95 Jurnalis Tewas Sepanjang Tahun 2018

Dyah Ayu Pitaloka

Jumat, 3 Mei 2019 - 10:57

JATIMNET.COM, Surabaya – Sedikitnya 95 jurnalis tewas saat bertugas, sepanjang tahun lalu. Jumlah ini lebih tinggi di banding tahun 2017, namun lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, ketika terjadi konflik antara Suriah dan Iraq.

Data yang dikeluarkan oleh Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) itu, juga mencatat jumlah tertinggi kematian dari awak media mencapai 155 orang di tahun 2006.

Salah satu pembunuhan yang menarik perhatian dunia berlangsung di tahun 2018, terkait tewasnya jurnalis senior Arab Saudi, Jamal Kashoggi.

Ia dibunuh pada Oktober tahun lalu, di sebuah kantor konsulat Arab Saudi di Turki.

BACA JUGA: Dua Pewarta Foto Jadi Korban Intimidasi dan Kekerasan Polisi

Kejadian itu memunculkan krisis diplomatik antara dua negara, serta sejumlah kutukan internasional.

Dan bulan lalu, jurnalis Irlandia, Lyra McKee tewas di Jalan Londonderry, ketika melaporkan kerusuhan.

Sekelompok paramiliter di Irlandia Utara mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

IFJ juga mencatat, Afganistan menjadi daerah yang paling berbahaya bagi jurnalis, dengan 16 kematian di tahun lalu, dikutip dari Bbc, Jumat 3 Mei 2019.

BACA JUGA: Kelompok Nasionalis Mengaku Terlibat dalam Tewasnya Jurnalis di Irlandia

Sembilan jurnalis Afganistan tewas dalam sebuah kecelakaan tunggal di Kabul, sepulang dari meliput lokasi serangan bom. Bom sekunder telah diledakkan oleh pelaku yang juga menyamar sebagai reporter.

Di Timur Afganistan, reporter BBC Ahmad Shah tewas dalam salah satu serangan beruntun di Provinsi Khost.

Jurnalis juga tewas di Amerika Serikat tahun lalu.

Lima orang tewas dalam penembakan di kantor koran Capital Gazette di Maryland, oleh seorang yang dilaporkan telah mencoba menuntut koran beberapa kali.

BACA JUGA: Tulis Penembakan di Kantor Sendiri, Koran Ini Terima Pulitzer

Meningkatnya intoleransi untuk melaporkan, populisme, juga korupsi dan kriminal menjadi faktor penting saat ini, kata IFJ.

Mereka “berkontribusi terhadap lingkungan di mana jurnalis lebih banyak terbunuh ketika meliput di komunitas, kota dan negara, daripada melaporkan di arena perang.

Komite Perlindungan terhadap Jurnalis (CPJ) mengambil data tentang jumlah jurnalis yang dipenjara.

Gambaran ini termasuk mereka yang bekerja sebagai jurnalis, serta dipenjara akibat aktivitasnya sebagai jurnalis.

BACA JUGA: Cegah Kekerasan, Komunitas Pers Deklarasikan Komite Keselamatan Jurnalis

Negara dengan jumlah jurnalis terbanyak dipenjara sepanjang tahun 2018 antara lain, Turki 68 orang, Cina 47 orang, Mesir 25 orang, Saudi Arabia dan Eritrea masing-masing 16 orang.

Sementara, PBB menyorot peran penting pers untuk demokrasi, khususnya selama pemilihan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sebuah pernyataan mengatakan “tidak ada demokrasi yang sempurna tanpa adanya akses terhadap informasi yang transparan dan terpercaya,”.

Courtney Radsch dari Komite Perlindungan Jurnalis mengatakan, jika retorika anti pers telah menjadi endemik di banyak negara, dengan menunjuk Amerika Serikat dan Filipina secara khusus.

BACA JUGA: Salah Kaprah Tulis Istilah Hukum, Kompak Gelar Upgrading Jurnalis

Ia percaya jika media sosial dan internet, telah menambah daftar masalah yang dihadapi oleh jurnalis.

“Kekerasan online serta ancaman yang nyata pada jurnalis, terutama perempuan, telah menambah tantangan dalam lingkungan yang telah berat,” katanya.

Indeks kebebasan pers dunia tahun ini, kelompok Reporter Tanpa Batas (RSF) menjelaskan, jika situasi di Amerika Serikat sangat problematik.

“Belum pernah sebelumnya jurnalis di Amerika Serikat menjadi sasaran banyak ancaman pembunuhan atau sering membutuhkan banyak jasa perusahaan keamanan untuk perlindungan,”.

BACA JUGA: Perempuan Magelang Ini Kelilingi Afrika Via Darat

Indeks kebebasan pers di Amerika Serikat turun, seperti juga Brazil dan India.

Sejumlah negara yang memiliki indeks buruk, seperti Venezuela, Rusia dan Cina, semakin melorot peringkatnya.

Baca Juga

loading...