Pasca Bom, Muslim Perempuan Sri Lanka Diminta Lepas Cadar 

Dyah Ayu Pitaloka

Jumat, 26 April 2019 - 13:25

JATIMNET.COM, Surabaya – Pemimpin komunitas muslim Sri Lanka menyerukan ibadah salat Jumat untuk dilakukan secara privat. Mereka juga meminta agar muslim perempuan tidak mengenakan cadar.

Imbauan salat Jumat dilakukan, untuk merespon ancaman dari ekstrimis Islam, sekaligus menghormati umat Katolik yang masih menunda ibadah lantaran alasan keselamatan.

Masjid sufi telah diperingatkan atas adanya ancaman dari fundamentalis keras, yang memandang sekte Islam tersebut sesat, menurut catatan kepolisian yang dikirimkan kepada organisasi itu.

Sedangkan, larangan melepas cadar diserukan untuk membantu petugas dalam menjaga keamanan nasional, dikutip dari The Guardian, Jumat 26 April 2019.

BACA JUGA: Penduduk Muslim Mengungsi Pasca Bom Gereja Sri Lanka

Ikatan Jemaah Ulama Sri Lanka, sebuah organisasi cendekiawan muslim terpandang, mengeluarkan imbauan pada Kamis sore, agar muslimah tidak menggunakan cadar.

“Dalam kondisi seperti ini, saudara perempuan kami seharusnya tidak merintangi upaya petugas keamanan dalam menjaga keamanan nasional, dengan menggunakan cadar,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

Setidaknya sekitar 700 pengungsi dari sekte Islam yang dipersekusi, sedang dalam persembunyian setelah meninggalkan kediaman mereka di kota pelabuhan Negombo, mengikuti konflik komunal yang meluas, pasca ledakan bom Minggu pagi.

Bom yang menewaskan sekitar 253 orang, jumlah terbaru yang dirilis kementerian kesehatan, merusak kedamaian yang muncul sejak konflik antara agama mayoritas Budha dan Macan Tamil, berakhir 10 tahun lalu.

BACA JUGA: Anak Saudagar Rempah Diduga Terlibat Bom Gereja Sri Lanka

Konflik kali ini, dikhawatirkan akan menghadirkan kekerasan sektarian lagi.

Polisi mengatakan pada komunitas Ahmadiyah yang sedang dalam pengungsian, agar bertahan beberapa hari, sebelum kembali pulang.

Ahmadiyah adalah kelompok muslim minoritas yang kabur dari Pakistan, dan dilarang memasuki Makkah dan Madinah.

“Kami melihat sejumlah serangan di rumah mereka, pengungsi dipukuli dan dilempari batu, sehingga mereka takut tinggal di dalam rumah,” kata aktivis Sri Lanka, Ruki Fernando.

BACA JUGA: Ardern Tak Temukan Kaitan Bom Sri Lanka dengan Christchurch

“Di Pakistan kami diserang karena dianggap sesat, sedang di sini kami diserang karena muslim,” kata Tariq Ahmed, salah satu pengungsi berusia 58 tahun.

Ahmadiyah percaya akan adanya nabi baru, setelah Nabi Muhammad SAW.

Tahun 1974 Pakistan mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai bukan Islam. 10 tahun kemudian, pemerintah mendeklarasikan jika menjadi anggota Ahmadiyah disebut sebagai tindakan kriminal.

“Kami bukan musuh mereka. Kami menghadapi situasi yang juga dihadapi orang-orang ini (korban bom),” kata Qazi Moin Ahmed, 21 tahun. “Kami bukan teroris, tapi mereka mempertimbangkan kami sebagai teroris,”.

BACA JUGA: Ditantang Perang Sampah Filipina, Ini Respon Kanada

Babar Baloch, juru bicara UNHCR, mengatakan kepada agensi berita, jika para pengungsi telah menerima pesan “jika mereka menjadi sasaran intimidasi dan ancaman,” dan UNHCR terus berupaya untuk memastikan keamanan mereka.

Sekitar 1.600 pengungsi dan pencari suaka terdaftar di UNHCR Sri Lanka.

“UNHCR bekerja secara dekat dengan petugas lokal dan nasional, yang telah sangat mendukung dan membangun untuk menjamin keamanan dan keselamatan seluruh pengungsi dan pencari suaka, selama masa ini,” kata Baloch.

Sementara itu, pasca ledakan, pendeta senior mengatakan jika gereja melarang misa publik, sampai pemberitahuan berikutnya.

BACA JUGA: Indonesia Berpeluang Persempit Gap Defisit Neraca Perdagangan dengan Cina

Dewan muslim Sri Lanka juga melarang jasad teroris untuk dimakamkan di lingkungan masjid.

“Komunitas muslim sangat marah dengan ini, sehingga mereka tidak mengakui para teroris,” kata Hilmy Ahmed, salah satu pemimpin di Dewan Muslim. “Jasad mereka, apapun bagian tubuhnya , kami tidak akan memperbolehkan untuk dimakamkan di pemakaman masjid,”.

Ia mengatakan, idenya sempat ditolak oleh komunitas dewan teologi, namun kemudian mereka menyepakatinya pada Kamis.

Kabar berikutnya, Polisi juga membenarkan jika Mohamed Yusuf Ibrahim, bapak dari dua pelaku bom bunuh diri, telah ditangkap.

BACA JUGA: Bupati Banyuwangi Setop Izin Pembangunan Hotel Kelas Melati

Sedikitnya polisi telah menangkap 76 orang, berkaitan dengan bom gereja dan hotel pada Minggu pagi. Beberapa di antaranya berkebangsaan Suriah.

Sebelumnya, ISIS mengklaim terlibat dalam peledakan, dengan mengirimkan video berisi delapan pelaku bom bunuh diri.

Sementara, pemerintah Sri Lanka menyebut pelaku berjumlah sembilan orang, dan satu di antaranya perempuan.

Baca Juga

loading...