Menyambut Usia Senja di Pondok Ramadan Khusus Janda

Yosibio

Kamis, 9 Mei 2019 - 16:27

JATIMNET.COM, Blitar - Suriati (87) melangkah tertatih menuju bangunan bambu bertingkat di sisi utara masjid Mustajabud Da'awaad, Dusun Bendilonje, Desa Kendalrejo, Kabupaten Blitar, Kamis 9 Mei 2019 siang itu. Sejumlah rekannya kemudian menyambut dan menuntunnya menuju tempat Pondok Ramadan yang khusus digelar untuk janda lansia Al Mawaddah, kelompok pengajian.

Suriati adalah peserta paling tua. Jalannya membongkok sama seperti banyak peserta lainnya di tempat itu. Namun, di usianya yang sudah lanjut itu, semangat belajarnya tak mau kalah dengan 53 janda lanjut usia lainya.

Tidak hanya ketika mendengarkan pengajian. Ia juga tampak semangat ketika melakukan senam peregangan tanpa bantuan rekan lainya. Ia juga masih mampu mengaji Al Qur'an tanpa bantuan kacamata. Pendengaran warga desa Tumpang, kecamatan Kanigoro ini memang sedikit terganggu. Namun penglihatanya yang masih sangat baik.

Di dalam bilik berdinding anyaman bambu berukuran sekitar 5x3 meter, Mbah Suriati duduk bersila dengan sesama peserta lainya. Lantunan ayat suci terlantun pelan dari bibirnya yang keriput.

Suriati mengatakan Pondok Ramadan khusus janda lansia ini yang kesepuluh kalinya dia ikuti, sejak 2009 lalu. Menurutnya, mengikuti serangkaian ibadah di di pondok ini saat Ramadan jauh lebih menyenangkan dari pada beribadah di rumah sendiri.

BACA JUGA: Warga Banyuwangi Serbu Festival Kuliner dan Takjil Ramadan

"Di sini saya mencari ilmu, bekal untuk nanti menjelang ajal, biar bisa husnul khatimah," ujarnya kepada wartawan di sela kegiatannya Kamis 9 Mei 2019.

Suriati mengaku lebih betah bersama dengan puluhan janda lainnya di pondok karena ia tinggal sebatang kara di rumahnya. Sementara anak, cucu serta cicitnya tidak tinggal serumah dengannya karena ada di luar kota. "Saya ini orang bodo, tidak pernah sekolah, namun saya pingin terus belajar, dan berkumpul dengan teman-teman semua," imbuhnya sambil memeluk teman satu pondoknya.

Senada dengan Mbah Suriati, peserta lainya Siti Marfuah (56) warga Bendi Lonje, mengaku telah lima kali mengikuti kegiatan pondok Ramadan ini. Janda dua anak dan dua cucu ini mengaku lebih memilih berada di pondok selama sepuluh hari pertama Ramadan.

Siti yang juga lancar membaca Al Quran ini ingin sisa usianya lebih bermanfaat dengan mendalami ilmu agama. "Untuk menambah ilmu. Setelah renta, mudah-mudahan husnul khatimah," jawabnya terbata bata.

Suriati dan Siti Marfuah, merupakan bagian dari 54 peserta Pondok Ramadan khusus janda lansia, Al Mawaddah. Mereka bahkan ada dari Surabaya. Mereka akan mengikuti kegiatan keagamaan selama 10 hari di awal bulan Ramadan.

BACA JUGA: Sepenggal Sejarah Kawasan Ampel Surabaya

Kegiatan dimulai pukul 03.00 wib dengan salat tahajud, dilanjutkan dengan sahur bersama, salat subuh dan senam kebugaran. Setelah mandi pagi, para janda lansia ini akan mengikuti pengajian dengan ustaz atau ustazah yang didatangkan dari berbagai daerah.

Pengajian dilakukan di dalam masjid hingga siang hari. Ketika lelah mendera, mereka akan dihibur dengan senam ringan dan menyanyi bersama.

Sri Banun (56), pemrakarasa kegiatan ini mengatakan, Pondok Ramadan ini membuat para lansia lebih maksimal beribadah dan mandiri. "Biar lansia ini maksimal dalam melaksanakan ibadah. Kedua bisa mandiri dan tidak lagi tergantung keluarga. Ketiga, mereka bisa beribadah dengan istiqomah," papar Sri kepada wartawan.

Ia tidak memungut biaya selama pelaksanaan berlangsung. Seluruh biaya kegiatan dan kebutuhan peserta ditanggung oleh penyelenggara. Ia mengaku banyak donatur tetap yang menyumbang untuk kebutuhan kelancaran kegiatan pondok ramadan ini.

"Kami dapat bantuan dari donatur tetap, berupa materi, atau bantuan lainya. Untuk makan, seperti beras dan sayur mayur itu pemberian warga sekitar," imbuhnya.

BACA JUGA: Ramadan, Santri Ponorogo Berselawat dan Menabuh Bedug Usai Tarawih

Pelaksanaan Pondok Ramadan ini sudah kesepuluh kalinya digelar. Setiap tahun, pesertanya selalu bertambah. Namun tahun ini berkurang dua karena meninggal dan sakit stroke.

Lokasi komplek Masjid Mustajabud Da'waadd ini sedikit menjorok ke dalam sekitar 100 meter dari jalan raya, namun bangunan itu sangat terawat dan bersih. Terdapat dua kamar permanen untuk menampung sekitar 15 orang per kamar, serta sebuah bilik besar yang menampung 17 orang dengan kasur busa dan selimut sumbangan warga.

Pondok Ramadan tahun depan, kegiatan di tempat ini akan diperpanjang hingga malam ke-17. Namun semua tergantung dari kesiapan penyelenggara serta peserta pondok khusus janda lansia.

"Tahun depan semoga bisa dilaksanakan hingga malam Nuzulul qur'an," imbuhnya.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari desa setempat. Kepala Desa Kendalrejo, Mahfud Effendy mengatakan, Pemkab Blitar merespon baik kegiatan ini dengan memberikan bantuan. "Dalam pembukaan kemarin, Bupati datang ke sini dan memberikan bantuan langsung," pungkas Kepala Desa Kendalrejo ini.

Baca Juga

loading...