Kamis, 05 March 2026 02:30 UTC

Ilustrasi ledakan dahsyat nuklir. Foto: Freepik.com
JATIMNET.COM, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa daya tampung maksimal cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih terbatas, yakni sekitar 25 hari.
Meski begitu, cadangan BBM nasional belum terdampak perang antara Israel dengan sekutunya Amerika Serikat melawan Iran
“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal di 25 hari, maksimal,” ujarnya, Rabu, 4 Maret 2026.
Dari kapasitas tersebut, cadangan BBM nasional minimal 20 sampai 23 hari. “Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi, sudah di atas standar minimal cadangan nasional sebagaimana lazimnya,” kata Bahlil.
Di tengah konflik Timur Tengah yang mendorong Otoritas Iran menutup Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dunia bakal berdampak pada perekonomian global termasuk Indonesia.
BACA: OJK Ungkap Tiga Dampak Perang Iran bagi Pasar Keuangan Global
Oleh karena itu, Bahlil melanjutkan, pemerintah Indonesia bakal mengalihkan impor minyak dari Iran ke negara lain. Salah satunya, Amerika Serikat yang proses kerja samanya telah berlangsung secara bertahap.
Proses impor tidak bisa dilakukan sekaligus karena terbatasnya kapasitas storage atau fasilitas penyimpanan minyak mentah. Dengan demikian, pemerintah berencana mempercepat pembangunan storage yang diproyeksikan ditempatkan di Sumatra.
“Makanya sekarang arahan Bapak Presiden segera kita membangun storage. Jadi bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak. Tapi sekarang mau taruh di mana?” lanjutnya.
BACA: Timur Tengah Memanas, Jemaah Umrah Asal Indonesia Waswas
Bahlil juga menyinggung potensi dampak konflik global terhadap pasokan energi. Ia memastikan bahwa hingga saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman.
“Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu. Tapi ke depan kan pasti kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Itu sudah pasti. Sampai dengan 1-2 bulan ke depan insyaallah kita masih clear. Insyaallah tidak ada masalah,” tuturnya.
Pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi gangguan pada jalur pasokan energi global. Salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah.
“Jadi kalau menyangkut LPG nggak ada masalah. Jadi relative clear lah. Kalau menyangkut BBM yang kita impor kan tinggal bensin. Dan itu kita belinya di Asia Tenggara, tidak ada di Middle East. Jadi relatif insyaallah clear,” pungkasnya.
