mendesak aparat keamanan dan masyarakat untuk menghormati dan mendukung iklim kemerdekaan pers, tanpa ada intimidasi serta menghalangi kerja jurnalis di lapangan.

Organisasi profesi jurnalis ini, juga mendesak aparat untuk mengusut tuntas kekerasan dan intimidasi, baik yang dilakukan oleh aparat maupun warga.

AJI juga mengimbau kepada para pimpinan media massa untuk bertanggung jawab menjaga dan mengutamakan keselamatan jurnalisnya. Sebab, tidak ada berita seharga nyawa.

BACA JUGA: Aksi 22 Mei, Khofifah Mengaku Larang Warganya ke Jakarta

Selain itu, AJI juga mengimbau agar jurnalis mengutamakan keselamatan dengan menjaga jarak saat terjadi kerusuhan.

Baca Juga

loading...