Tausiah Hari Anti-Tambang Banyuwangi, Perjuangan Minoritas Cegah Kerusakan Alam

Ahmad Suudi

Selasa, 28 Mei 2019 - 11:12

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Kiai Muhammad Alfayyadl dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo membahas perjuangan minoritas, dalam pengajian refleksi 13 tahun semburan Lumpur Lapindo, di lapangan Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Senin 27 Mei 2019.

Dia mengatakan, warga yang menolak tambang merupakan minoritas yang justru akan mengubah kondisi dengan mengusir perusak alam.

Sehingga meski jumlahnya lebih sedikit daripada yang membiarkan tambang masuk, warga penolak tambang diminta terus melanjutkan perjuangan mereka.

"Allah masih menunggu usaha kita, ikhtiar kita, yang paling maksimal, paling militan, paling jauh, serta paling dahsyat, paling kuat," kata pria yang kerap disapa Gus Fayyadl itu.

BACA JUGA: Tumpang Ditambang Meninggalkan Gambar

Namun, jika masih terjadi kegagalan dalam memenangkan perebutan ruang lingkungan hidup, perlu dievaluasi soliditas dalam berjuang, antar warga yang menolak dengan masyarakat umum.

Artinya, masih banyak kerenggangan dalam berukhuwah, hingga perlu upaya untuk meningkatkan persaudaraan dan cinta kasih kepada sesama.

Fayyadl mengisahkan, sedikit sekali umat Nabi Nuh yang mengikutinya naik ke bahtera saat terjadi bencana banjir terbesar di muka bumi.

Namun, dengan jumlah sedikit mereka berhasil mengembangkan generasi selanjutnya hingga terwujud generasi umat Nabi Muhammad yang jumlahnya sangat besar.

BACA JUGA: Lestarikan Gunung dan Hindari Kerusakan Tambang dalam Gambar

Dia juga mencontohkan, perjuangan merobohkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Hanya ribuan mahasiswa yang harus melawan puluhan ribu aparat kemanan, namun berhasil hingga seluruh masyarakat Indonesia bisa lebih bebas berekspresi.

"Jadi perjuangan harus dilakukan 100 persen (semua orang) nggak mungkin, perjalanan sejarahnya memang begitu. Jangan gentar, jumlahnya jangan bikin takut bahwa perjuangan ini tidak punya masa depan," katanya.

Ia juga berpesan, agar alam selamat dari kerusakan, warga harus beriman dan bertakwa. Rasa putus asa merupakan contoh kehilangan iman.

Sementara takwa bisa dilakukan dengan cara mengendalikan hawa nafsu, termasuk pada pundi uang yang ditawarkan korporasi perusak alam.

BACA JUGA: Puluhan Penambang Emas Tertimbun Longsor di Bogor

Ia mengutip penggalan ayat Alquran surat Saba ayat 13 yang menyebutkan bahwa hanya sedikit umat muslim yang bersyukur.

Dijelaskannya, bahwa warga yang menolak kehadiran tambang dan menjaga ekologi alam merupakan bagian dari sedikit umat yang bersyukur atas nikmat alam tersebut.

"Saya yakin dari perjuangan bapak-ibu, yang (akan) menikmati anak-cucu, generasi berikutnya bangsa ini. Kalau kita berhasil menyelamatkan sebuah gunung, itu sudah menjadi amal jariyah," pungkasnya.

Pengajian itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anti Tambang (Hatam) oleh Panitia Temu Warga didukung Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jatim, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara).

BACA JUGA: Menkeu Minta Pemerintah Daerah Rapikan Perizinan Tambang

Sebelumnya, digelar lomba mewarnai dengan tema 'Tumpang Pitu Lestari', dilanjutkan temu warga terdampak atau calon terdampak konflik agraria, yang diakhiri buka bersama.

Baca Juga

loading...