Lestarikan Gunung dan Hindari Kerusakan Tambang dalam Gambar

Ahmad Suudi

Senin, 27 Mei 2019 - 16:16

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Sebanyak 16 anak mengikuti lomba menggambar gunung di lapangan Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Senin 27 Mei 2019. Dalam lomba yang berlangsung 30 menit itu, mereka juga diingatkan pada kelestarian gunung yang harus dijaga.

Selama proses menggambar diiringi lagu dengan lirik keindahan pemandangan alam yang lestari dan tema lagu anak lainnya.

Mendapatkan tema Tumpang Pitu Lestari, mereka menggambar dua hingga sepuluh gunung berjajar, dilengkapi jalan, awan dan burung yang sedang terbang. Gunung Tumpang Pitu yang berada di Kecamatan Muncar telah ditambang sejak akhir 2016.

BACA JUGA: Silo Lebih Tepat untuk Resapan Air Hujan

Selesai menggambar mereka diminta menjawab pertanyaan 'gunung agar tidak rusak harus diapakan?’. “Jangan ditambang,” jawab Fatih, peserta asal Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember. Kemudian semua peserta mendapatkan hadiah berupa alat tulis, hingga tas punggung baru untuk para juara.

Sementara itu, Humas Temu Warga, Rosdi Bahtiar Martadi mengatakan, pihaknya ingin merawat ingatan anak-anak akan kondisi Gunung Tumpang Pitu yang dulu lestari.

Lomba menggambar gunung merupakan bagian dari refleksi 13 tahun semburan Lumpur Lapindo yang digelar di Banyuwangi. “Media apa yang pas untuk anak-anak? Ya menggambar,” kata Rosdi.

Acara refleksi akan disambung dengan temu warga, saling berbagi cerita konflik terkait tambang di Banyuwangi, Jember, Sidoarjo, dan Bali. Kegiatan ini dibarengi dengan pengajian, buka bersama hingga tarawih berjamaah.

BACA JUGA: BSI Ambil 2.094 Sampel Lingkungan di Banyuwangi

Dalam penyelenggaraannya, Panitia Temu Warga didukung Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jatim, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara).

Rosdi menjelaskan semburan lumpur Lapindo, di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, menunjukkan negara telah kalah pada korporasi tambang. Refleksi 13 tahun kejadian yang bersamaan dengan gempa besar Yogyakarta itu puncaknya akan diselenggarakan di Porong, 29 Mei 2019, nanti.

“Ada korban, calon korban, warga terdampak maupun calon terdampak (dari berbagai daerah) hari ini berkumpul dan saling bercerita,” ujar Rosdi.

Dengan saling mengetahui kondisi masing-masing daerah, pihaknya berharap warga penolak tambang tidak sendiri. Dengan begitu daya juang dan solidaritas antar warga penolak tambang terus terawat.

Baca Juga

loading...