Selasa, 19 May 2026 12:15 UTC

Selama hampir 10 tahun, Jaswadi menggantungkan penghasilan keluarga dari lahan jagung yang kini sulit ditanami kembali usai seremoni Panen Raya yang dihadiri Presiden Prabowo. Foto: Zidni Ilman
JATIMNET.COM, Tuban – Jaswadi, pesanggem atau petani penggarap asal Dusun Tileng, Desa Talun, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, kini tak lagi bisa bertani seperti biasanya. Semuanya berubah sejak agenda panen raya jagung yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto bersama Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo pada Sabtu, 16 Mei 2026 lalu.
Sebagai petani, Jaswadi hanya bisa berharap lahannya kembali normal setelah digunakan dalam agenda panen raya jagung Presiden RI Prabowo Subianto.
Selama hampir 10 tahun terakhir, Jaswadi menggantungkan penghasilan keluarganya dari lahan garapan di kawasan hutan Perhutani tersebut. Dari lahan itu, ia menanam jagung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam satu hektare lahan, Jaswadi biasa menanam sekitar 15 hingga 16 kilogram bibit jagung. Seluruh proses pertanian dilakukan secara mandiri, mulai membeli benih, mengolah lahan, hingga panen.
“Mulai dari membeli benih jagung di kios hingga panen, saya lakukan sendiri,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026.
Namun kondisi lahannya kini berubah setelah dipakai untuk kebutuhan kunjungan Presiden Prabowo di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Sabtu, 16 Mei 2026.
BACA: Prabowo Panen Jagung di Tuban, Resmikan 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri
Sebagian area lahan digunakan untuk parkir kendaraan tamu dan lokasi seremonial panen raya. Jaswadi mengaku tidak mempermasalahkan penggunaan lahan tersebut karena memahami tanah yang digarapnya merupakan aset negara.
Meski begitu, ia terkejut karena proses penataan lokasi dilakukan menggunakan alat berat dan pengurukan material semen reject tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Saya tidak masalah sekali, toh itu tanah milik negara. Tapi kok sampai ada alat berat dan ada pengurukan semen itu kaget, karena tidak diberitahu sebelumnya,” katanya.
Petani khawatir lahannya rawan longsor setelah kontur tanah berubah akibat pengerjaan lokasi acara panen raya. Foto: Zidni Ilman
Menurut Jaswadi, kondisi lahan saat ini belum memungkinkan untuk kembali ditanami. Ia khawatir lapisan tanah yang menipis akibat pemerataan lahan bisa memicu longsor saat musim hujan.
“Tanah yang tipis itu ditakutkan bisa longsor saat hujan, sehingga kalau saya tanami takut gagal,” ujarnya.
Ia mengaku bingung harus mengadu ke mana terkait kondisi tersebut. Jaswadi tidak meminta ganti rugi besar dan hanya berharap lahannya dapat dinormalisasi agar kembali bisa digunakan untuk bertani.
BACA: Lahan Garapan Petani di Tuban Rusak Usai Dipakai Panen Raya Presiden Prabowo
“Saya tidak berharap banyak, tapi setidaknya lahannya dinormalisasikan kembali untuk bisa digunakan bertanam,” pungkasnya.
Sebelumnya, lahan garapan Jaswadi menjadi bagian dari area yang dipakai dalam agenda panen raya jagung Presiden Prabowo. Total lahan yang digunakan mencapai sekitar 2,75 hektare dan digarap oleh tiga petani.
Sekitar satu hektare dipakai untuk area parkir kendaraan tamu, sedangkan sekitar 7.500 meter persegi dijadikan lokasi utama acara. Sejumlah area juga diratakan menggunakan alat berat dan diuruk material semen reject.
Akibat perubahan kondisi tanah tersebut, sebagian lahan kini belum dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan pertanian.
