Kamis, 21 May 2026 06:05 UTC

Jemaah haji asal Indonesia saat melakukan tawaf. Foto: Media Center Haji)
JATIMNET.COM – Tahapan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia memasuki fase yang semakin menentukan setelah mayoritas jemaah telah tiba di Arab Saudi menjelang pelaksanaan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan rangkaian ibadah di Mina atau yang dikenal sebagai Armuzna.
Di tengah besarnya jumlah jemaah yang telah terkonsentrasi di Makkah, perhatian pemerintah kini bergeser dari proses kedatangan menuju kesiapan menghadapi puncak ibadah yang selama ini menjadi titik paling padat sekaligus paling menantang dalam operasional haji.
Kementerian Haji dan Umrah melaporkan hingga hari ke-29 operasional haji, sebanyak 192.185 jemaah Indonesia bersama 1.984 petugas telah tiba di Arab Saudi.
Sebanyak 498 kelompok terbang telah diberangkatkan dari berbagai embarkasi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 188.259 jemaah dan petugas telah berada di Makkah, sementara gelombang kedatangan melalui Bandara King Abdul Aziz Jeddah terus berlangsung.
Pemerintah juga mencatat 14.513 jemaah haji khusus telah berada di Tanah Suci untuk mengikuti tahapan ibadah sesuai jadwal yang ditetapkan.
Data tersebut menunjukkan bahwa proses mobilisasi jemaah dalam skala besar relatif berjalan sesuai rencana. Namun, keberhasilan fase kedatangan belum otomatis menjamin kelancaran fase berikutnya.
Pengalaman penyelenggaraan haji selama bertahun-tahun menunjukkan tantangan terbesar justru muncul ketika jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul dalam waktu bersamaan di lokasi dan jadwal yang sangat terbatas.
“Alhamdulillah hari ini kita memasuki hari ke-29 masa operasional penyelenggaraan ibadah haji. Secara umum, seluruh layanan haji Indonesia mulai dari pemberangkatan di tanah air, kedatangan di Arab Saudi, maupun berkaitan dengan layanan akomodasi, konsumsi, transportasi, kesehatan, hingga pembimbingan ibadah, berjalan lancar dan penuh dengan pendampingan petugas,” ujar Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Memasuki fase Armuzna, aspek kesehatan menjadi perhatian utama penyelenggara. Cuaca panas ekstrem yang lazim terjadi di Arab Saudi pada musim haji berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Kondisi tersebut menjadi faktor penting karena aktivitas fisik selama puncak ibadah jauh lebih berat dibandingkan saat berada di hotel atau menjalankan umrah wajib.
Karena itu, pemerintah mengimbau jemaah mulai mengatur pola aktivitas dan menghemat tenaga menjelang wukuf. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kebugaran ketika harus mengikuti rangkaian ibadah yang berlangsung dalam waktu berdekatan dan melibatkan mobilitas tinggi.
“Kami juga kembali mengingatkan seluruh jemaah untuk terus menjaga kesehatan, menghemat tenaga, memperbanyak istirahat, serta fokus pada mempersiapkan diri menuju puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan juga Mina,” kata Ichsan.
Selain kesiapan fisik, perhatian pemerintah juga tertuju pada kepatuhan jemaah terhadap berbagai ketentuan ibadah, termasuk pelaksanaan dam bagi jemaah yang menjalankan haji tamattu'.
Hingga pertengahan masa operasional, tercatat 100.268 jemaah Indonesia telah menyelesaikan kewajiban dam melalui berbagai mekanisme yang tersedia. Mayoritas atau sekitar 71 ribu jemaah memilih membayar melalui Program Adahi di Arab Saudi, sementara lebih dari 26 ribu jemaah melaksanakan dam di Indonesia sesuai pandangan fikih yang diyakininya.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan partisipasi jemaah dalam menggunakan mekanisme pembayaran yang terdata dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks tata kelola haji, pencatatan pembayaran dam menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan pelaksanaan ibadah berlangsung sesuai ketentuan sekaligus mengurangi praktik-praktik yang berpotensi menimbulkan persoalan administrasi maupun syariah.
“Capaian ini menjadi catatan penting dalam penyelenggaraan haji tahun ini di mana pengelolaan dam yang semakin tertata menunjukkan meningkatnya kesadaran jemaah untuk melaksanakan ketentuan ibadahnya melalui mekanisme yang lebih jelas, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Ichsan.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan tetap menghormati keberagaman pandangan ulama terkait lokasi pelaksanaan dam. Kebijakan tersebut menjadi upaya menjaga keseimbangan antara kepastian administrasi dan penghormatan terhadap perbedaan pendapat fikih yang berkembang di masyarakat Indonesia.
“Dalam hal ini, Kementerian Haji dan Umrah menghormati keberagaman pandangan fikih yang berkembang di tengah masyarakat terkait pelaksanaan dam haji. Karena itu, pemerintah memberikan ruang yang luas bagi jemaah untuk menjalankan keyakinan fikih yang diyakini masing-masing,” katanya.
Dari perspektif penyelenggaraan, dua perkembangan tersebut—tingginya tingkat kedatangan jemaah dan meningkatnya kepatuhan pembayaran dam—menggambarkan bahwa fokus pengelolaan haji Indonesia tidak lagi hanya pada aspek transportasi dan akomodasi.
Pemerintah kini dituntut memastikan kualitas layanan pada fase yang lebih kompleks, yakni pengendalian pergerakan massa, perlindungan kesehatan, pembimbingan ibadah, serta penguatan tata kelola yang transparan.
Bagi daerah-daerah pengirim jemaah terbesar seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, keberhasilan fase Armuzna juga akan menjadi indikator efektivitas pembinaan yang dilakukan sejak di tanah air.
Sebagian besar jemaah Indonesia merupakan kelompok usia lanjut sehingga kesiapan fisik dan kedisiplinan mengikuti arahan petugas menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko selama pelaksanaan puncak ibadah.
Menjelang Armuzna, pemerintah menyatakan seluruh petugas tetap disiagakan untuk mendampingi jemaah di berbagai sektor layanan. Perkembangan beberapa hari ke depan akan menjadi penentu keberhasilan operasional haji tahun ini, terutama dalam menjaga keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan ratusan ribu jemaah Indonesia saat memasuki fase ibadah yang paling padat di Tanah Suci.
