JATIMNET.COM, Blitar –  Reza Satya Angga (23) warga Jalan Bromo, Kelurahan Kepanjenkidul, Kota Blitar ditetapkan sebagai tersangka germo dalam praktek prostitusi online oleh Petugas Satreskrim Polres Blitar.

Reza disangka menjual dua anak perempuan putus sekolah berusia 13 dan 14 tahun asal Kediri.  Kedua korban diketahui bekerja sebagai penjaga warung di wilayah Nglegok, Kabupaten Blitar.

"Saya mencarikan untuk pelanggan lewat teman saya di Nglegok, setelah saya tahu saya antar ke pelanggan saya, " kata Reza saat ditanya petugas di mapolres Blitar Jumat 8 Maret 2019.

Sementara Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha, yang dikonfirmasi mengatakan, tersangka diamankan saat mengantar kedua korban ke sebuah hotel, di wilayah Wlingi untuk menemui calon pelanggan.

BACA JUGA: 14 Juta Anak Pertahun Dipaksa Menikah

Modus operandinya, pelaku menawarkan kedua korban kepada pelanggan sebagai gadis pemandu karaoke alias Ladies Companion (LC) untuk menemani karaoke, sekaligus untuk berkencan.

Jika ada yang berminat, transaksi dilanjutkan melalui inbox facebook, berlanjut melalui chats whastapp untuk menentukan lokasi kencan.

Kedua  korban ditawarkan dengan harga Rp 4 juta untuk sekali kencan. Dari nilai tersebut pelaku mendapatkan keuntungan sebesar Rp 600 ribu.

"Jadi awalnya ditawarkan Rp 4 juta untuk dua korban, namun di lokasi akhirnya disepakati tiga juta rupiah. Dari jumlah tersebut, pelaku mengaku mendapatkan keuntungan sebesar Rp 600 ribu," jelasnya.

BACA JUGA: Pengaduan Kekerasan Perempuan Naik 14 Persen

Selain dua korban anak di bawah umur, diduga pelaku juga menawarkan korban lain dengan modus yang sama.

Dalam kasus yang terbongkar ini, menurut Anis, pelaku juga menawarkan kedua korbanya untuk kencan threesome dengan pelanggan.

"Pelaku menawarkan keduanya untuk melayani kencan threesome, atau sesuai permintaan pelanggan," imbuh Anis kepada wartawan.

Dari hasil penangkapan terhadap pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti sebuah handphone milik korban dan pelaku, yang digunakan untuk bertransaksi serta uang tunai sebesar Rp 3 juta. Pelaku dikenakan  Pasal 88 undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.