Logo

Depresi Anak Lebih Tinggi, Deteksi Dini Jadi Sorotan

Data skrining nasional menunjukkan proporsi gejala depresi anak dan remaja melampaui kelompok dewasa dan lansia.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 05 September 2026 03:00 UTC

Depresi Anak Lebih Tinggi, Deteksi Dini Jadi Sorotan

Wamenkes Dante Saksono Harbuwono. Foto: Tangkapan Layar YouTube Kemenko Marinves

JATIMNET.COM, Jakarta – Tingginya temuan gejala depresi pada anak dan remaja menjadi tantangan baru dalam pelayanan kesehatan jiwa Indonesia. Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026 menunjukkan 34.961 anak usia sekolah dan remaja terdeteksi mengalami gejala depresi.

Meski jumlah absolutnya lebih kecil dibandingkan kelompok dewasa, persentasenya justru lebih tinggi sehingga memperkuat kebutuhan deteksi dini hingga tingkat sekolah dan fasilitas kesehatan primer. 

Data tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam temu media di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat, 4 September 2026. 

Dari sekitar 33 juta penduduk yang telah menjalani pemeriksaan melalui CKG, Kementerian Kesehatan menemukan masalah kesehatan jiwa pada berbagai kelompok umur.

Temuan itu penting bagi daerah, termasuk Jawa Timur, karena hasil skrining nasional dapat menjadi dasar memperkuat identifikasi masalah kesehatan mental sebelum berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan penanganan lebih kompleks. 

Pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 34.961 orang atau 1,08 persen terdeteksi mengalami gejala depresi. Selain itu, 33.290 orang atau 1,03 persen menunjukkan gejala kecemasan.

Sementara pada kelompok dewasa dan lansia, terdapat 186.629 orang atau 0,66 persen dengan gejala depresi dan 157.434 orang atau 0,56 persen mengalami kecemasan. 

Perbandingan persentase tersebut menjadi bagian penting dalam membaca data. Jumlah kasus yang ditemukan pada kelompok dewasa memang jauh lebih besar karena populasi yang diperiksa juga berbeda.

Namun, proporsi temuan pada anak dan remaja menunjukkan risiko gangguan kesehatan jiwa sekitar 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia, menurut penjelasan Dante. 

“Di cek kesehatan gratis per Juli 2026 untuk remaja dan anak sekolah, itu kita temukan kira-kira 34 ribuan sampai 35 ribu atau 1,08 persen anak-anak dengan gangguan jiwa,” kata Dante. 

Temuan melalui CKG perlu dipahami sebagai hasil deteksi atau skrining, bukan otomatis berarti seluruh peserta telah memperoleh diagnosis klinis depresi.

Kementerian Kesehatan menjelaskan fitur pemeriksaan kesehatan mental sebagai kumpulan pertanyaan untuk deteksi dini kondisi kesehatan mental secara umum. Sementara diagnosis depresi memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh tenaga profesional seperti dokter atau psikiater. 

Pembedaan tersebut penting agar angka hasil pemeriksaan tidak dibaca sebagai jumlah keseluruhan penderita depresi di Indonesia. Data CKG menggambarkan masalah yang ditemukan di antara masyarakat yang telah mengikuti pemeriksaan hingga periode tersebut.

Pada saat yang sama, angka itu memberikan indikasi mengenai besarnya kebutuhan tindak lanjut setelah seseorang teridentifikasi memiliki gejala atau risiko gangguan kesehatan jiwa.

Kementerian Kesehatan mendefinisikan depresi sebagai kondisi kesehatan mental yang antara lain ditandai perasaan sedih berkepanjangan dan hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya dinikmati.

Kondisi ini juga dapat disertai penurunan energi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi hingga munculnya pikiran mengenai kematian atau bunuh diri. 

Dante juga membedakan karakter umum depresi dan kecemasan. Menurut dia, depresi dapat ditandai penurunan suasana hati, tubuh terasa lemas, kecenderungan tidur, serta munculnya perasaan tidak berharga.

Sementara gangguan kecemasan antara lain berkaitan dengan kekhawatiran berlebihan terhadap sesuatu yang diperkirakan akan terjadi. 

Persoalan pada kelompok usia muda semakin relevan ketika dibandingkan dengan perkembangan indikator lain. Data Global School-based Student Health Survey yang dipaparkan Dante menunjukkan persentase pelajar usia 11–17 tahun yang memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan mental anak membutuhkan perhatian bukan hanya setelah muncul kondisi berat, tetapi sejak gejala awal ditemukan. 

“Yang berbahaya bukan hanya gangguannya. Tetapi ketika kita tidak mengenalinya,” ujar Dante. 

Bagi Jawa Timur, data nasional tersebut dapat menjadi konteks penting bagi penguatan layanan kesehatan mental yang dekat dengan anak dan keluarga.

Sekolah, puskesmas, rumah sakit, orang tua serta pemerintah daerah berada pada posisi strategis untuk memastikan hasil skrining yang mengindikasikan risiko tidak berhenti sebagai angka, melainkan dapat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan medis dan psikologis.

Tantangannya bukan sekadar memperluas pemeriksaan. Sistem kesehatan juga perlu memastikan adanya jalur tindak lanjut setelah deteksi, mulai dari edukasi keluarga, penilaian profesional hingga rujukan ketika diperlukan.

Kementerian Kesehatan sendiri menekankan bahwa mencari penanganan lebih dini ketika gejala muncul merupakan salah satu langkah untuk mengurangi risiko dampak depresi yang lebih serius. 

Penguatan basis data kesehatan nasional juga berpotensi membantu kesinambungan pelayanan. SATUSEHAT dikembangkan sebagai ekosistem data kesehatan nasional, sementara pada September 2026 Kementerian Kesehatan meluncurkan SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik untuk menghubungkan riwayat kesehatan pasien antarfasilitas pelayanan kesehatan sesuai kewenangan dan persetujuan pasien.

Integrasi semacam ini membuka ruang bagi pelayanan yang lebih berkesinambungan ketika masyarakat berpindah fasilitas kesehatan. 
Data CKG hingga Juli 2026 pada akhirnya memperlihatkan dua persoalan sekaligus: jumlah temuan gangguan kesehatan mental pada penduduk dewasa cukup besar, sementara proporsi gejala pada anak dan remaja lebih tinggi.

Perkembangan berikutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah pusat dan daerah menghubungkan skrining dengan pemeriksaan lanjutan, layanan kesehatan jiwa, serta intervensi dini bagi kelompok yang membutuhkan.