Menpar Targetkan Sektor Pariwisata Penghasil Devisa Terbesar pada 2020

Khoirotul Lathifiyah

Jumat, 8 Februari 2019 - 13:50

JATIMNET.COM, Surabaya - Sektor pariwisata ditarget menjadi penghasil devisa terbesar di Indonesia pada 2020. Hal ini disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kamis 7 Februari 2019 malam dalam forum Gala Dinner Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Hotel JW Marriot, Surabaya.

Menurut Arief, pariwisata Indonesia saat ini tengah mengalami pertumbuhan yang pesat. "Di tahun 2019 pun, kami menargetkan bisa meningkat kurang lebih 12 persen," katanya.

Data Kemenpar menyebutkan penerimaan devisa pariwisata pada tahun 2017 sebesar 15,20 Miliar USD, meningkat di tahun 2018 menjadi 17,00 Miliar USD. Dan pada tahun 2019 ditargetkan mencapai 20,00 Miliar USD.

BACA JUGA: Devisa Sektor Pariwisata Masih Menjanjikan

Ia berupaya untuk menandingi pendapatan SKK-Migas dalam mendulang devisa negara. "Jika dulu disebut Migas dan sisanya adalah sektor non migas, nanti akan saya ganti Pariwisata dan sisanya non Pariwisata," tambahnya.

Apalagi, kata Arief, pariwisata Indonesia menjadi sektor yang penting karena mampu menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia dari masyarakat bawah.

Arief juga memamerkan sejumlah pencapaian Kementerian Pariwisata, seperti Kemenpar terpilih menjadi kementerian Pariwisata terbaik di Asia Tenggara, terbaik ke tiga di Asia, dan peringkat sembilan di dunia.

BACA JUGA: Kemenpar Bentuk GenPI untuk Promosikan Pariwisata Indonesia

Ia juga menunjukkan pencapaian pertumbuhan pengunjung pariwisata hingga 22 persen atau kurang lebih 14,04 juta pengunjung pada kurun Januari-Desember 2017.

Sebelumnya pada 2016 jumlah pengunjung mencapai 12,02 juta pengunjung.

"Saat ini sudah lebih tinggi dari pasar regional dan global yang (pertumbuhannya) hanya 7 persen. Adapun kompetitior emosianal kita adalah Malaysia, kompetitior profesional Thaliand, dan pada 2017 dua-duanya berhasil kita kalahkan," terangnya.

BACA JUGA: Begini Kementerian Pariwisata Sasar Wisatawan Milenial Dunia

Dalam pengembangan pariwisata Indonesia, ia menyebut media memiliki sangat berperan penting. Menurutnya, keberadaan media telah mampu menarik jumlah wisatawan lebih banyak dengan berbagai konten kreatif.

"Promosi yang dilakukan oleh media, menjadi penentu juga dalam pengembangan pariwisata Indonesia," ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Arief, media harus lebih cerdas dan mengerti cara meliput isu bencana alam di kawasan-kawasan pariwisata. Karena, pemberitaan bencana alam sangat mempengaruhi jumlah pengunjung pariwisata. "Misalnya seperti kejadian gunung Agung yang meletus tahun lalu, karena banyak pemberitaan tentang bencana tersebut, jumlah pengunjung di Bali menurun," tutupnya.

Baca Juga

loading...