Logo

Muhammadiyah Soroti Kerusakan Alam, Haedar Nashir: Pembangunan Tak Boleh Merusak Lingkungan

Gerakan Ekoteologi Cegah Sikap Eksploitatif yang Rakus
Reporter:

Sabtu, 21 February 2026 10:02 UTC

Muhammadiyah Soroti Kerusakan Alam, Haedar Nashir: Pembangunan Tak Boleh Merusak Lingkungan

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat memberikan kajian Ekoteologi Islam secara daring di hadapan ribuan warga di kampus Universitas Muhammadiyah Jember. Foto: Humas Unmuh Jember

JATIMNET.COM, Jember – Maraknya kerusakan lingkungan di berbagai daerah menjadi perhatian serius Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Fenomena eksploitasi sumber daya alam yang memicu banjir, longsor, hingga krisis ekologis dinilai tidak bisa dibiarkan tanpa koreksi moral dan teologis.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Islam telah mengajarkan konsep ekoteologi sebagai landasan membangun tanpa merusak. Gagasan itu ia sampaikan secara hybrid dalam Kajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di kampus Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu, 21 Februari 2026.

Acara tersebut dihadiri lebih dari seribu kader dan warga Muhammadiyah dari berbagai penjuru Jatim. 

Menurut Haedar, manusia memikul amanah sebagai khalifah di muka bumi. Tugas tersebut bukan sekadar memanfaatkan alam, tetapi memakmurkannya (isti’mar) dengan penuh tanggung jawab.

BACA: Gunakan Sistem Khumasi, Ponpes di Jember Tetapkan 1 Ramadan 1447 H pada Selasa 17 Februari 2026

“Bangunlah, makmurkan, manfaatkan, kelola, tetapi jangan dirusak. Itulah konsep dasarnya,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada sikap eksploitatif yang rakus. Namun, ia juga tidak sepakat jika pembangunan dihentikan atas nama pelestarian.

“Ekoteologi bukan teologi yang melarang membangun agar tidak rusak. Tetapi membangun dengan kesadaran agar tidak merusak,” ujarnya.

Menurutnya, keseimbangan menjadi kunci. Pembangunan tetap diperlukan demi kemakmuran, tetapi harus dijalankan dalam koridor nilai Islam dan tanggung jawab ekologis.

BACA: Muhammadiyah Dorong Regulasi Sumber Daya Alam Indonesia yang Adil dan Berkelanjutan

Menutup pemaparannya, Haedar mengajak umat menjadikan Al-Qur’an sebagai perspektif utama dalam merespons krisis lingkungan.

“Bangunlah dengan ihsan, bangunlah dengan Islam, tetapi jangan merusak. Itulah ekoteologi yang sesungguhnya,” pungkasnya.