Logo

Nanik S Deyang Mundur, BGN Kembali Hadapi Ujian Kepemimpinan

Pengunduran diri Nanik S Deyang karena alasan kesehatan memunculkan tantangan baru bagi keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis.
Reporter:,Editor:

Rabu, 22 July 2026 05:30 UTC

Nanik S Deyang Mundur, BGN Kembali Hadapi Ujian Kepemimpinan

Nanik S Deyang mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus pamit ke Presiden Prabowo Subianto. Foto: instagram.com/Dirgayuza.

JATIMNET.COM, Jakarta – Pergantian pemimpin di Badan Gizi Nasional (BGN) kembali terjadi saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih berada pada fase konsolidasi.

 

Nanik S Deyang memutuskan mengundurkan diri dari jabatan Kepala BGN setelah sekitar 45 hari memimpin lembaga tersebut. Keputusan itu diambil bukan karena persoalan kebijakan, melainkan untuk menjalani pengobatan penyakit jantung.

 

Informasi pengunduran diri disampaikan pada Rabu, 22 Juli 2026,setelah Nanik berpamitan kepada Presiden Prabowo Subianto. Keputusan tersebut membuat BGN kembali memasuki masa transisi kepemimpinan, padahal lembaga itu memegang peran sentral dalam menjalankan salah satu program prioritas pemerintahan, yakni penyediaan makanan bergizi bagi jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia.

 

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, mengatakan Nanik memilih mengakhiri masa jabatannya agar dapat fokus menjalani perawatan medis.

 

"Hari ini, 22 Juli 2026, Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung. Beliau juga mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional," ujar Dirgayuza di Jakarta melalui akun media sosialnya, Rabu, 22 Juli 2026. 

 

Pengunduran diri tersebut menutup masa kepemimpinan Nanik yang relatif singkat. Ia ditunjuk Presiden Prabowo Subianto pada awal Juni 2026 untuk menggantikan Dadan Hindayana, kemudian dilantik sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026. Dengan demikian, masa kepemimpinannya berlangsung sekitar satu setengah bulan.

 

Meski singkat, penunjukan Nanik saat itu membawa ekspektasi besar. Ia dipercaya memimpin BGN ketika pemerintah tengah memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis setelah dilakukan evaluasi terhadap kepemimpinan sebelumnya.

 

Pemerintah menekankan perlunya peningkatan disiplin pelaksanaan standar operasional, pengawasan kualitas makanan, serta perbaikan manajemen distribusi agar program berjalan lebih efektif.

 

Saat menerima amanah tersebut, Nanik menegaskan bahwa jabatan yang diembannya merupakan tanggung jawab besar.

"Terima kasih banyak atas ucapan selamat dan doanya. Ini amanah dan tanggung jawab yang amat sangat besar serta berat buat saya," kata Nanik di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026, sesaat setelah diumumkan sebagai Kepala BGN.

 

Ia juga menyampaikan arah kerja yang ingin diwujudkan selama memimpin BGN. "Untuk memastikan anak-anak Indonesia dapat gizi terbaik, serta membangkitkan ekonomi rakyat," ujarnya.

 

Selama masa kepemimpinannya yang singkat, belum banyak kebijakan baru yang sempat diimplementasikan secara menyeluruh. Fokus utama BGN masih berada pada penguatan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang telah berjalan di berbagai daerah.

 

Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak, tetapi juga diharapkan menggerakkan ekonomi lokal melalui pelibatan petani, peternak, nelayan, koperasi, dan pelaku usaha pangan.

 

Karena itu, pergantian pimpinan kembali menjadi tantangan tersendiri. Dalam organisasi publik yang mengelola program berskala nasional, kesinambungan kepemimpinan menjadi faktor penting agar proses pengambilan keputusan, koordinasi lintas kementerian, hingga pengawasan di lapangan tidak mengalami perlambatan.

 

Tantangan tersebut semakin besar mengingat MBG merupakan program dengan rantai pasok yang kompleks, melibatkan pengadaan bahan pangan, distribusi, pengawasan mutu, hingga evaluasi pelaksanaan di ribuan titik layanan.

 

Di sisi lain, alasan kesehatan yang melatarbelakangi pengunduran diri Nanik menunjukkan bahwa keberlangsungan sebuah institusi tidak boleh bergantung pada figur semata.

 

Sistem birokrasi yang kuat seharusnya mampu menjaga kesinambungan pelayanan publik meskipun terjadi pergantian pimpinan. Dalam konteks BGN, keberhasilan program akan lebih ditentukan oleh kualitas tata kelola, mekanisme pengawasan, serta koordinasi antarlembaga daripada pergantian individu di pucuk kepemimpinan.

 

Dirgayuza juga menggambarkan Nanik sebagai sosok yang memiliki perhatian terhadap persoalan masyarakat. "Lebih dari satu dekade saya melihat satu hal yang tidak pernah berubah darinya: ia tidak bisa diam ketika melihat rakyat menghadapi ketidakadilan dan kesulitan," ujar Dirgayuza di Jakarta.

 

Ia menambahkan, Nanik pernah mendorong perhatian Presiden terhadap kasus pekerja migran Wilfrida Soik serta mengusulkan program becak listrik bagi pengayuh becak lanjut usia.

 

Pernyataan tersebut menggambarkan latar belakang kepedulian sosial yang melekat pada diri Nanik sebelum maupun selama berada di pemerintahan.

 

Hingga pengumuman pengunduran diri disampaikan, pemerintah belum mengumumkan siapa yang akan mengisi posisi Kepala BGN ataupun apakah akan ditunjuk pelaksana tugas sebelum kepala definitif ditetapkan.

 

Kepastian mengenai kepemimpinan baru akan menjadi perhatian karena menyangkut keberlanjutan salah satu program prioritas nasional yang menyasar jutaan masyarakat.

 

Secara kritis, peristiwa ini juga memperlihatkan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak dapat diukur hanya dari pergantian pimpinan.

 

Publik justru akan menilai sejauh mana kualitas makanan tetap terjaga, distribusi berjalan tepat sasaran, anggaran dikelola secara akuntabel, dan manfaat program benar-benar dirasakan oleh anak-anak serta masyarakat. Pergantian pejabat dapat terjadi sewaktu-waktu, tetapi keberlanjutan pelayanan publik seharusnya tidak ikut terhenti.

 

Pengunduran diri Nanik S Deyang menjadi babak baru bagi Badan Gizi Nasional. Di tengah alasan kesehatan yang patut dihormati sebagai keputusan pribadi, tantangan berikutnya berada di tangan pemerintah untuk memastikan transisi kepemimpinan berlangsung cepat, sehingga Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan dengan kepastian, kualitas, dan akuntabilitas yang menjadi harapan masyarakat.