Ekspor Tenun dan Batik Ditarget Raup USD 58,6 Juta

David Priyasidharta

Kamis, 21 Maret 2019 - 08:58

JATIMNET.COM, Jakarta - Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD 58,6 juta atau naik 10 persen dibanding capaian tahun lalu sebesar USD 53,3 juta.

Peningkatan ekspor tenun dan batik nasional masih terbuka, seiring produknya yang semakin bernilai tambah tinggi dan terjalinnya beberapa kerja sama ekonomi dengan negara-negara potensial.

Ekspor tenun dan batik Indonesia mayoritas dikapalkan ke negara maju seperti Jepang, Belanda dan Amerika Serikat.

BACA JUGA: Muncul Debat Capres, Sarung Batik sudah Biasa Dipakai ASN

“Tenun dan batik merupakan high fashion yang nilai tambahnya tinggi, bukan sebagai komoditas. Maka itu, ekspor untuk industri ini terus kami dorong," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat pembukaan Pameran Adiwastra 2019 di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019

Menurut Airlangga, industri tenun dan batik merupakan bagian dari kelompok industri tekstil dan busana. Industri ini memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional.

"Industri tenun dan batik, banyak ditekuni oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang tersebar di sentra-sentra industri. Selain berorientasi ekspor, sektor ini juga tergolong padat karya,” ungkapnya dalam siaran pers yang diterima Jatimnet.com.

BACA JUGA: Batik Oren, Busana yang Pas untuk Pria Milenial

Kemenperin mencatat, sentra industri batik di Jawa mencapai 101 unit. Di dalamnya ada 3.782 unit usaha yang menyerap tenaga kerja hingga 15.055 orang. Sementara tenun diproduksi di 368 sentra dengan 14.618 unit usaha dan mempekerjakan 57.972 orang.

“Pemerintah terus berupaya mendorong agar batik dan tenun kita bisa lebih berdaya saing. Karena selain mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus untuk melestarikan budaya tradisional di Tanah Air agar tetap bertahan dan bisa mendunia,” paparnya.

Batik dan tenun merupakan kain tradisional yang kental dengan nilai budaya, dibuat dan diwariskan turun temurun, motif yang dibuat mengandung arti atau filosofi.

BACA JUGA: Nilai Ekspor Batik Mencapai 58,47 Juta Dolar

Industri ini merupakan perpaduan revolusi industri ke-2 yang masih pakai canting, alat tenun bukan mesin, yang dipadukan dengan pasar generasi digital. “Jadi, pemerintah berkewajiban melindungi industri ini,” imbuhnya.

Airlangga menambahkan, guna mendorong ekspornya, pemerintah meminta kepada para perajin serta pengusaha tenun dan batik untuk terus berinovasi, khususnya dalam hal bahan baku. Sehingga, tenun dan batik Indonesia bisa bersaing dengan produk sejenis dari negara lain.

“Ini didorong untuk berani memakai material baru, sehingga dari segi desain dan kenyamanan dipakai semakin meningkat. Ada yang namanya Bemberg itu pengganti bahan sutera, bisa dimanfaatkan karena hasilnya selembut sutra," tuturnya.

Baca Juga

loading...