Alam Kandung Pesona Keindahan Tulungagung

Khoirotul Lathifiyah
Khoirotul Lathifiyah

Minggu, 10 Maret 2019 - 07:34

JATIMNET.COM, Surabaya – JawaTimur menyimpan potensi keindahan alam yang tak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Salah satunya air terjun, yang banyak dijumpai di wilayah selatan  provinsi itu.

Desember 2018 lalu, saya menjadikan dua air terjun di Kabupaten Tulungagung sebagai pilihan berwisata mengisir liburan yang singkat. Air terjun Alam Kandung dan Ranu Kumbolo.

Saya mengawali perjalanan dari Surabaya dengan mengendarai sepeda motor. Butuh waktu 3-4 jam untuk sampai Tulungagung.

Air terjun Alam Kandung terletak di Desa Tanen Kecamatan Rejotangan. Dari pusat kota Tulungagung, jaraknya berkisar 21 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu 30-40 menit.

Akses jalan menuju lokasi cukup mudah dan aman. Jalan beraspal membuat lancar perjalanan. Sepanjang jalan pun mata kita terhibur keindahan panorama. Hamparan sawah yang hijau dan rindang pepohonan serasa menyejukkan suasana.

Lokasi air terjun ada di dataran yang lebih tinggi. Jalan berkelok dan menanjak. Tetaplah berhati-hati saat berkendara, jangan terlena keindahan alam semata.

Saya bergegas, berharap sampai di lokasi sebelum sinar matahari garang menyengat kulit.

Sekitar pukul 09.00 WIB, saya tiba. Seorang petugas loket menghampiri, menawarkan tiket seharga Rp 10 ribu per orang. Setelah membayar, saya memacu motor ke tempat parkir.

Saya sengaja mencari lokasi tinggi untuk memarkir kendaraan. Agar tak terlalu jauh berjalan kaki ke air terjun. Oh ya, untuk biaya parkir motor sendiri dipungut Rp 5 ribu per motor.

Air terjun masih sepi saat saya tiba. Belum banyak pengunjung datang.

Air terus Alam Kandung berundak-undak. Tiap undakan menawarkan pesona keindahan tersendiri. Banyak spot menarik yang instagramable di sana.

BACA JUGA: Murah Meriah Berwisata ke Kota Tua Surabaya

Agar bisa mendapatkan spot foto yang menarik, saya langsung menuju undakan teratas. Ketinggian air terjunnya mencapai 15 meter. Sedangkan kedalaman airnya sampai 4-6 meter.

Di sini, pengunjung tak bisa sembarangan bermain air dan mandi. Hanya di bawah pengawasan petugas, mereka diperbolehkan menceburkan diri ke air. Kalau tak ada, pengunjung hanya diperkenankan mencapai batas tertentu, yang kedalamannya satu meter. Apalagi dekat-dekat di bawah air terjunnya.

Selanjutnya, ada undakan kedua. Ketinggian air terjun ini hanya satu meter. Sementara kedalaman airnya dua meter.

Di tempat ini, banyak pohon dengan cabang menjulang. Dari atas ketinggian pohon, kita bisa melihat langsung air terjun ketiga di bawah. Cantik tapi tetaplah berhati-hati saat memanjat.

Terakhir, undakan ketiga. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar lima meter dan kedalaman tiga meter. Spot foto di sini juga tak kalah indah. Apalagi banyak tempat untuk duduk santai sembari menikmati panorama air terjun.

BACA JUGA: Mengenal "Gereja Merah" di Kota Probolinggo

Jalan turunan dari air terjun kedua pun ditumbuhi pepohonan rindang. Ada sebongkah batu besar di sana yang bisa digunakan untuk sekadar duduk, berfoto, bahkan bermeditasi.

Puas mengeksplorasi keindahan Alam Kandung, kini waktunya beranjak menuju air terjun Ranu Kumbolo. Nama itu terinspirasi oleh danau di lereng Gunung Semeru, Ranu Kumbolo.

Seorang penjaga yang saya temui menceritakan, air terjun Ranu Kumbolo Tulungagung ini airnya hijau dan di sekitarnya ditumbuhi pinus. Itulah yang membuat penamaannya sama dengan danau Ranu Kumbolo di Semeru.

Air terjun Ranu Kumbolo terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo. Dari pusat kota jaraknya sekitar 30 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu 40-50 menit.

Pada dasarnya, air terjun ini adalah aliran muara Waduk Wonorejo. Bendungan itu dibangun untuk mengantisipasi banjir di Kabupaten Tulungagung.

Tarif masuk air terjun terbagi dua. Pada hari biasa, pengunjung dipungut Rp 5 ribu per orang dan Rp 8 ribu per orang untuk hari libur. Biaya itu belum termasuk asuransi Rp 500.

Agar pengunjung betah menikmati pesona Ranu Kumbolo, pengelola menawarkan sejumlah perangkat sewaan. Semisal hammock seharga Rp 5 ribu, sepeda ontel Rp 15 ribu per dua jam, dan flying fox Rp 15 ribu per orang. Jika tak suka dengan tawaran itu, Anda masih bisa bersantai di gazebo.

Baca Juga

loading...