Rabu, 14 January 2026 06:46 UTC

Risky Aulia saat tampil berpidato Bahasa Jepang di hadapan Presiden Praboo Subianto. Foto: Zulafif
JATIMNET.COM, Probolinggo – Tak banyak yang menyangka, kegemaran menonton anime mampu membawa seorang anak buruh cuci asal Kota Probolinggo tampil percaya diri di hadapan Presiden Republik Indonesia. Berkat ketekunan dan semangat belajarnya, ia berhasil menembus panggung nasional.
Ia adalah Risky Aulia (13), siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Kota Probolinggo, yang mendapat kesempatan berpidato menggunakan bahasa Jepang dalam acara Peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin, 12 Januari 2026.
Risky terpilih sebagai satu dari empat perwakilan siswa Sekolah Rakyat se-Indonesia yang tampil dalam acara tersebut. Keempat siswa tersebut menyampaikan pidato menggunakan empat bahasa asing berbeda, yakni bahasa Inggris, Arab, Mandarin, dan Jepang.
BACA: Lawan Konten Negatif, MWC NU Besuk Probolinggo Gelar Tadabbur Media
Dengan artikulasi jelas dan pengucapan yang fasih, Risky menyampaikan pidatonya di hadapan Presiden Prabowo Subianto serta ratusan tamu undangan. Penampilannya pun langsung mencuri perhatian hadirin.
Risky mengaku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa tampil di acara kenegaraan. Rasa gugup sempat muncul, namun ia mampu menguasai diri hingga pidato berjalan lancar.
"Tidak pernah terbayang bisa berdiri dan pidato langsung di depan Bapak Presiden kemarin,” ujar Risky Aulia saat ditemui di sekolahnya, Rabu, 14 Januari 2026.
Aktivitas keseharian Rizky Aulia di luar rutinitas sekolah. Foto: Dok pribadi
Selain berpidato, Risky juga berkesempatan berbincang langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.
“Setelah acara, saya diajak ngobrol oleh Bapak Presiden. Saya senang sekali, apalagi beliau juga menjanjikan liburan ke luar negeri,” tambahnya dengan wajah sumringah.
Risky merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia dibesarkan oleh sang ibu yang bekerja sebagai buruh cuci, sementara ayahnya sudah lama tidak tinggal bersama keluarga.
BACA: Begini Cerita Korban Banjir Bandang yang Menerjang Lereng Argopuro Probolinggo
Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, Risky tetap menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Ketertarikannya pada bahasa Jepang berawal dari kegemarannya menonton anime.
“Awalnya cuma suka nonton anime. Lama-lama saya penasaran dengan arti katanya, lalu belajar sendiri dari internet dan buku,” tutur Risky.
Di lingkungan sekolah, Risky dikenal sebagai siswa yang rajin dan kerap membantu teman-temannya mempelajari dasar-dasar bahasa Jepang.
BACA: Bripka Agus dan Suyitno Peragakan 15 Adegan Pembunuhan Faradila di Dua Lokasi
Melihat potensi tersebut, Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Kota Probolinggo memberikan dukungan penuh. Sekolah memfasilitasi kursus bahasa Jepang serta pendampingan intensif sebelum Risky tampil di acara kenegaraan.
Kepala Sekolah SR Terintegrasi 7 Kota Probolinggo, Susilowati, menyebut prestasi Risky menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi jika mendapat kesempatan yang tepat.
“Kami melihat bakat Risky sejak awal. Sekolah berkewajiban memfasilitasi dan mendampingi agar potensi itu berkembang maksimal,” kata Susilowati.
Menurutnya, capaian Risky di tingkat nasional menjadi pemicu semangat bagi siswa lainnya.
“Ini menjadi inspirasi bagi siswa kami bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi,” tambahnya.
BACA: Cuaca Buruk di Laut Utara Jatim, Ribuan Nelayan Probolinggo Tak Melaut
Kisah Risky Aulia mencerminkan tujuan utama Sekolah Rakyat, yakni membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Berangkat dari kehidupan sederhana sebagai anak buruh cuci di Kota Probolinggo, Risky membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih melalui kerja keras, dukungan lingkungan, dan kesempatan yang tepat.
Kini, sosok Risky Aulia menjadi inspirasi, tidak hanya bagi teman-temannya di Sekolah Rakyat, tetapi juga bagi generasi muda Indonesia.
