Hukuman Pelaku Perdagangan Kukang Masih Rendah

Baehaqi Almutoif
Baehaqi Almutoif

Senin, 11 Maret 2019 - 20:50

JATIMNET.COM, Surabaya - Ketua Umum International Animal Rescue (IAR) Indonesia Tantyo Bangun mengatakan hukuman terhadap perburuan satwa liar di Indonesia masih sangat rendah. Akibatnya perdagangan hewan liar terus meningkat.

Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, kata Tantyo, perdagangan dan pemeliharaan satwa dilindungi termasuk kukang adalah dilarang. Namun kenyataannya masih banyak yang diperdagangan di alam bebas.

Data IAR menyebutkan sepanjang 2012-2018 ada 64 orang terjaring operasi. Sebanyak 2.957 iklan perdagangan kukang terpantau di media sosial. Sementara kerugian mencapai Rp 142 miliar akibat perdagangan tersebut.

"Jawa Timur ini sebagai lokasi yang strategis, tidak hanya aktivitas perdagangan, tapi akhir ini Jatim tempat transit perdagangan ilegal juga," ujar Tantyo saat ditemui usai acara In House Trainning Jaksa Penuntut Umum di Surabaya, Senin 11 Maret 2019.

BACA JUGA: Penjual Online Satwa Dilindungi Asal Maluku Ditangkap di Malang

Hukuman bagi perdagangan hewan dilindungi sebenarnya telah diatur dalam Undang-undang nomor 5 tahun 1990, dengan kurungan 5 tahun. Hanya saja kenyataannya, hukumannya masih sering di bawah itu.

Misalnya di Jawa Timur sebanyak 57 kasus rata-rata hanya diberikan hukuman 6 bulan penjara.
 
Tantyo menilai, hukuman yang diberikan dapat lebih dari 5 tahun. Penegak hukum dapat mengenakan undang-undang berlapis, seperti dari kepabeanan, dan balai karantina.

Ditambah dengan dua aturan yang ada di dua lembaga tersebut, pelaku perdagangan hewan bisa sampai 10 tahun. "Sejauh ini kerugian negara bisa mencapai Rp 300 juta hingga Rp 500 juta untuk rehabilitasi satwa yang berhasil diamankan. Itu bisa juga dibebankan kepada pelaku," bebernya.

BACA JUGA: Polres Banyuwangi Gagalkan Pengiriman Satwa Dilindungi

Sementara Jaksa Agung Muda Pidana Umum Noor Rachmad mengatakan, masalah tuntutan jaksa terhadap tindak pidana perdagangan satwa dilindungi tidak selalu rendah. Tapi memang ada beberapa jaksa di daerah yang masih dianggap rendah.

"Mungkin teman di daerah belum pahami beberapa pentingnya jaga ingkungan, sehingga mereka tidak lihat seberapa pengaruhnya," kata Noor Rachmad.

Karenanya, pihaknya menggandeng lembaga IAR guna memberikan pengertian seberapa pentingnya pemberian hukuman kepada penjual satwa liar dilindungi. "Jangan sampai anak cucu kita tidak tahu kera seperti apa. harimau seperti apa," tuturnya.

Ia berharap dengan pemberian hukuman yang sesuai kepada pelaku perdagangan satwa liar dilindung dapat memberikan efek jera. Sebab, hukuman merupakan bagian dari pencegahan.

Baca Juga

loading...