Selasa, 13 January 2026 04:00 UTC

Sejumlah perahu nelayan Probolinggo bersandar di pelabuhan karena cuaca buruk sedang berlangsung. Foto/Zulafif.
JATIMNET.COM, Probolinggo – Ribuan nelayan di Kota Probolinggo memilih tidak melaut karena dampak cuaca buruk yang melanda Laut Utara Jawa Timur sejak beberapa hari terakhir
Berdasarkan rilis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda Sidoarjo cuaca buruk ini berlangsung mulai 11 hingga 20 Januari 2026.
Angin kencang dan gelombang tinggi yang berlangsung tidak hanya berdampak di daratan, tetapi juga mengganggu aktivitas pelayaran dan perikanan.
Di Pelabuhan Tanjung Tembaga dan Pelabuhan Perikanan Mayangan, terlihat kapal nelayan berbagai ukuran mulai dari perahu kecil, kapal jonggrang, hingga kapal layar motor antar pulau berjajar rapi di dermaga.
Alih-alih mencari ikan, para nelayan mengisi waktu dengan memperbaiki jaring, mengecat lambung kapal, dan memeriksa mesin. Aktivitas tersebut dilakukan sembari menunggu cuaca kembali bersahabat.
BACA: Cuaca Ekstrem Berlangsung, Wali Kota Probolinggo Ajak Warga Mencegah Bencana
Buhasan, nelayan asal Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo, mengatakan kondisi laut saat ini terlalu berisiko untuk dilalui. Maka, ia dan nelayan lainnya takut melaut.
“Sudah empat hari saya tidak melaut. Ombaknya cukup tinggi, sekitar satu meter, dan anginnya kencang. Kalau dipaksakan, sangat berbahaya,” katanya, Selasa, 13 Januari 2026.
Menurutnya, keputusan untuk tidak melaut memang berat karena berdampak langsung pada penghasilan. Namun, keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama.
“Kalau cuaca seperti ini, mau bagaimana lagi. Lebih baik kapal aman dan kami selamat,” ujarnya.
Situasi cuaca buruk ini juga mendapat perhatian dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Probolinggo. Melalui surat edaran, KSOP mengimbau operator kapal dan nelayan untuk menunda keberangkatan hingga kondisi laut membaik.
BACA: Musim Hujan, Wali Kota Probolinggo Imbau Warga Siaga Bencana Hidrometeorologi
Petugas Keselamatan Berlayar dan Patroli KSOP Probolinggo, Sudarso menegaskan bahwa imbauan tersebut dikeluarkan demi keselamatan bersama.
“Kami minta seluruh kapal menunda pelayaran selama cuaca buruk. Jika memang harus berlayar, keselamatan wajib diutamakan, termasuk penggunaan jaket pelampung dan kelengkapan kapal,” tegas Sudarso.
Himbauan ini akan terus diberlakukan sampai BMKG menyatakan kondisi cuaca kembali normal. Berdasarkan data kelautan setempat, Kota Probolinggo memiliki sekitar 4.000 nelayan dengan jumlah kapal lebih dari 1.400 unit.
Para nelayan hanya bisa berharap, cuaca segera membaik agar aktivitas melaut kembali berjalan dan roda perekonomian pesisir kembali berputar.
