Mengenang Tsunami Pancer 25 Tahun Silam

Deretan Pohon Selamatkan Penonton Wayang Kulit

Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Minggu, 2 Juni 2019 - 20:38

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Peristiwa tsunami di Pantai Pancer, Banyuwangi, 1994 masih membekas di benak Irianto. Saat tsunami terjadi, dirinya sedang melangsungkan hajatan dan menanggap wayang kulit.

Dalang Subhari waktu itu sedang memainkan lakon Kuncung Semar menurut penuturan warga, padahal dirinya minta lakon Bangun Bale Pengrawit atau yang banyak catur cerita dan banyak perangnya.

Irinato yang kini sudah berusia 57 tahun mengaku wayang kulit diundangnya untuk menghibur warga dalam rangka hajatan sunat cucu pertamanya, 2 Juni 1994.

BACA JUGA: Mengenang Tsunami Pancer Banyuwangi 25 Tahun Silam

Tsunami terjadi ketika dirinya sedang menghitung uang dari tamu yang datang, sementara cerita wayang yang dimanikan dalang sampai pada bagian goro-goro atau puncak kemelut sekitar pukul 02.00 WIB.

Irianto mengatakan air tiba-tiba keluar dari tanah di depannya dan membubarkan tumpukan uang yang sedang dihitungnya. Sejurus kemudian terdengar teriakan dari luar dibarengi air besar yang datang tiba-tiba dari belakang rumah.

Panggung wayang roboh, sinden-sinden berlindung di pohon kelapa dan pohon akasia, lalu merobek bagian bawah jariknya agar bisa lari menyelamatkan diri. Anak yang disunat digendong dan dilarikan ke tempat yang lebih aman.

BEKAS TSUNAMI. Sumiatun (70) warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran menunjukkan bagian tembok rumah tetangganya yang rusak dihantam tsunami 25 tahun yang lalu, Rabu, 29 Mei 2019.

Air dengan ketinggian lebih dari 1 meter itu diceritakan surut dalam tempo satu hingga dua  menit. Tidak hanya gelombang dari laut, arus kembalinya air ke laut juga cukup kuat untuk menyeret orang dewasa.

Tepat hari ini 25 tahun yang lalu tercatat 229 warga atau lebih meninggal dunia menjadi korban tsunami. Korban ditemukan tersebar di Pantai Pulau Merah, Pancer, Lampon dan Rajegwesi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

“Untung semua sudah saya bayar, tanggapan wayang, sewa tenda, beras, gula dan kebutuhan hajatan lain sudah saya lunasi,” kata pria yang kerap disapa Bagong yang kehilangan uang hasil resepsinya itu.

BACA JUGA: Kiai Pesantren, Pastor Paroki dan Tausiyah Hari Anti Tambang

Beruntung efek tsunami di lokasi pagelaran wayang tidak separah di Pantai Mustika dan Pantai Pulau Merah yang merobohkan hampir semua bangunan. Pasalnya pemukiman tempat tinggal Irianto memiliki pagar pepohonan dari pantai sejauh sekitar 200 meter, sedangkan pemukiman lain tidak.

Saat terjadi tsunami 1994 di lahan lain tepi pantai juga tegak pohon-pohon dadap laut, nyamplung, jambu alas, dan legaran. Irianto dan Sumiatun (70) istrinya, tidak berniat pindah di tanah rawan bencana itu karena percaya akan terlindung pohon-pohon.

Kini kebun belakang seluas 8,3 X 99 meter mereka tanami sekitar 20 pohon kelapa dan 20 pohon mahoni berharap jadi pelindung bagi mereka bila sewaktu-waktu tsunami kembali terulang. “Kalau orang mau ambil buah kelapanya silakan. Tapi jangan rusak pohonnya,” ujar Sumiatun.

BACA JUGA: Di Banyuwangi, Ulama Usulkan Parpol Tolak Tambang Masuk Parlemen

Sedangkan di pemukiman Pantai Mustika dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pancer yang berada di bibir pantai muncul suara gemuruh panjang sebelum air menerjang. Sebagian warga mengira suara truk besar pengangkut es yang mau lewat, namun yang datang air bah setinggi atap.

Semua jam dinding yang ditemukan di antara puing-puing bangunan, jarumnya menunjukkan pukul 02.00. Atim (68) nelayan setempat mengatakan saat itu gelombang laut datang dari arah barat daya, lalu berbelok di teluk mengarah ke pemukimannya.

MENGENANG. Irianto, warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran menunjukkan tempatnya menghitung uang hasil kondangan saat tsunami datang menerjang kampungnya. Foto: Suudi

“Rumah saya tinggal pondasi, sesudahnya air minum susah dicari, belanja kemana-mana susah, cari makanan instan juga susah,” kata Atim.

BACA JUGA: Tausiah Hari Anti-Tambang Banyuwangi, Perjuangan Minoritas Cegah Kerusakan Alam

Dia juga menyayangkan ditambangnya Gunung Tumpang Pitu karena menjadi tameng bagi Pancer dari angin tenggara. Bulan Mei angin di Pantai Mustika mampu menerbangkan pasir halus ke arah pemukiman.

“Seperti ini masih ada Tumpang Pitu, kalau tidak ada ya blus langsung ke sini. Ada tamengnya saja begini, bulan Agustus nanti angin tenggara keras-kerasnya dan besar-besarnya ombak,” kata Atim yang mengelola salah satu warung di Pantai Mustika.

Baca Juga

loading...