Dampak 4 Tahun Dana Desa, Kurangi Ribuan Desa Tertinggal

Ahmad Suudi

Kamis, 7 Februari 2019 - 07:35

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Sebanyak 6.518 desa tertinggal telah terangkat menjadi desa berkembang setelah terlaksananya progam Dana Desa 4 tahun terakhir ini. Di samping jumlah desa tertinggal turun, jumlah desa berkembang dan desa maju atau desa mandiri terus bertambah dari tahun ke tahun.

Asisten Staf Khusus Presiden RI Bidang Ekonomi Fajar B Hirawan mengatakan capaian yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) itu berkat pelimpahan otoritas perencanaan dan pembangunan desa pada pemerintah masing-masing desa. Sehingga pemerintah desa bisa mengalokasikan dana yang diperolah pada program-program untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat.

"Walaupun sebagian besar alokasi masih untuk pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana. Tapi setelah infrastruktur bagus, nanti kita fokus ke pembangunan manusianya," kata Fajar setelah mengisi dialog publik yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di Banyuwangi, Rabu 6 Februari 2019.

BACA JUGA: Jokowi: Dana Desa untuk Pemberdayaan Ekonomi dan Inovasi Baru

Ia memaparkan sejumlah data tahun 2014 sebelum Dana Desa dilaksanakan, dari 73.670 desa di Indonesia, 19.750 desa atau 26,81 persen berstatus tertinggal, 51.026 atau 69.26 persen berkembang, dan 2.894 atau 3,93 persen sudah mandiri. Kemudian tahun 2018 ada 13.232 desa atau 17,96 persen desa tertinggal, 54.879 atau 74.49 persen berkembang, dan 5.559 atau 7,55 persen yang sudah mandiri.

Alokasi anggaran Dana Desa dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Awalnya di tahun 2015 dianggarkan Rp 20,67 triliun, 2016 Rp 46,98 triliun, 2017 dan 2018 masing-masing Rp 60 triliun, dan tahun ini dianggarkan Rp 73 triliun.

BACA JUGA: Kepolisian Banyak Tangani Kasus Korupsi Dana Desa

Fajar mengakui, besarnya alokasi anggaran Dana Desa yang diberikan pemerintah pusat bukan menjadi patokan berhasilnya program tersebut. Dia mengatakan setidaknya terlihat niat baik pemerintah pusat untuk memberikan pemerataan keadilan ekonomi di tingkat pedesaan, bukan hanya masyarakat yang ada di kota.

Dikutip dari data Kementerian Pedesaan, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PPDTT), selama 4 tahun Dana Desa meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan menunjang aktivitas ekonomi mereka.

Meningkatkan kualitas hidup dengan membangun 192.974 meter penahan tanah, 959.569 unit sarana air bersih, 240.587 unit tempat mandi cuci kakus (MCK), 9.692 unit Polindes, 29.557.922 meter drainase, 50.854 kegiatan pendidikan usia dini (Paud), 24.820 unit Posyandu, dan 45.169 unit sumur.

BACA JUGA: Soekarwo Klaim Semua Desa di Jatim Kian Maju

Sementara dalam menunjang aktivitas ekonomi, telah dibangun 191.600 kilometer jalan desa, 1.140.378 meter jembatan, 8.983 pasar desa, 37.830 kegiatan Bumdes, 5.731 unit jembatan perahu, 4.175 unit embung, 68.931 unit irigasi, dan 19.526 unit sarana olahraga.

Fajar mengakui pertumbuhan ekonomi belum mencapai 7 persen seperti yang dijanjikan, melainkan masih 5,17 persen. Tapi menurutnya 5 tahun terkahir pertumbuhan ekonomi cenderung stabil dan memperlihatkan tren positif.

BACA JUGA: Anggaran Dana Desa Tahun 2019 Rp 70 Triliun

"Tidak hanya kuantitas, pertumbuhan kita juga berkualitas karena mampu mengobati penyakit ekonomi yang umum," katanya.

Dia juga menolak bila dikatakan 1 persen orang Indonesia menguasai 90 persen kekayaan sebagai bentuk ketimpangan ekonomi bangsa. Data dari Credit Suisse yang ditampilkannya memperlihatkan pada tahun 2018, 1 persen penduduk Indonesia menguasai 46,6 persen rasio kekayaan nasional, lebih rendah dari 2015 yang mencapai 53,5 persen.

"Saya kira pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin baik. Kita memiliki pertumbuhan ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara," kata Fajar.

Baca Juga

loading...