Minggu, 22 February 2026 03:36 UTC

Banjir merendam perkampungan warga di Kelurahan Kraksaan Wetan. Foto: Zulafif
JATIMNET.COM, Probolinggo – Sedikitnya 320 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Kraksaan Wetan, Kabupaten Probolinggo, masih terdampak banjir hingga Minggu pagi, 22 Februari 2026. Genangan belum sepenuhnya surut setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama lebih dari lima jam sejak Sabtu sore.
Air merendam rumah warga dengan ketinggian bervariasi antara 50 sentimeter hingga dua meter. Sejumlah bangunan semi permanen roboh diterjang arus, sementara perabotan rumah tangga hanyut terbawa banjir.
Sebagian warga terpaksa mengungsi ke tepian Jalan Pantura Kraksaan karena akses menuju rumah mereka masih tertutup genangan. Aktivitas ekonomi lumpuh total, dan banyak peralatan elektronik warga dilaporkan rusak.
BACA: Hujan 2 Jam di Lereng Bromo, Dua Kecamatan di Probolinggo Terendam
Ketua RT setempat, Erwandianto, menyebut kebutuhan mendesak saat ini adalah bantuan makanan dan obat-obatan. Mayoritas warga terdampak berasal dari kalangan menengah ke bawah.
“Rata-rata warga sini menengah ke bawah, jadi untuk bantuan sangat dibutuhkan. Apalagi peralatan elektronik warga juga banyak yang rusak,” katanya.
Banjir juga merendam pondok pesantren, masjid, serta sejumlah fasilitas umum di lima kecamatan, yakni Kraksaan, Krejengan, Besuk, Paiton, dan Gading. Hingga kini, warga masih membersihkan sisa lumpur sambil menunggu bantuan lanjutan.
Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyatakan, puncak musim hujan masih akan melanda Indonesia hingga akhir Februari 2026.
BACA: Pemkab Probolinggo Evakuasi Warga Terdampak Banjir, Pantura Kembali Normal
Sementara itu, pada Maret 2026, hujan diperkirakan berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan potensi hujan sangat tinggi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.
Selama periode Hari Raya Idul Fitri, sejumlah fenomena atmosfer diprediksi masih aktif, antara lain Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta potensi bibit siklon atau siklon tropis khususnya di wilayah selatan Indonesia.
BMKG mengingatkan adanya potensi peningkatan intensitas curah hujan terutama pada minggu ke-4 Februari hingga minggu ke-2 Maret 2026.
