Kamis, 22 January 2026 09:20 UTC

Mahfud yang terus merindukan sosok istrinya yang menjadi korban pembunuhan, dan berharap pelaku dihukum setimpal. Foto: Agus Salim.
JATIMNET.COM, Gresik – Rumah sederhana di Desa Imaan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, kini terasa sunyi. Sejak tragedi pembunuhan yang merenggut nyawa sang istri dua tahun lalu, suasana di rumah tersebut tak lagi sama.
Mahfud (42) harus menjalani kehidupan yang berat setelah kehilangan pendamping hidupnya akibat tindak kejahatan di rumah sendiri. Sejak peristiwa itu, ia tinggal bersama anak semata wayangnya dan sang nenek yang turut membantu mengasuh cucunya.
Dengan kondisi fisik yang terbatas pada bagian kaki, Mahfud menjalani peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu bagi putrinya, NZ. Saat tragedi terjadi, anak tersebut masih berusia dua tahun.
Kini, NZ telah berusia empat tahun. Pada usia itulah, pertanyaan-pertanyaan polos sang anak kerap muncul dan justru menjadi ujian emosional terberat bagi Mahfud, karena tak jarang membuatnya terdiam kebingungan.
“Anak saya sering bilang ingin bertemu ibunya,” ujar Mahfud lirih dengan mata berkaca-kaca saat ditemui, Kamis, 22 Januari 2026.
BACA: Ahmad Midhol, Tersangka Pembunuhan di Imaan Gresik Segera Jalani Persidangan
Tak jarang, permintaan yang terdengar mustahil pun keluar dari mulut sang anak. Ia pernah mengajak ayahnya untuk pergi ke surga menggunakan pesawat demi bertemu ibunya.
“Ayo yah Nang surgo marani ibu, numpak pesawat,” ucap Mahfud menirukan perkataan putrinya.
“Sering anak saya ingin naik pesawat ke surga menemui ibunya. Saya harus jawab apa?” tuturnya sembari mengusap air mata.
Setiap kali kalimat itu terlontar, Mahfud hanya mampu memeluk anaknya dan mengalihkan perhatian NZ agar melupakan keinginannya. Di balik ketegarannya, kerinduan yang sama juga terus ia pendam.
BACA: Eksekutor Perampokan Maut di Agen BRILink Gresik Dituntut 14 Tahun Penjara
Di rumah itu, Mahfud, NZ, dan Mbah Zaini—nenek sang anak—menjalani hari bersama. Kehadiran sang nenek menjadi tumpuan kasih sayang yang tersisa, sekaligus menggantikan peran ibu yang telah tiada.
Mahfud mengaku sempat terlintas untuk memulai kehidupan baru dengan mencari pendamping. Namun niat tersebut selalu pupus ketika bayangan almarhumah istrinya kembali hadir, terlebih proses hukum terhadap pelaku pembunuhan belum sepenuhnya tuntas.
“Saya pernah berpikir begitu, tapi langsung hilang,” katanya.
“Saya masih memikirkan keadilan untuk istri saya. Hukuman yang pantas bagi pelaku,” tambahnya.
Kakak Mahfud, Khosiin, yang juga mantan Kepala Desa Imaan selama dua periode, menyebut dampak tragedi tersebut sangat membekas, terutama bagi keponakannya yang kehilangan sosok ibu di usia sangat dini.
“Yang paling kena dampak itu anaknya. Saya melihat keluarga ini sangat terpukul, berat sekali. Bahkan di suatu saat tertentu saya tidak bisa berkata apa-apa,” tuturnya.
BACA: Polres Gresik Bekuk Dalang Pembunuhan Perempuan di Agen BRILink
Khosiin juga mengaku sempat merasa khawatir terhadap kondisi psikologis adiknya yang dikenal pendiam setelah tragedi itu terjadi.
“Waktu itu saya takut adik saya putus asa, bahkan sampai berpikir mengakhiri hidupnya sendiri,” ungkapnya.
Kini, Mahfud terus berusaha bertahan demi anaknya. Ia bertekad membesarkan NZ sekuat tenaga, meski rindu terhadap sang istri tak akan pernah benar-benar sirna.
Ia berharap, majelis hakim dapat menjatuhkan hukuman setimpal kepada pelaku pembunuhan istrinya, yang diketahui merupakan otak kejahatan dan sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Sebagai informasi, terdakwa Ahmad Midhol, tetangga korban, dituntut Jaksa Penuntut Umum dengan pidana penjara selama 14 tahun. Sementara satu pelaku lainnya telah lebih dahulu dijatuhi vonis 12 tahun penjara.
