Anak Saudagar Rempah Diduga Terlibat Bom Gereja Sri Lanka

Dyah Ayu Pitaloka

Kamis, 25 April 2019 - 11:19

JATIMNET.COM, Surabaya – Identitas pelaku bom bunuh diri Sri Lanka sedikit demi sedikit terkuak. ISIS mengklaim ledakan dilakukan delapan anggotanya. Sementara pemerintah Sri Lanka, menyebut sembilan pelaku terlibat, satu di antaranya perempuan.

Investigasi juga mendapati, jika pelaku berasal dari keluarga kaya dan mendapatkan pendidikan di Inggris dan Australia.

Dalam video yang dirilis melalui agensi berita AMAQ, terdapat delapan laki-laki dengan wajah tertutup, berdiri di bawah bendera ISIS, serta mendeklarasikan setia kepada pemimpin mereka, Abu Bakr Al-Baghdadi.

Dalam video yang dikirim ISIS itu, seorang pelaku diketahui bernama Mohamed Zahran, pendai populer Sri Lanka yang terkenal dengan pandangan militan.

BACA JUGA: Ardern Tak Temukan Kaitan Bom Sri Lanka dengan Christchurch

Meskipun, video menunjukkan delapan laki-laki, Menteri Pertahanan junior Sri Lanka, Ruwan Wijewardene, mengatakan terdapat sembilan pelaku bom bunuh diri, dikutip dari Reuters,Kamis 25 April 2019.

Delapan telah berhasil diidentifikasi, dengan salah satu pelakunya adalah perempuan, katanya.

“Sebagian besar pelaku berasal dari keluarga dengan perekonomian yang kuat, berpendidikan, dan beberapa di antaranya lulusan luar negeri,” kata Wijewardene dalam sebuah konferensi pers.

“Salah satunya kami ketahui berangkat ke Inggris, kemudian ke Australia untuk mendapatkan gelar sarjana hukum. Mitra luar negeri, termasuk Inggris, membantu kami dalam investigasi ini,”.

BACA JUGA: Ini Motif Bom Gereja dan Hotel di Sri Lanka

Dua pelaku adalah bersaudara, anak dari saudagar rempah dan penyokong sebuah komunitas bisnis, kata sumber yang dekat dengan keluarga.

Petugas intelijen dan PM Ranil Wickremesinghe percaya, bahwa Zahran, dai dengan bahasa Tamil dari negara di Timur Samudera Hindia, sebagai dalang di balik peledakan gereja dan hotel.

Ia juga dikenal dengan pandangan militan dan unggahan yang berapi-api dalam Facebooknya, menurut laporan ulama dan intelejen Sri Lanka sebelumnya, dan telah dibaca oleh Reuters.

Pemerintah menuduh dua kelompok Islam, Jemaah Tauhid Nasional, di mana Zahran dipercaya menjadi anggotanya, dan Jamiyatul Milathul Ibrahim, turut bertanggung jawab, dengan bantuan lainnya dari luar.

BACA JUGA: Menag Sebut Ledakan Bom di Sri Lanka Tragedi Kemanusiaan

Bom yang meledak pada Minggu pagi itu juga membuka kegagalan intelejen Sri Lanka, dengan adanya peringatan serangan namun tanpa ada respon tindakan, serta pertikaian politik di elit pemerintah.

“Ini menjadi sebuah kehilangan besar dalam proses membagi informasi intelejen,” kata Wijewardene. “Kami harus bertanggung jawab,”.

Pemimpin parlemen Lakhsman Kiriella, mengatakan jika seorang pejabat senior sengaja menahan informasi intelejen tentang kemungkinan serangan.

“Keamanan di level puncak tidak melakukan tindakan memadai,” kata Kiriella, yang juga menteri perusahaan publik kepada parlemen.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Kecam Teror Bom di Sri Lanka

Ia mengatakan, jika informasi tentang serangan diterima dari intelejen India pada 4 April, dan pertemuan Dewan Keamanan yang dipimpin oleh Presiden Maithripala Sirisena tiga hari kemudian, tidak menyebarluaskan informasi itu.

Sirisena telah mengatakan jika kantornya tidak pernah menerima informasi dari India. Perdana Menteri juga tidak diberitahu tentang informasi itu.

Akhir Oktober, Presiden memecat Perdana Menteri lantaran perbedaan sikap politik, namun kembali mengangkat PM sepekan berikutnya, akibat tekanan dari Mahkamah Agung.

Dua sumber yang dekat dengan presiden mengatakan, jika ia telah meminta kepala polisi dan sekretaris pertahanan untuk mundur.

BACA JUGA: PM Sri Lanka Sebut Ada Informasi Awal Sebelum Ledakan

Hingga kini, polisi setempat telah menahan 60 orang, kata Wijewardene. Termasuk sejumlah warga negara Suriah, kata sebuah sumber.

Polisi juga melakukan razia di sekitar gereja Sebastian di Negombo, Utara ibu kota, dimana banyak korban  meninggal pada Minggu.

Sejumlah orang juga ditahan di Sri Lanka, daerah pecahnya kerusuhan anti muslim di tahun 2014.

“Operasi pencarian berlangsung di segala penjuru, ada pemeriksaan ketat di area muslim,” kata seorang sumber.

BACA JUGA: Jurnalis Tewas Tertembak saat Kerusuhan di Irlandia Utara

Pemerintah telah memberlakukan aturan darurat dan jam malam. Pemerintah juga memblokir pesan online untuk menghentikan rumor yang dikhawatirkan dapat memancing konflik komunal.

Ledakan di tiga gereja, dan empat hotel itu menewaskan 359 orang dan melukai 500 orang.

Baca Juga

loading...