Logo

Peringatan Tsunami Diakhiri, Ancaman Gempa Flores Belum Usai

Korban terus bertambah saat ratusan gempa susulan membuat fase darurat di Flores belum berakhir.
Reporter:,Editor:

Minggu, 16 August 2026 12:30 UTC

Peringatan Tsunami Diakhiri, Ancaman Gempa Flores Belum Usai

Ilustrasi dampak gempa Flores saat fase darurat berlanjut. (Pic. Dx Gen-ai)

JATIMNET.COM, Maumere – Berakhirnya peringatan dini tsunami belum menandai berakhirnya ancaman bagi masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur.

 

Sehari setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang kawasan itu, korban meninggal telah mencapai 47 orang, sementara ratusan gempa susulan, kerusakan bangunan dan gangguan akses membuat fase darurat masih berkembang hingga Minggu, 16 Agustus 2026.

 

Gempa utama terjadi Sabtu, 15 Agustus 2026  pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. Hasil pemutakhiran BMKG menempatkan pusat gempa di laut, 30 kilometer timur laut Nagekeo, pada kedalaman hanya 15 kilometer.

 

Gempa dipicu aktivitas sesar naik pada Flores Back-Arc Thrust dan sempat memunculkan peringatan dini tsunami sebelum status itu diakhiri pukul 07.30 WIB. Namun, berakhirnya ancaman tsunami kemudian bergeser menjadi persoalan lebih panjang: keselamatan warga di tengah gempa susulan dan kerusakan infrastruktur.

 

Data BNPB hingga Sabtu pukul 18.48 WIB mencatat sedikitnya 47 orang meninggal. Jumlah itu meningkat tajam dibanding laporan pada beberapa jam pertama setelah gempa.

 

BNPB juga mencatat 346 rumah terdampak, terdiri atas 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang dan 148 rusak ringan. Kerusakan turut mengenai 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah dan enam kantor.

 

Perubahan cepat angka korban menunjukkan bahwa dampak gempa belum sepenuhnya terpetakan. Proses pencarian dan pendataan menghadapi persoalan akses, terutama akibat longsor dan gangguan komunikasi.

 

Reuters melaporkan sekitar 2.000 warga mengungsi di Nagekeo, sementara upaya mencapai sejumlah lokasi terdampak harus dilakukan melalui jalur alternatif.

 

Ancaman yang kini perlu mendapat perhatian justru datang dari gempa susulan. BMKG mencatat 235 gempa susulan hingga Sabtu pukul 14.00 WIB dengan magnitudo antara M2,5 dan M6,2. Saat itu, grafik pemantauan bahkan belum menunjukkan peluruhan aktivitas yang signifikan.

 

Kondisi tersebut berlanjut hingga Minggu pagi. Laman resmi BMKG mencatat gempa M5,2 pada pukul 06.12 WIB, berpusat 84 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, pada kedalaman 10 kilometer. BMKG menyatakan gempa itu tidak berpotensi tsunami, tetapi kembali meminta masyarakat berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.

 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat koordinasi penanganan darurat di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8/2026), memperkirakan aktivitas tersebut tidak akan berhenti dalam waktu singkat.

 

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu,” kata Faisal.

 

Situasi itu membuat pencabutan peringatan dini tsunami harus dipahami secara hati-hati. Status yang berakhir hanya berkaitan dengan ancaman tsunami dari gempa utama, bukan pernyataan bahwa seluruh risiko pascabencana telah selesai.

 

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menegaskan hal tersebut ketika BMKG mengakhiri peringatan tsunami di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

 

“Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi,” ujar Nelly.

 

BMKG sebelumnya benar-benar mendeteksi tsunami di sepuluh titik. Ketinggian terbesar tercatat di Maurole, Ende, mencapai 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB.

 

Gelombang juga terdeteksi di Sikka, Kewapante, Flores Timur, Labuan Bajo, Dompu, Alor, Baubau, Bulukumba hingga Kolaka. Setelah pemantauan tidak lagi menunjukkan kenaikan muka laut yang membahayakan, peringatan dihentikan pukul 07.30 WIB.

 

Namun, besarnya korban memperlihatkan bahwa tsunami bukan satu-satunya ukuran tingkat bahaya. Gempa dangkal menghasilkan guncangan hingga VI MMI di Wolowae, Nagekeo, dan Bajawa. Pada intensitas tersebut, guncangan dapat membuat penduduk terkejut dan berlari keluar.

 

Kerusakan bangunan kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam dampak kemanusiaan. BMKG bahkan meminta warga tidak memasuki bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan struktur.

 

Imbauan ini menjadi semakin penting ketika gempa susulan masih berlangsung karena struktur yang telah kehilangan kekuatan akibat gempa utama dapat menghadapi tekanan berikutnya.

 

Risiko tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sama sekali baru bagi Flores. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan sumber gempa berada pada sistem Flores Back-Arc Thrust yang memiliki potensi menghasilkan gempa besar.

 

“Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M7.8 hingga M7.9,” kata Wijayanto di Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026. 

 

BMKG mengaitkan karakter sumber gempa itu dengan sejarah kegempaan Flores, termasuk gempa besar dan tsunami pada 1992. Lebih dari tiga dekade kemudian, gempa M7,7 kembali memperlihatkan bahwa risiko geologi tersebut tetap menjadi persoalan struktural bagi permukiman dan infrastruktur di kawasan Nusa Tenggara.

 

Di titik inilah penanganan bencana tidak cukup berhenti pada keberhasilan sistem mendeteksi gempa dan memberikan peringatan tsunami. Peringatan dini kali ini dapat diterbitkan cepat dan tsunami terpantau secara instrumental, tetapi puluhan korban tetap jatuh akibat dampak guncangan.

 

Fakta tersebut menempatkan ketahanan bangunan, akses penyelamatan, fasilitas kesehatan dan kesiapan masyarakat sebagai bagian penting yang perlu dievaluasi setelah fase darurat.

 

Pemerintah pusat kini memprioritaskan evakuasi korban, pelayanan kesehatan, kebutuhan dasar serta pemulihan infrastruktur. BNPB juga mendorong pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat dan mengaktifkan pos komando agar pencarian, pendataan serta distribusi bantuan berada dalam koordinasi yang sama.

 

Bagi Jawa Timur, gempa Flores menjadi pengingat bahwa kecepatan peringatan dini hanya merupakan satu lapis mitigasi. Wilayah pesisir selatan Jawa Timur juga menghadapi risiko gempa dan tsunami, meski sumber tektoniknya berbeda dengan Flores.

 

Ketahanan bangunan, kesiapan fasilitas publik, jalur evakuasi dan kemampuan masyarakat merespons peringatan menentukan besarnya dampak ketika bencana terjadi.

 

Hingga Minggu pagi, operasi darurat di NTT masih berlangsung dan data korban maupun kerusakan masih bersifat sementara. Dengan gempa susulan yang terus tercatat, prioritas bergeser dari ancaman tsunami menuju penyelamatan korban, pemeriksaan keamanan bangunan, pemenuhan kebutuhan pengungsi serta pembukaan akses menuju wilayah yang sulit dijangkau.

 

Fase paling menentukan setelah gempa Flores dengan demikian belum selesai.