JATIMNET.COM, Surabaya – Sexy Killers, film dokumenter garapan jurnalis senior Dandhy Dwi Laksono adalah magnet bagi warganet. Sejak diunggah di Youtube.com pada Sabtu, 13 April 2019, film berdurasi 88 menit itu telah diakses 11,3 juta pemirsa per pukul 11.00 WIB, Rabu 17 April 2019.

Dalam waktu setengah jam, pemirsa film produksi Watchdoc itu bertambah lebih dari 100 ribu, menjadi 11,419 pemirsa, pada pukul 11.30 WIB. Pencapaian yang fantastis, bahkan jika dibandingkan dengan capaian video pada akun The Princess Syahrini.

Ambillah satu contoh, yang berjudul “Tamparan Cetar Syahrini untuk Soimah” hanya diakses 1,9 juta warganet. Padahal video pesohor yang banyak diperbincangkan penikmat infotainment tanah air itu diunggah sejak dua tahun silam, 11 September 2017.

BACA JUGA: Membincang Jurnalisme dan HAM di Indonesia

Sexy Killers berkisah tentang buruk rupa aktivitas pertambangan batu bara di Indonesia. Dandhy membuka filmnya dengan apik. Ia lontarkan sepotong pertanyaan sederhana namun menggugah. Bagaimana listrik mengalir sampai ke rumah kita?

Babak berikutnya, film ini menyuguhkan hulu pertambangan batu bara. Bumi diledakkan, tanah digali, dan batu bara dikeruk untuk bahan bakar penggerak turbin penghasil listrik.  

Ya dari sinilah mayoritas listrik yang kita nikmati sehari-hari berasal. Bukankah 54 persen energi listrik nasional bersumber dari batu bara.

Nikmat di hilir, tak sebanding dengan kondisi warga sekitar tambang. Mereka sekarat, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Lingkungan pun rusak berantakan.

Di sebuah daerah di pinggiran Samarinda, Kalimantan Timur, air bersih menjadi barang langka. Sawah petani yang semula berlimpah air kini tak lagi. Pangkalnya, gunung penampung sumber air sudah tandas tergerus penambangan batu bara.

Tak hanya itu. Korban jiwa berjatuhan. Mayoritas anak-anak. Mereka mati tenggelam di lubang tambang yang semestinya direklamasi pasca produksi. Galian yang tak ditimbun itu telah menjelma jadi danau di sekitar permukiman.

Periset Tommy Apriando dalam film itu, menyuguhkan data sepanjang 2011-2018 ada 32 jiwa melayang tercebur galian tambang di Kalimantan Timur. Adapun jumlah korban secara nasional 2014-2018 mencapai 115 jiwa.

Penerapan aturan pasca penambangan masih jauh panggang dari api. Padahal saat ini tercatat ada 3.500 lubang bekas tambang di penjuru Indonesia.

BACA JUGA: Debat Pertama Pilpres 2019 Kurang 'Greget', Netizen Kecewa

Di tatar industri listrik tenaga uap pun sarat dengan konflik. Permukiman warga tergusur, lahan persawahan petani dijarah. Dalam proses pengiriman batu bara dari Kalimantan ke Pulau Jawa dan Bali, tongkang raksasa yang melintasi lautan merusak terumbu karang dan habitat lumba-lumba.

Meski melahirkan bencana di masyarakat, banyak perusahaan tambang itu mengantongi label syariah untuk saham mereka. Saham syariah adalah sahan yang dianggap tak bertentangan dengan syariat di pasar modal. Label itu disematkan oleh Majelis Ulama Indonesia.

Bagi para pemerhati lingkungan, juga persoalan sosial, film ini mungkin terasa biasa. Tapi tunggu dulu, hingga Anda menyaksikan data kepemilikan perusahan tambang yang disajikan dalam film ini. Sexy Killers secara runtut dan runut menghadirkan siapa mereka.

Satu per satu diungkap, para purnawirawan TNI dan Polri di balik bisnis tambang. Keterkaitan mereka dengan pengusaha dan politikus tanah air. Yang kini, dalam momentum pemilihan umum 2019, mereka berdiri di balik barisan pendukung masing-masing calon presiden-wakil presiden.

Di sinilah pemirsa menemukan ruh kekinian Sexy Killers. Terlebih saat disuguhkan potongan video acara debat antar calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Sementara Prabowo berjanji lebih galak mengejar perusak lingkungan, Jokowi optimistis persoalan ini bisa teratasi meski tak mudah.

Sayangnya, keduanya sepakat tak memperpanjang perdebatan dan eksplorasi argumentasi. (Video lengkapnya di sini)

Sexy Killers merupakan babak terakhir dari film-film hasil Ekspedisi Indonesia Biru. Ekspedisi keliling Indonesia itu berlangsung selama setahun penuh, dari 1 Januari hingga 31 Desember 2015. Dandhy dan rekan sejawatnya, “Ucok” Suparta Arz mengendarai sepeda motor keliling Indonesia dan mendokumentasikan persoalan ekonomi, budaya, sosial, dan lingkungan yang mereka temui sepanjang perjalanan.

BACA JUGA: Jalan Panjang Budi Pego Mencari Keadilan

Perjalanan itu menghasilkan sejumlah film. Di antaranya Samin Vs Semen, Kala Benoa, The Mahuzes, dan Asimetris.

Sexy Killers, hasil dari kolaborasi 14 videografer, sebenarnya diluncurkan pada 5 April 2019. Watchdoc menyediakan gratis filmnya bagi publik yang berniat nobar. Asalkan, permintaan itu tak datang dari parpol dan ormasnya, tidak menjadi bagian dari kampanye politik, dan tak diputar untuk kepentingan komersial.

Ratusan nobar sudah digelar. Di warung, kampus, hingga kampung. Di dalam maupun di luar negeri. Pujian mengalir untuk film ini. Begitu juga cibiran, terlebih Sexy Killers dirilis menjelang masa coblosan.

Dan Dandhy tegas menjelaskan alasannya.