Logo

Dewan Pers Desak Pembebasan Jurnalis dan WNI yang Ditahan Israel

Reporter:

Rabu, 20 May 2026 02:00 UTC

Dewan Pers Desak Pembebasan Jurnalis dan WNI yang Ditahan Israel

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat. Foto: dewanpers.or.id

JATIMNET.COM – Dewan Pers mengecam keras tindakan Angkatan Laut Israel yang mencegat dan menangkap rombongan aktivis kemanusiaan serta jurnalis internasional yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaza, Palestina, Senin, 18 Mei 2026.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, menilai tindakan Israel merupakan pelanggaran terhadap prinsip kemanusiaan sekaligus kemerdekaan pers.

“Dewan Pers mengecam keras tindakan militer Angkatan Laut Israel yang menghalangi tugas kemanusiaan dan kemerdekaan pers dunia,” ujar Komaruddin dalam pernyataan resminya, Selasa, 19 Mei 2026.  

Dewan Pers juga meminta Pemerintah Republik Indonesia segera mengambil langkah diplomatik luar biasa guna membebaskan dan memulangkan seluruh warga negara Indonesia, termasuk para jurnalis dengan selamat ke tanah air.

Menurut Komaruddin, jurnalis harus mendapat perlindungan dalam menjalankan tugas profesionalnya. Tak terkecuali saat meliput konflik maupun misi kemanusiaan internasional.

“Kemerdekaan pers adalah hak segala bangsa. Freedom of the Press is a Human Right,” tegasnya.

Sementara itu, rombongan aktivis kemanusiaan dan jurnalis internasional yang dicegat Angkatan Laut Israel terdapat sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).

Tiga di antaranya merupakan jurnalis yang tengah menjalankan tugas peliputan, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan Billah dari Republika, serta Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo TV.

Armada Global Sumud diketahui berangkat bersama 54 kapal dengan awak dari sekitar 70 negara dari Pelabuhan Marmaris, Turki, Kamis, 14 Mei 2026.

Mereka membawa bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obatan untuk warga Gaza yang hingga kini masih berada dalam blokade Israel.

Namun, saat berada di perairan internasional, sekitar 250 hingga 310 mil laut dari Gaza, kapal-kapal tersebut dicegat militer Israel. Penyelenggara misi menyebut sejumlah personel militer Israel sempat menaiki beberapa kapal di lepas pantai Siprus.

Situasi memanas setelah salah satu kapal armada, Munki, dilaporkan mengalami intimidasi dan serangan jarak dekat dari kapal militer Israel.

“Kapal armada Munki telah diserang oleh pasukan pendudukan Israel. Saat ini kami kehilangan kontak dengan kapal tersebut,” tulis Global Sumud Filosu Turkiye melalui platform X.

Media Israel, Yedioth Ahronoth, melaporkan sekitar 100 aktivis yang berada di atas kapal bantuan ditahan dan dipindahkan ke kapal angkatan laut Israel sebelum dibawa menuju Pelabuhan Ashdod.

Sebelum pencegatan terjadi, Kementerian Luar Negeri Israel diketahui telah mengeluarkan peringatan kepada armada Global Sumud agar menghentikan pelayaran dan kembali.

“Ubah haluan dan segera kembali,” demikian peringatan resmi kementerian tersebut.

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, turut mengecam tindakan intersepsi yang dilakukan militer Israel terhadap armada bantuan tersebut. Ia menilai langkah itu sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan prinsip kemanusiaan universal.

“Para relawan datang bukan membawa senjata, melainkan solidaritas, obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia untuk warga sipil Palestina,” ujarnya.

Ia menegaskan keselamatan dua jurnalis Republika yang berada dalam rombongan menjadi perhatian serius pihaknya.

“Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia dan menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional,” tandasnya. (*)