Sepenggal Sejarah Kawasan Ampel Surabaya

Khoirotul Lathifiyah
Khoirotul Lathifiyah

Selasa, 7 Mei 2019 - 19:38

JATIMNET.COM, Surabaya – Raden Rahmat atau Sunan Ampel Surabaya merupakan salah satu Wali Songo penyebar Islam di timur Pulau Jawa. Tepatnya di Kota Surabaya.

Makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai kota. Bahkan hampir setiap hari peziarah berdoa di makamnya di kawasan Ampel Denta.

“Sebagai panutan, banyak umat muslim yang berziarah ke Sunan Ampel. Baik saat malam Jumat, malam Jumat Legi, bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri hingga hari-hari biasa,” kata Pegiat Sejarah Kawasan Ampel Surabaya M.Khotib Ismail dijumpai di Rumahnya Jalan Ampel Gang Menara, Selasa 7 April 2019.

Dia mengisahkan Raden Rahmat berasal dari Champa menuju ke Jawa, yakni kerajaan Majapahit. Pada saat menemui Prabu Brawijaya, dia diterima dengan baik. Karena sikapnya yang baik, bijaksana, dan pintar dalam beragama, ia diberi kesempatan untuk menyebarkan agama Islam.

BACA JUGA: Sambut Ramadan dengan Nyadran ke Makam Sunan Ampel

“Banyak orang Trowulan yang kemudian menjadi santri dan pengikut Raden Rahmat,” kata dia.

Ia menjelaskan gelar ‘Raden’ yang diberikan kepada Sunan Ampel pada masa itu karena disegani pengikutnya. Sehingga dengan prestasi itu, dia mendapatkan tanah dari kerajaan Majapahit.

“Tanahnya, ya di Surabaya yang sekarang ini, namanya Ampel Denta. Saya tidak tahu berapa luas tanahnya waktu itu,” kata Khotib.

Pada tahun 1677 daerah Ampel sangat luas. Bahkan diperkirakan hingga perbatasan dengan Gresik. Khotib menjelaskan yang bisa menjadi tolok ukur adalah adanya Kali Surabaya yang saat ini sudah tidak ada dan kali Pegirian.

SELALU RAMAI. Kawasan Masjid Sunan Ampel tidak pernah sepi peziarah untuk beribadah maupun wisata religi. Foto: Dok.

“Dulu masih belum ada Kalimas. Kemungkinan Kalimas itu buatan zaman pemerintahan Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, 1808-1811),” kata dia.

Dia juga menjelaskan dari beberapa surat kabar dan buku yang tersebar seperti Oud Surabaya, History of Java dan masih banyak lagi menyebutkan bahwa Raden Rahmat waktu itu membawa tiga ribu keluarganya di Jawa.

“Nah, dari jumlah keluarga yang banyak itu, menjadi cikal bakal Raden Rahmat membentuk perkampungan dan pembuatan infrastruktur. Ini terjadi pada abad ke -15,” katanya.

Konsep yang dibuat Raden Rahmat berbeda dengan kota maupun kabupaten lainnya. Misalnya tentang penataan masjid agung, alun-alun kota atau kabupaten, dan kantor pemerintahan yang lokasinya berdekatan.

BACA JUGA: Kenalkan Wisata Ampel, Mahasiswa Tampilkan Karya Tulis dan Foto

“Di Surabaya tidak seperti itu. Raden Rahmat menciptakan konsep yang berbeda,” kata Khotib.

Ia menyayangkan tidak banyak cerita sejarah tentang Raden Rahmat Sunan Ampel. Masalahnya sedikit literatur yang menjelaskan kisahnya. Bisa dibilang Sunan Ampel Surabaya itu miskin manuskrip literasi dan juga miskin artefak.

"Kalaupun ada tulisan tentang beliau, kebanyakan ditulis setelah dua abad kematian Sunan Ampel," kata Khotib.

Menurutnya, sejauh ini belum ada penulis yang bertemu langsung dengan Raden Rahmat Sunan Ampel. Sehingga banyak versi yang menceritakan salah satu dari Sembilan wali penyebar Islam di Jawa.

Baca Juga

loading...