Penduduk Muslim Mengungsi Pasca Bom Gereja Sri Lanka

Dyah Ayu Pitaloka

Kamis, 25 April 2019 - 14:47

JATIMNET.COM, Surabaya – Ratusan penduduk muslim asal Pakistan meninggalkan Negombo, Sri Lanka, pasca bom gereja meledak. Mereka meninggalkan wilayah yang diserang kekerasan komunal, beberapa hari terakhir.

Setidaknya 359 tewas dalam ledakan di tiga gereja dan empat hotel. Pemimpin gereja menduga, jemaah yang meninggal di Gereja Sebastian Negombo mampu mencapai 200 orang.

Pada Rabu, ratusan muslim Pakistan meninggalkan kota pelabuhan menuju bagian Utara ibu kota Kolombo.

Mereka berdesakan menumpang bus yang disediakan pemimpin komunitas dan polisi. Mereka pergi lantaran khawatir dengan keselamatan, setelah adanya ancaman dari warga lokal, dikutip dari Reuters, Kamis 25 April 2019.

BACA JUGA: Anak Saudagar Rempah Diduga Terlibat Bom Gereja Sri Lanka

“Karena bom meledak di sini, penduduk lokal Sri Lanka menyerang rumah kami,” kata Adnan Ali, warga muslim Pakistan, saat hendak menumpang bus. “Saat ini kami tidak tahu hendak kemana,”.

ISIS telah mengaku bertanggungjawab atas serangan itu. Meskipun ISIS adalah kelompok Sunni, banyak warga muslim yang pergi dari Negombo adalah jemaah komunitas Ahmadiyah.

Mereka diusir dari Pakistan bertahun tahun lalu, setelah aliran mereka dituduh sesat.

Ledakan bom gereja pun memaksa mereka menjadi gelandangan sekali lagi.

BACA JUGA: Ardern Tak Temukan Kaitan Bom Sri Lanka dengan Christchurch

Farah Jameel, seorah jemaah Ahmadiyah keturunan Pakistan, mengaku diusir oleh tuan tanahnya.

“Ia mengatakan, ‘keluar dari sini, dan pergi kemanapun, asal jangan di sini’,” katanya saat berkumpul di masjid Ahmadiyah, menunggu bus menjemput mereka.

Pemerintah Sri Lanka sedang dalam kekacauan, setelah gagal mencegah serangan, meskipun telah mendapatkan informasi dari intelejen.

Polisi menangkap sejumlah penduduk di Barat Sri Lanka, lokasi pecahnya kerusuhan anti muslim di tahun 2014. Pasca ledakan bom, sejumlah razia juga berlangsung di sekitar gereja St Sebastian.

BACA JUGA: Ini Daftar Password Populer yang Mudah Dibobol

Polisi melunakkan ancaman pada pengungsi, namun mereka kebanjiran pengaduan dari penduduk lokal terkait dugaan warga Pakistan yang mencurigakan di Negombo.

“Kami harus memeriksa rumah, jika penduduk mencurigai mereka,” kata Herath BSS Sisila Kumara, petugas berwenang di Kantor Polisi Katara.

Di pos polisi Katara, sekitar 35 penduduk Pakistan diamankan dari masjid Ahmadiyah, sambil menunggu bus datang menghantarkan mereka menuju lokasi aman.

“Semua orang Pakistan telah dikirim ke rumah perlindungan,” katanya. “Mereka bisa memutuskan kapan akan kembali lagi,”.

BACA JUGA: Tulis "Kuda" di Facebook, Perempuan Inggris Ditahan di Dubai

Sementara, dua kilometer dari lokasi tersebut, pemakaman korban Gereja St. Sebastian berlangsung pada Rabu 24 April 2019. Terdapat 40 korban dimakamkan di lokasi itu.

Dari 22 juta jiwa penduduk Sri Lanka, sebagian besar menganut agama Budha. Islam, Hindu, dan Kristen menjadi minoritas. Sampai sekarang, umat Kristen mampu mengatur agar terhindari dari konflik komunal di pulau tersebut.

Ada tanda sejumlah komunitas keagamaan bersatu pasca ledakan.

Biksu Budha dari kuil setempat memberikan air pada umat Kristen yang sedang berduka, di bawah terik matahari saat pemakaman berlangsung.

BACA JUGA: Melihat Secmol, Pionir Sekolah Eco Green di Dunia

Kota dengan sejarah panjang para pengungsi, termasuk pengungsi akibat Tsunami 2004, akan berjuang untuk pulih dari kekerasan di hari Minggu, kata Pendeta Thomas, salah satu di antara puluhan pendeta Katolik dalam pemakaman di hari Rabu.

“Muslim dan katolik hidup berdampingan,” katanya. “Selalu menjadi area damai, namun sekarang semuanya muncul di permukaan tanpa bisa kami kontrol,”.

Baca Juga

loading...