Mengenang Tsunami Pancer Banyuwangi 25 Tahun Silam

Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Minggu, 2 Juni 2019 - 12:28

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Jalan tampak sangat berdebu siang itu, 29 Mei 2019. Bising lalu-lalang kendaraan mewarnai jalan kampung nelayan di Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Hembusan angin dari arah Pantai Mustika itu serasa menampar-nampar muka dan membikin rambut berantakan. Debu pasir terbawa angin dan terhempas di bangku, meja, dan pondokan deretan warung yang telah ditata Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk meramaikan destinasi itu.

Emy Sukarlan (59) duduk sendirian di depan warungnya manatap laut lepas. Beberapa pemuda duduk di pondokan samping warungnya sambil bercengkerama. Ingatannya kembali pada kejadian 25 tahun silam saat pemandangan memilukan didapatinya sepulang melaut.

BACA JUGA: Gempa Guncang Selatan Pulau Jawa

Malam Jumat Pon, 2 Juni 1994, Emy Sukarlan yang saat itu masih berusia 35 tahun bermalam di sebuah pulau kecil berjarak 2 mil laut dari darat. Pagi harinya, bersama tiga orang nelayan lainnya ia meninggalkan pulau itu untuk pulang ke kampungnya.

Sekitar subuh, perahu yang ditumpanginya itu menepi ke pinggir pantai. Ia dan nelayan lainnya bersuka ria membawa 14 keranjang ikan Tuna dan Cakalang setara bobot 1,5 ton.

NELAYAN. Emy Sukarlan (59) warga Dusun Pancer bercerita kenangannya saat terjadi d pantai tersebut 25 tahun lalu. Foto: Ahmad Suudi

Mereka terkejut ketika berada di kampung halaman. Yang mereka dapati, seluruh bangunan rumah tampak rata dengan tanah. “Semua nelayan tidak tahu. Tahu-tahu pulang semua rata, tinggal masjid,” kata Emy.

Tokonya roboh, beruntung istri dan kedua anaknya yang lelap di ruang samping terlindung bangunan yang lebih kuat. Mereka selamat. Ketika berada di tengah laut, dia tak tahu ada bencana tsunami itu.

Dalam bencana tsunami yang terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari itu, tercatat 229 warga meninggal dunia. Emy yakin jumlah korban lebih banyak, yang selain di Pancer juga tersebar di Pantai Pulau Merah, Lampon dan Rajegwesi di Kecamatan Pesanggaran.

BACA JUGA: Sulteng Diguncang Gempa Berpotensi Tsunami

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Suban Wahyudiono mengatakan pesisir selatan Pulau Jawa, termasuk Pancer, memiliki risiko tsunami yang tinggi. Hal itu disampaikannya setelah pelaksanaan pelatihan mitigasi bencana tsunami di Pantai Pancer, Sabtu 5 Januari 2019.

Dari 9 early warning system (EWS) tsunami yang terpasang di Banyuwangi, hanya 2 unit yang masih aktif. Padahal bila tsunami terjadi pada malam hari seperti pada tahun 1994, sulit bagi warga untuk mendeteksi karena laut terlampau gelap.

PERINGATAN. Tugu peringatan bencana tsunami di Dusun Pancer, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Foto: Ahmad Suudi

“Kalau (potensi) bencana tsunami ada 8 kabupaten, semua yang berbatasan dengan laut selatan berisiko terkena. Dari Banyuwangi sampai Pacitan, atau ada 156 desa rawan tsunami,” ujar Suban.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat itu lebih mendorong warga meningkatkan kepekaan diri dibandingkan harus memperbaiki atau membeli baru EWS. Dia menjelaskan EWS hanya alat bantuan, padahal sebenarnya semua orang sudah punya sensor masing-masing, terhadap tanda alam ataupun perilaku ganjil hewan.

“Karena orang-orang tua kita dulu tidak ada EWS tapi mereka paham peka terhadap tanda-tanda alam,” kata Anas.

BACA JUGA: Gempa Tsunami Sulteng 2018 Telan Kerugian Belasan Triliun Rupiah

Selain itu, setelah kejadian bencana tahun 1994 tidak ada warga yang boleh membangun rumah di sebelah selatan jalan Pancer. Namun, kini pesisir itu kembali ditempati pemukiman. Banyak berjajar rumah-rumah warga yang berada di area terlarang itu.

Tugu peringatan bencana yang dikelilingi rumah padahal dilarang, tak lagi menakutkan bagi orang-orang Pancer. Dengan alasan mendekatkan diri pada lokasi pekerjaan, nelayan sulit untuk diajak pindah.

“Saya yakin tidak akan terulang lagi. Umpama terjadi lagi saya yakin di tempat lain. Bencana itu tergantung umatnya,” kata Emy.

Baca Juga

loading...