Sambut Ramadan dengan Nyadran ke Makam Sunan Ampel

Khoirotul Lathifiyah

Minggu, 5 Mei 2019 - 17:45

JATIMNET.COM, Surabaya – Bulan puasa Ramadan disambut dengan beragam tradisi oleh umat Islam di Indonesia. Salah satunya adalah nyadran atau nyekar ke makam leluhur atau ulama dan para wali. Tradisi ini cukup dikenal di kalangan masyarakat Jawa.

Seperti halnya di makam Sunan Ampel di Surabaya, Jawa Timur. Menjelang Ramadan tiba, peziarah yang berkunjung ke makam sesepuh Wali Songo (penyebar Agama Islam di Jawa) untuk “melangitkan” doa semakin meningkat. Mereka datang dari berbagai wilayah di Nusantara.

Pegiat Sejarah kawasan Sunan Ampel Surabaya, M Khotib Ismail menyampaikan terdapat beberapa tradisi dan budaya yang dianut orang Jawa dalam menyambut bulan puasa khususnya bagi masyarakat sekitar Ampel.

"Dulu ada megengan atau bagi-bagi apem. Dan ada nyadran atau nyekar ke makam orang tua," kata Khotib saat diwawancarai di rumahnya Gang Ampel Kencana, Minggu 5 Mei 2019.

BACA JUGA:  21 Ribu Apem Meriahkan Tradisi Megengan di Surabaya

Namun, kata dia, masyarakat Ampel sudah lama tidak melakukan tradisi megengan menjelang bulan Ramadan. Kira-kira sejak tahun 1980-an.

Khotib mengungkapkan, hal tersebut dikarenakan banyak warga asli Ampel yang berpindah karena pekerjaan atau mengikuti orang tuanya.

"Setelah banyak orang berpindah, banyak pendatang dari Kalimantan, Sulawesi, dan Madura yang membawa budayanya masing-masing," katanya.

Yang masih bertahan hingga kini menurutnya adalah tradisi Nyadran. Tapi ada dua jenis nyadran yang dilakukan oleh masyarakat saat ini, yakni nyadran internal dan nyadran eksternal.

BACA JUGA: Kirab Seribu Santri Sambut Ramadan Diantar Para “Bajingan”

"Nyadran internal ini kegiatan nyekar ke orang tua atau kerabat yang meninggal. Sedangkan yang eksternal ini kepada ulama seperti Sunan Ampel," kata dia.

Nyadran sendiri merupakan adab Islam dan adat Jawa (Nusantara), lanjut Khotib. Dengan tujuan memuliakan orang tua atau leluhur.

Ia mengingatkan, yang paling utama adalah mendoakan kedua orang tua (terutama yang sudah wafat). Harapannya untuk kebahagiaan akhirat, dan minta maaf orang tua maupun kerabat.

"Jadi kita menjalani ibadah puasa dalam keadaan bersih," ungkapnya.

BACA JUGA: Segudang Manfaat Puasa untuk Kesehatan Manusia

Tradisi positif ini, ujar Khotib, mengacu pada hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang putusnya amal seseorang kecuali ilmu yang diamalkan, doa anak saleh, dan amal jariyah.

Ia juga menjelaskan mayoritas warga sekitar Ampel melakukan nyadran kepada orang tuanya atau keluarga masing-masing. Sedangkan yang ziarah ke Sunan Ampel didominasi oleh warga pendatang.

"Ini tradisi nyadran eksternal yang masih terbilang baru. Ya, kurang lebih baru lima tahun pendatang melakukan ziarah menjelang Ramadan," kata Khotib.

Menurutnya hal ini positif saja, karena setiap orang mempunyai tujuan dan kepentingan sendiri-sendiri. Namun lebih baik jika melakukan ziarah ke keluarga terdekat seperti orang tua atau kerabat terdekat yang sudah wafat.

BACA JUGA: Kota Madiun Gelar Pawai Obor Sambut Bulan Ramadan

Salah satu peziarah asal Bangil, Muhammad Saihu (24) mengaku sudah dua tahun ini berziarah ke makam Sunan Ampel ketika menjelang bulan Ramadan.

"Saya ke sini rombongan dengan keluarga. Kami mendoakan ulama terdahulu dan mohon maaf kepada Allah SWT," katanya.

Berdasarkan data yang diterima Jatimnet.com, jumlah peziarah di makam Sunan Ampel Surabaya meningkat setiap menjelang Ramadan.

Setiap hari kurang lebih mencapai seribu pengunjung. Mayoritas peziarah yang datang adalah rombongan keluarga serta jemaah keagamaan di daerah seperti Bangil, Mojokerto, Blitar, Tuban, Wonogiri, Jepara, Yogyakarta, Nganjuk, dan daerah lainnya.

Baca Juga

loading...