Facebook Perketat Video Streaming

Nani Mashita

Sabtu, 30 Maret 2019 - 16:00

JATIMNET.COM, Surabaya - Facebook kembali mengumumkan kebijakan barunya yakni memperketat streaming video langsung. Aturan ini diterapkan pasca penembakan dua masjid Christchurch di Selandia Baru.  

Pelaku penembakan, Brenton Tarrant seorang pendukung supremasi kulit putih menayangkan langsung aksinya membantai jamaah salat Jumat di Christchurch. Aksi keji itu menewaskan 50 orang dan puluhan orang lainnya luka-luka.  

Setelah kejadian itu, banyak orang yang mempertanyakan bagaimana platform online seperti Facebook digunakan untuk mengedarkan video mengerikan tentang serangan itu.

"Setelah serangan teroris, kami mengambil tiga langkah, yakni memperkuat aturan untuk menggunakan Facebook Live, mengambil langkah lebih lanjut untuk mengatasi kebencian di platform kami, dan mendukung komunitas Selandia Baru," ujar chief operating officer Sheryl Sandberg dilansir dari afp.com, Sabtu 30 Maret 2019.

BACA JUGA: Teror Selandia Baru, Facebook Larang Posting Dukung Supremasi Putih

Facebook sedang mencari cara untuk melarang orang yang sebelumnya melanggar standar komunitas jejaring sosial untuk melakukan tayangan langsung dari platformnya.

Selain itu, facebook akan berinvestasi dengan membuat perangkat lunak yang cepat mengidentifikasi versi video atau gambar kekerasan yang diedit untuk mencegahnya dibagikan atau diposting kembali.

"Sementara video serangan Selandia Baru asli dibagikan secara langsung, kami tahu bahwa video ini menyebar terutama melalui orang-orang yang membagikan ulang dan mengeditnya kembali untuk membuat sistem kami lebih sulit untuk memblokirnya. Orang-orang dengan niat buruk akan selalu berusaha untuk mengatasi langkah-langkah keamanan kita," sesalnya.

BACA JUGA: Google Luncurkan Layanan Streaming Stadia

Jaringan sosial menggunakan alat kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi dan menghapus kelompok kebencian di Australia dan Selandia Baru, menurut Sandberg. Kelompok-kelompok itu akan dilarang dari facebook.

Langkah ini diambil di tengah tekanan dari pemerintah di seluruh dunia soal peran facebook untuk menemukan dan menghapus konten yang penuh kebencian di platformnya.

Sandberg menegaskan facebook berkomitmen memperkuat platform, meningkatkan teknologinya dan bekerja dengan para ahli untuk menjaga keamanan facebook. "Kita semua harus bersatu melawan kebencian dan bekerja bersama untuk melawannya di mana pun dan kapan pun itu terjadi,” pungkasnya.

BACA JUGA: Apple Tayangkan Live Streaming Misterius

Sebelumnya, facebook sudah mengumumkan melarang dukungan untuk nasionalisme putih dan separatisme putih. Larangan itu akan diberlakukan mulai minggu depan di facebook juga Instagram.  

Awalnya facebook membiarkan postingan yang berisi dukungan pada nasionalisme kulit putih. Namun setelah berdiskusi dengan sejumlah akademisi dan masyarakat sipil akhirnya diputuskan bahwa nasionalisme dan separatisme kulit putih sebagai terkait dengan kelompok kebencian terorganisir.

"Jelas bahwa konsep-konsep ini sangat terkait dengan kelompok kebencian terorganisir dan tidak memiliki tempat di layanan kami," kata jejaring sosial itu dalam sebuah pernyataan.

Orang-orang yang memasukkan istilah pencarian yang terkait dengan supremasi kulit putih akan mendapatkan hasil merujuk mereka ke sumber daya seperti Life After Hate, yang fokus pada membantu orang berpaling dari kelompok tersebut, menurut facebook.

Baca Juga

loading...