Mahasiswa Ubaya Ciptakan Miniatur Budaya Indonesia Melalui NEKA

Khoirotul Lathifiyah

Kamis, 21 Maret 2019 - 14:25

JATIMNET.COM, Surabaya – Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif (FIK) program studi Manajemen Produk Universitas Surabaya Brian Kurniawan Jaya menciptakan miniatur permainan 3D bongkar pasang yang disebut dengan Neka. Inovasi ini dikonsep dengan bangunan atau rumah adat yang ada di Indonesia.

“Sebenarnya saya menyukai miniatur. Kebetulan dosen pembimbing saya menginspirasi tentang kekayaan budaya. Akhirnya saya membuat miniatur rumah adat ini,” kata Brian saat diwawancarai di Ubaya Student Center, Kamis 21 Maret 2019.

Dengan adanya miniatur rumah adat, masyarakat Indonesia bisa bermain sambil mengenal budayanya melalui inovasi tersebut. Selain itu, Neka dapat dijadikan sebagai pengenalan kekayaan budaya untuk para kolektor baik dalam negeri maupun mancanegara.

Brian mengungkapkan kata Neka berasal dari sanskerta yang berarti macam atau ragam. Neka , lanjut Brian, juga diambil dari kata Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbagai macam tetapi satu.

BACA JUGA: Dosen Ubaya Kenalkan Metode Memahami Kebutuhan Tanaman

“Saya ingi membuat mainan yang bisa menjadi oleh-oleh untuk wisatawan,” kata mahasiswa asli Surabaya ini.

Berdasarkan hasil riset selama tiga bulan dengan mengunjungi Taman Mini Indonesia. Dari 34 provinsi terdapat tiga rumah adat yang sangat diminati pengunjung di taman tersebut. Tiga provinsi meliputi Sumatra Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan (Toraja).

Selain itu penentuan tiga provinsi tersebut dinilai dari segi keunikan sebuah bangunan mulai dari karakteristik, ukiran, corak, gaya desain rumah, dan baju adat yang digunakan.

Pria usia 22 tahun ini menjelaskan bahan yang digunakan untuk miniatur ini adalah kayu dengan ukuran yang berbeda-beda. Sumatera Barat memiliki dimensi ukuran panjang 100 cm x lebar 67 cm x tinggi 62 cm.

Selanjutnya Neka Bali memiliki berdimensi panjang 104 cm x lebar 74 cm x tinggi 28 cm, dan Neka Sulsel memiliki dimensi panjang 94 cm x lebar 44 cm x tinggi 73 cm.

“Saya merancang dengan ukuran besar agar kolektor atau pembeli dapat melihat dengan detail bagaimana bangunan adat ini. Karena ada beberapa bangunan yang memiliki simbol di rumahnya. Seperti di rumah adat Sulawesi Selatan,” kata Brian.

Merakit miniatur Neka membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Dan merakitnya pun relatif mudah. Brian telah mempersiapkan buku panduan yang menunjukkan langkah-langkah cara membangun replikasi miniatur Neka.

Brian mengungkapkan nantinya akan membuat miniatur Neka lebih minimalis, agar dapat dikoleksi oleh semua orang. Lebih lanjut ia mengatakan nilai jual miniatur Neka mencapai Rp 3,5 juta untuk satu set termasuk bonekanya.

BACA JUGA: Mahasiswa Ubaya Sulap Jajanan Pasar Jadi Lonceng Natal

Adapun Dosen Pembimbing Guguh Sujatmiko sangat mengapresiasi tugas akhir mahasiswanya. Inovasi ini sebagai bentuk pelestarian budaya Indonesia dengan mereplikasi rumah adat dengan skala yang lebih kecil.

“Hal ini membuktikan masih ada anak muda yang peduli dengan budayanya. Padahal biasanya millennial itu lebih suka sesuatu yang instan, seperti audio visual dengan melihat saja,” katanya.

Inovasi ini sudah cukup efektif untuk dikoleksi, lanjut Guguh. Namun karena menggunakan bahan dasar kayu, maka usianya terbatas jika tidak dirawat dengan benar.

Oleh karena itu, pihaknya akan mengembangkan kualitas Neka dengan mengganti bahan dasarnya. Misalnya seperti plastik, ampas tebu, jerami, atau bahan lainnya.

Baca Juga

loading...