JATIMNET.COM, Surabaya – Balai Besar KSDA Jawa Timur berhasil meringkus pelaku perdagangan satwa liar di Kota Malang. Pelaku berinisial M ini sering menjual satwa liar melalui media sosial.

Dari tangan tersangka, diamankan dua ekor satwa yaitu Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) dan 1 ekor kasturi kepala hitam (Lorius lory).

"Pelaku ini terbilang licin, tim sempat gagal melakukan upaya penangkapan, namun berkat kesabaran dan kesigapan tim akhirnya dia berhasil diamankan,” kata Mamat Ruhimat, Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Pobolinggo, Sabtu 9 Maret 2019.

BACA JUGA: BKSDA Maluku Selamatkan Ribuan Satwa Dilindungi

Sebelumnya, M dipantau oleh tim BBKSDA Jatim sering menawarkan satwa liar yang dilindungi lewat media sosial facebook. Lewat akun Facebook bernama 'Kin Van' itu M pernah menawarkan satwa trenggiling, kakatua, nuri, dan lan-lain.

Dari hasil pengembangan penyidik ternyata M sebelumnya telah melakukan penjualan 2 ekor trenggiling (Manis javanica) kepada KEM, warga Kota Batu. Kini KEM turut diamankan beserta barang bukti trenggiling di Polresta Malang.

Juru kampanye Profauna Indonesia Siti Nur Hasannah mengatakan, penjualan satwa langka di media sosial memang masih marak, meskipun upaya memerangi terus dilakukan.

BACA JUGA: Polres Banyuwangi Gagalkan Pengiriman Satwa Dilindungi

“Partisipasi masyarakat dengan melaporkan kasus perdagangan satwa langka dan juga tidak turut membeli satwa yang ditawarkan itu sangat diperlukan untuk memutus rantai perdagangan satwa liar, " kata dia.

Aparat penegak hukum masih akan terus mengembangkan kasus ini untuk mengetahui suppliernya, karena satwa burung tersebut berasal dari luar jawa.

BACA JUGA: BKSDA dan Kejari Jember Periksa Ratusan Burung Langka

"Profauna mendorong aparat mengusut tuntas kasus perdagangan satwa ini sampai ke level suppliernya, karena jelas burung kakatua itu asalnya dari Maluku jadi pasti ada pemain yang turut terlibat dalam pengiriman burung tersebut dari Maluku ke Malang," tegas Siti.

Penangkapan ini merupakan operasi tangkap tangan yang dilakukan bersama tim BBKSDA Jatim, Direktorat PPH, Balai Gakkum Jabalnusra, dan polresta Malang dengan dukungan Profauna.