Disperindag Jawa Timur Fokus Fasilitasi Bahan Baku Batik

Baehaqi Almutoif

Rabu, 10 April 2019 - 17:08

JATIMNET.COM, Surabaya - Bahan baku masih menjadi hal yang sulit didapatkan bagi perajin batik. Selain itu, harga bahan baku yang mahal juga membuat batik kurang bersaing di pasar internasional.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur Drajat Irawan membenarkan ihwal sulitnya industri kecil menengah (IKM) terutama batik mendapatkan bahan baku.

"Kami saat ini tengah mengupayakan ketersediaan bahan baku yang mudah diperoleh dan bisa bersaing," ujar Drajat disela mengadiri pembukaan pameran batik bordir di Grand City, Rabu 10 April 2019.

BACA JUGA: Batik Ponorogo yang Mulai Menggeliat 

Untuk diketahui, kelangkaan bahan baku ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bahkan disebut 50 persen bahan baku batik Indonesia masih diimpor dari luar negeri. Perajin harus mendatangkan dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Mesir dan Cina.

Bahan baku impor tersebut, antara lain cat warna sintetis, bahan serat kapas, dan mesin printing batik. Bahan-bahan baku tersebut ada yang tidak diproduksi dalam negeri, ada juga yang kualitasnya kurang bagus.

"Bukan hanya batik sebenarnya, termasuk juga perhiasan, dan bordir. Ketersediaan bahan baku menjadi bagian yang penting. Karenanya ini salah satunya kita sedang fasilitasi," tuturnya.

BACA JUGA: Ekspor Tenun dan Batik Ditarget Raup USD 58,6 Juta

Disperindag Jawa Timur berupaya memfasilitasi para perajin agar mendapat kemudahan. Selain itu, lanjut Drajat, pihaknya juga memberikan pendampingan dengan menggandeng Balai Besar Batik di Jawa Tengah atau Yogyakarta.

Salah satu yang menjadi fokus adalah tentang teknologi pewarnaan dan desain dari beberapa sentra batik di Jawa Timur.

"Terakhir adalah bagaimana batik ini kita berikan standarisasi, khususnya batik tulis. Jadi semacam ada kodenya, ada kriterianya. Nanti akan diberi kode. Itu sudah kita lakukan," urainya.

Diharapkan, dengan begitu mampu mendongkrak batik Jawa Timur yang memiliki ragam cukup banyak. Seluruh 38 kabupaten/kota punya ciri batik sendiri.

Baca Juga

loading...