Ratusan Unit HP Penghuni Lapas Medaeng Dimusnahkan

Hari Istiawan

Sabtu, 27 April 2019 - 23:30

JATIMNET.COM, Sidoarjo - Sebanyak 500 unit telepon genggam yang disita dari penghuni Rumah Tahanan Klas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Jawa Timur, dimusnahkan.

Pemusnahan itu sebagai upaya memerangi peredaran gelap narkoba yang dikendalikan dari dalam rutan dengan sarana komunikasi telepon genggam.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwilkumham Jatim, Pargiyono mengatakan, pihaknya terus berkomitmen untuk memerangi telepon genggam yang ada di dalam rutan.

BACA JUGA: Polda Jatim Musnahkan Ratusan Ribu Butir Pil Koplo

"Hal ini untuk menepis tuduhan masyarakat yang mengatakan kalau peredaran narkoba itu banyak dikendalikan dari dalam lapas atau rutan," katanya pada puncak peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-55 di Rutan Klas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Sabtu 27 April 2019.

Ia mengatakan, pemusnahan telepon genggam tersebut merupakan hasil razia selama beberapa bulan terakhir. "Ini adalah bentuk komitmen kami perang terhadap narkoba," ujar Kadiv Pemasyarakatan Pargiyono.

Menurutnya, tidak ada satupun lapas atau rutan yang melakukan pembiaran terkait dengan peredaran narkoba di dalam lapas atau rutan.

"Kami juga melakukan penggeledahan blok hunian secara berkala. Setiap minggu minimal dua kali," katanya.

BACA JUGA: Puluhan Ribu Botol Miras Dimusnahkan Hindari Penyalahgunaan Barang Bukti

Pihaknya juga memberikan sanksi tegas kepada pegawai yang terkena operasi tangkap tangan mencoba menyelundupkan telepon genggam ke dalam blok.

"Salah satu petugas telah diberikan hukuman disiplin dan ditempatkan di pulau Kangean. Sanksinya tegas, jika tetap ngeyel saja, kami tak segan-segan untuk lakukan pemindahan dan hukuman lainnya," ujarnya.

Dalam peringatan hari bakti itu, Pargiyono menekankan bahwa insan pemasyarakatan harus mengubah paradigmanya, yakni UPT Pemasyarakatan harus ditransformasikan sebagai pranata sosial untuk menyiapkan masyarakat yang tangguh, berketerampilan dan memiliki produktifitas tinggi.

Program tersebut, lanjut dia, diharapkan dapat memberikan perlakuan dengan target yang lebih spesifik melalui pola individualisasi perlakuan.

"Revitalisasi juga dibangun untuk membentuk sebuah flow dalam mendistribusikan kepadatan hunian. Mulai dari lapas super maximum, maximum, medium dan minimum security. Berdasarkan pada tingkat risiko sehingga tidak terjadi 'overcrowding' di suatu tempat," katanya.(ant)

Baca Juga

loading...