Logo

13 Sensor Seismograf akan Disebar di Sepanjang Jalur Sesar Kendeng

Reporter:,Editor:

Senin, 02 September 2019 09:18 UTC

13 Sensor Seismograf akan Disebar di Sepanjang Jalur Sesar Kendeng

MENINJAU: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa Saat meninjau BMKG Kelas 1 Juanda, Senin 2 September 2019. Foto: Baehaqi.

JATIMNET.COM, Surabaya - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tahun ini menambah sensor kegempaan, atau seismograf. Dari yang dimiliki 15 titik, tahun ini ditambah menjadi 13 titik.

"Penambahan sensor gempa ini karena menurut penelitian ada gejala gempa bumi di Jatim," ujar Kepala BMKG Kelas 1 Juanda, Bambang Hargiyono usai menerima kunjungan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di kantor Jalan Juanda, Senin 2 September 2019.

Beberapa saat lalu, hasil penelitian Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) menyebut, ada bukti pergerakan Sesar Kendeng, sehingga menyebabkan pergeseran lapisan tanah sampai dua meteran.

BMKG Juanda berharap dengan penambahan alat tersebut bisa mengantisipasi lebih baik. "Mungkin untuk antisipasi, untuk analisis itu supaya lebih baik, dan datanya lebih akurat," lanjut Bambang.

BACA JUGA: BMKG Prediksi Musim Hujan di Jatim Mulai November

Kasie Observasi dan Informasi Stasiun BMKG Tretes, Kabupaten Pasuruan, Suwarto menambahkan, 13 titik sensor seismograf itu akan disebar di sepanjang jalur Sesar Kendeng. Diantaranya Bojonegoro, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, Lumajang, Jember, Kediri, dan Bangkalan.

"Jadi ketika nanti ada aktivitas kegempaan, alat ini jadi sensitif lebih tepat lagi untuk analisa," kata Suwarto.

Sesar Kendeng, dijelaskannya, membentang mulai Rembang, Jawa Tengah hingga Surabaya. Termasuk dua Sesar Waru dan Sesar Surabaya yang sempat diteliti ITS beberapa saat lalu.

Suwarto memastikan, meski Surabaya tidak memiliki pusat penelitian aktivitas kegempaan, namun telah ada di Jombang dan Madiun. Dari pantauan sementara, belum terdeteksi adanya aktivitas kegempaan.

BACA JUGA: Ini Penjelasan BMKG Fenomena Segitiga Masalembu

Sementara Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kesiapsiagaan terhadap bencana seperti gempa perlu ditindaklanjuti. Bukan untuk memberikan rasa khawatir kepada masyarakat.

Melainkan untuk bisa siap siaga. Terutama bagi para pemangku kebijakan dalam menentukan langkah antisipasi ke depan.

"Penelitian dari Universitas Gajah Mada (UGM) memang ada dorongan tanah dari bawah yang teridentifikasi. Ini untuk warning kita bersama bisa siap siaga," kata Khofifah.