Logo

Makna Kemerdekaan bagi Muslim dalam Kehidupan Sehari-hari

Kemerdekaan menjadi dekat ketika seseorang bebas beribadah, belajar, bekerja, dan menjalani hidup dengan tetap menghormati hak orang lain.
Reporter:,Editor:

Senin, 17 August 2026 13:30 UTC

Makna Kemerdekaan bagi Muslim dalam Kehidupan Sehari-hari

Ilustrasi: Merdeka dalam keseharian. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Makna kemerdekaan bagi Muslim sebenarnya lebih sering dijumpai pada hari biasa dibanding di tengah upacara. Kesempatan salat dengan tenang, mencari nafkah, menyekolahkan anak, membuka usaha, dan menyampaikan pendapat merupakan kebebasan yang telah menyatu dengan rutinitas. Itu sebabnya sebagian nikmat kemerdekaan mudah tidak terasa.

Pada 17 Agustus 2026, Indonesia tepat berusia 81 tahun. Di Surabaya, peringatan tersebut mempunyai latar sejarah yang kuat. Namun kehidupan warga Kota Pahlawan hari ini juga mengajak melihat kemerdekaan dari ukuran yang lebih praktis: seberapa sehat masyarakat hidup, seberapa jauh pendidikan dapat ditempuh, dan seberapa luas kesempatan memperoleh penghidupan.

Data terbaru memberi gambaran yang cukup menarik. Indonesia memang belum menyelesaikan seluruh persoalannya, tetapi kehidupan rata-rata penduduk bergerak maju dalam beberapa ukuran penting.

 

Merdeka Beribadah Terasa Justru karena Sudah Biasa

Seorang warga Surabaya bisa mendengar azan, berjalan menuju masjid, lalu melanjutkan aktivitas tanpa menganggapnya sebagai kejadian istimewa. Rutinitas itu mungkin berlangsung ribuan kali sepanjang hidup.

Kebebasan beragama memang dijamin secara konstitusional. Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyatakan negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya.

Bagi Muslim, jaminan tersebut membuka ruang untuk menjalankan kehidupan keagamaan secara luas, mulai salat, puasa, zakat, pendidikan agama, pernikahan, hingga berbagai aktivitas sosial.

Indonesia tentu hidup bersama banyak agama dan kepercayaan. Kebebasan yang dinikmati seorang Muslim memiliki pasangan yang sama pentingnya: penghormatan terhadap kebebasan warga lain.

Ada perkembangan yang layak dicatat. Survei Evaluasi Kerukunan Umat Beragama 2025 oleh Kementerian Agama bersama P3M Universitas Indonesia menghasilkan Indeks Kerukunan Umat Beragama sebesar 77,89. Itu merupakan skor tertinggi sejak pengukuran dimulai pada 2015. 

Indeks tersebut tidak berarti gesekan sosial sudah hilang. Namun dalam masyarakat yang sangat beragam, kemampuan hidup berdampingan merupakan bagian penting dari kualitas kemerdekaan itu sendiri.

 

Hidup Lebih Lama, Sekolah Juga Lebih Panjang

Ada cara lain membaca 81 tahun kemerdekaan: melihat kualitas hidup manusia yang mengisinya. Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia Indonesia pada 2025 mencapai 75,90, naik dari 75,02 pada 2024. Seluruh indikator penyusunnya mengalami peningkatan. 

Bagian menariknya justru berada pada angka-angka di balik indeks tersebut. Umur Harapan Hidup saat lahir mencapai 74,47 tahun pada 2025, bertambah 0,32 tahun dibanding tahun sebelumnya. Harapan Lama Sekolah anak usia tujuh tahun mencapai 13,30 tahun, sementara Rata-rata Lama Sekolah penduduk berusia 25 tahun ke atas mencapai 9,07 tahun. 

Perubahan seperti ini tidak selalu terlihat dramatis dari satu tahun ke tahun berikutnya. Dampaknya baru terasa ketika dibawa ke meja makan keluarga.

Orang tua berharap anaknya memperoleh pendidikan lebih tinggi daripada dirinya. Keluarga ingin kakek dan nenek tetap sehat sampai usia lanjut. Anak muda ingin mempunyai keterampilan yang memberinya lebih banyak pilihan pekerjaan.

Kemerdekaan dalam konteks tersebut berkaitan dengan pilihan hidup yang semakin luas.

Namun rata-rata lama sekolah 9,07 tahun juga menyimpan catatan. Angka nasional itu berarti perjalanan pendidikan penduduk dewasa secara rata-rata masih berada di sekitar jenjang sekolah menengah pertama.

Jadi, pendidikan tetap menjadi ruang besar untuk memperluas kemerdekaan seseorang dalam menentukan masa depannya.

 

Punya Pekerjaan Belum Selalu Berarti Hidup Sudah Aman

Surabaya terasa sangat berbeda ketika pagi hari kerja tiba. Jalan utama mulai padat, warung menyiapkan sarapan, kendaraan pengiriman bergerak, dan orang bergegas mengejar jam masuk.

Pemandangan itu merupakan bagian kecil dari mesin tenaga kerja Indonesia yang sangat besar.

BPS mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2025 mencapai 154 juta orang. Dari jumlah tersebut, 146,54 juta orang bekerja, bertambah 1,90 juta dibanding Agustus 2024. Tingkat Pengangguran Terbuka berada pada 4,85 persen. 

Ada detail lain yang tidak kalah penting. Rata-rata upah buruh pada Agustus 2025 sebesar Rp3,33 juta per bulan, naik 1,94 persen dibanding setahun sebelumnya. 

Pekerjaan memberi seseorang pendapatan sekaligus ruang untuk membuat keputusan. Dari penghasilan itulah keluarga membayar makanan, transportasi, pendidikan, tempat tinggal, hingga kebutuhan ibadah dan sosial.

Namun status “bekerja” mencakup pengalaman ekonomi yang sangat beragam.

Pada Agustus 2025, sekitar 67,32 persen pekerja merupakan pekerja penuh waktu. Pekerja paruh waktu mencakup 24,77 persen, sedangkan 7,91 persen tergolong setengah pengangguran. 

Di jalanan Surabaya, variasi tersebut memiliki wajah nyata. Ada pegawai bergaji tetap, pedagang dengan omzet yang berubah setiap hari, pengemudi yang pendapatannya bergantung jumlah order, hingga pekerja yang mencari tambahan jam kerja.

Membicarakan kemerdekaan ekonomi akhirnya tidak cukup dengan menghitung berapa orang yang bekerja. Mutu pekerjaan dan kemampuan pendapatan menopang kehidupan juga ikut menentukan.

 

Ada Kemajuan yang Belum Dinikmati Semua Orang

Satu kesalahan yang mudah terjadi saat merayakan kemerdekaan adalah memilih antara dua gambaran ekstrem: menganggap Indonesia sudah sangat berhasil atau melihat seolah tidak ada kemajuan sama sekali. Data tidak mendukung keduanya.

IPM meningkat. Usia harapan hidup membaik. Pendidikan bergerak maju. Jumlah penduduk bekerja bertambah. Pada saat bersamaan, BPS masih mencatat 23,36 juta penduduk miskin pada September 2025, setara 8,25 persen populasi. 

Jumlah tersebut sebenarnya turun sekitar 700 ribu orang dibanding September 2024. Persentase kemiskinan juga berkurang dari 8,57 persen menjadi 8,25 persen dalam periode yang sama.  Perbaikannya nyata. Persoalannya juga nyata.

Bagi kehidupan Muslim, dua kenyataan tersebut dapat ditempatkan berdampingan. Ada alasan untuk bersyukur atas kemajuan, tetapi masih tersedia banyak ruang untuk zakat, sedekah, penciptaan pekerjaan, pendidikan, dan kepedulian kepada keluarga yang kehidupannya belum cukup aman secara ekonomi.

Agama lalu bertemu dengan kehidupan sosial tanpa harus dibuat rumit.

Orang yang memiliki usaha bisa menjaga hak pekerjanya. Konsumen dapat memperlakukan pekerja layanan dengan baik. Keluarga yang mampu bisa membantu pendidikan kerabatnya. Tetangga dapat mengetahui siapa di lingkungannya yang sedang membutuhkan pertolongan.

Skalanya kecil, tetapi kehidupan memang lebih sering berlangsung dalam skala seperti itu.

 

Setelah 17 Agustus, Kemerdekaan Kembali ke Rutinitas

Menjelang malam, suasana 17 Agustus di Surabaya perlahan berubah. Lomba selesai, makanan mulai habis, dan sebagian bendera kecil yang dibawa anak-anak sudah terlipat.

Tugu Pahlawan tetap berdiri di tengah kota. Besok pagi, orang kembali bekerja. Di situlah makna kemerdekaan bagi Muslim kembali ke bentuk sehari-harinya.

Kemerdekaan memberi ruang untuk beribadah. Pendidikan memperbesar pilihan hidup. Pekerjaan menyediakan jalan menuju kemandirian. Kerukunan memungkinkan semua itu berlangsung di tengah masyarakat yang berbeda-beda.

Indonesia memasuki usia 81 tahun dengan IPM 75,90, umur harapan hidup 74,47 tahun, serta tingkat kemiskinan yang telah turun menjadi 8,25 persen. Capaian itu cukup untuk memberi alasan bersyukur, tetapi belum cukup untuk membuat pekerjaan selesai. 

Mungkin ukuran kemerdekaan memang tidak selalu ditemukan pada sesuatu yang besar.

Besok, seorang warga Surabaya akan bangun, beribadah, mengantar anak sekolah, membuka toko, berangkat kerja, atau membantu tetangganya. Aktivitasnya terlihat biasa. Justru karena bisa dilakukan dengan bebas dan aman, hal-hal biasa tersebut layak dihargai.