Uni Eropa Sepakati Aturan Larangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Nani Mashita

Kamis, 28 Maret 2019 - 18:05

JATIMNET.COM, Surabaya – Parlemen Uni Eropa menyepakati aturan larangan penggunaan plastik sekali pakai seperti sedotan, sendok, garpu, piring atau cotton bud (kapas pembersih telinga). 

Draf itu sudah disetujui menjadi undang-undang dan mulai berlaku pada 2021 mendatang dalam sebuah voting yang dilakukan Rabu, 27 Maret 2019. 

"Hari ini, kami telah mengambil langkah penting untuk mengurangi pencemaran sampah dan plastik di lautan dan lautan kami," kata Wakil Presiden Komisi Eropa Frans Timmermans dilansir dari Aljazeera.com, Kamis 28 Maret 2019.

BACA JUGA: Paus Mati Keracunan 40 Kilogram Plastik di Filipina

Kesepakatan diambil setelah 560 legislator memilih mendukung kebijakan ini, 35 menentang dan 28 abstain. Aturan ini menargetkan 10 plastik sekali pakai yang populer di Uni Eropa. Mereka termasuk piring, tongkat balon, wadah makanan dan minuman yang terbuat dari polystyrene, cotton bud, dan stirrers (pengaduk) kopi.

Frans Timmermans mengatakan Eropa bukan sumber polusi plastik terburuk, tetapi langkah perintis itu bisa menjadi contoh bagi dunia. "Negara-negara Asia sangat tertarik dengan apa yang kami lakukan. Negara-negara Amerika Latin juga," katanya dikutip dari Afp.com. 

Parlemen UE juga mendorong negara-negara anggota untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dan memperkenalkan aturan pelabelan yang lebih ketat. Undang-undang menetapkan target bahwa 90 persen botol plastik akan dikumpulkan untuk didaur ulang pada 2029 dan selanjutnya botol diproduksi dengan 25 persen bahan daur ulang pada 2025, 30 persen pada 2030.

BACA JUGA: Janji Provinsi di Cina Pada Plastik Sekali Pakai

Parlemen juga menyetujui meningkatkan sanksi yang lebih besar bagi pencemar lingkungan, khususnya pabrik rokok wajib ikut dalam daur ulang filter.

Menurut Komisi UE, produk-produk yang dilarang oleh undang-undang tersebut mewakili 70 persen dari limbah yang mengalir ke lautan dunia, yang menjadi ancaman bagi satwa liar dan perikanan.

Sampah laut menjadi sorotan karena 85 persennya adalah plastik. Kekhawatiran makin berkembang dengan ditemukannya paus mati dengan plastik di perut mereka.

Aturan ini disambut sekaligus dikritik oleh kelompok pecinta lingkungan. UE mendaur ulang hanya seperempat dari 25 juta ton limbah plastik yang dihasilkannya setiap tahun.

BACA JUGA: Kemenperin Imbau Pemda Tak Larang Warganya Gunakan Plastik

Grup lobi EuroCommerce, yang anggotanya termasuk Tesco, Lidl, Carrefour, dan Metro, mengatakan pemerintah juga perlu melakukan bagian mereka untuk membantu membuat daur ulang menjadi sukses.

"Tanpa infrastruktur pengelolaan limbah yang tepat dan fasilitas daur ulang yang memadai kami tidak akan mencapai tujuan dari aturan ini," kata Direktur Jenderal EuroCommerce, Christian Verschueren.

Kelompok pecinta lingkungan Greenpeace menyambut larangan itu tetapi mengkritik kurangnya target bagi negara-negara UE untuk mengelola sampah plastiknya. 

Di Indonesia, sebuah survei di 2016 yang dilakukan oleh Divers Clean Action, organisasi non pemerintah di bidang sampah laut, menyebut ada 93.244.847 batang sampah sedotan tiap hari di Indonesia. Jika dijajar panjangnya mencapai 16.324 kilometer, atau setara jarak dari Jakarta ke Kota Meksiko.

Baca Juga

loading...