Logo

Tips Berkendara Aman di Tengah Ramainya Acara Agustusan

Jalan yang biasa dilewati setiap hari bisa berubah ketika panggung, lomba, warga, dan kendaraan bertemu dalam ruang yang sama.
Reporter:,Editor:

Jumat, 07 August 2026 08:00 UTC

Tips Berkendara Aman di Tengah Ramainya Acara Agustusan

Ilustrasi: Tetap aman di jalan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Berkendara aman saat Agustusan membutuhkan sedikit penyesuaian kebiasaan. Bukan karena seluruh jalan mendadak berbahaya, tetapi aktivitas di sekitar jalan memang berubah menjelang perayaan 17 Agustus.

Di Surabaya, perubahan itu mudah dikenali. Gang dihiasi bendera, warga menyiapkan panggung, anak-anak berlatih lomba, pedagang muncul di sekitar keramaian. Jalan lingkungan yang biasanya hanya menjadi jalur kendaraan bisa berubah menjadi ruang bersama.

Pengemudi yang hafal jalan sekalipun perlu membaca ulang situasinya. Anak kecil bisa menyeberang, motor keluar dari gang, sementara kendaraan depan mengerem karena ada kegiatan warga.

Persoalannya cukup serius bila ditempatkan dalam gambaran yang lebih luas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kecelakaan lalu lintas merenggut sekitar 1,16 juta jiwa pada 2025. Sebanyak 92 persen kematian di jalan terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, meski kelompok negara tersebut memiliki sekitar 60 persen kendaraan dunia. 

Jalan yang lebih ramai tidak selalu membutuhkan perjalanan yang lebih cepat. Kadang justru sebaliknya.

 

Kecepatan Sedikit Berbeda, Risikonya Bisa Berubah

Ada godaan untuk segera menambah gas ketika menemukan beberapa puluh meter jalan kosong setelah terjebak kepadatan. Di kawasan perkotaan, keuntungan waktunya sering sangat kecil.

Risikonya berbeda.

WHO menyebut kenaikan 1 persen pada kecepatan rata-rata berkaitan dengan peningkatan sekitar 4 persen risiko kecelakaan fatal dan 3 persen risiko kecelakaan serius. Risiko kematian pejalan kaki yang tertabrak bagian depan mobil juga meningkat sekitar 4,5 kali lipat ketika kecepatan naik dari 50 km/jam menjadi 65 km/jam. 

Perbedaan 15 km/jam mungkin terdengar kecil di balik kemudi. Bagi seseorang yang tiba-tiba menyeberang, tambahan kecepatan tersebut mempunyai konsekuensi jauh lebih besar.

Konteks ini cocok dengan jalan lingkungan ketika Agustusan. Kerumunan membuat ruang pandang pengemudi menyempit. Mobil parkir, tenda, umbul-umbul, pedagang, atau orang yang berdiri di pinggir jalan dapat menutupi keberadaan anak kecil dan kendaraan lain.

Tidak ada alasan untuk mempertahankan kecepatan perjalanan hari biasa ketika lingkungan jalannya sudah berbeda.

 

Sisakan Ruang, Jangan Mengejar Bumper Depan

Surabaya punya lalu lintas yang dinamis. Di ruas ramai, jarak kosong di depan mobil kadang terasa seperti ruang yang harus segera ditutup sebelum kendaraan lain masuk.

Kebiasaan tersebut membuat pengemudi kehilangan cadangan waktu untuk bereaksi. Jarak aman memberi kesempatan untuk melihat apa yang sedang terjadi di depan kendaraan lain. Ketika mobil pertama mengerem mendadak karena ada orang menyeberang, kendaraan di belakang masih memiliki ruang untuk memperlambat laju secara terkendali.

Prinsip yang sama berlaku saat mengikuti sepeda motor. Pengendara motor merupakan kelompok yang sangat rentan. Data terbaru WHO menyebut jumlah sepeda motor di dunia meningkat lebih dari tiga kali lipat sepanjang 2011–2025. Pengendara motor kini menyumbang hampir sepertiga kematian lalu lintas global. 

Mereka juga bisa melakukan manuver yang sulit diprediksi ketika jalan menyempit. Ada pengendara yang bergeser menghindari lubang, kendaraan parkir, orang berjalan, atau dekorasi yang terlalu dekat dengan badan jalan.

Memberikan ruang beberapa meter tambahan mungkin terasa sepele. Dari kursi pengemudi, ruang itulah yang membeli waktu.

 

Ponsel Bisa Menunggu Sampai Mobil Berhenti

Notifikasi grup warga pada musim Agustusan bisa sangat aktif. Ada perubahan jadwal lomba, lokasi kumpul, pembagian konsumsi, sampai kabar jalan lingkungan yang ditutup sementara. Informasinya berguna. Membacanya sambil mengemudi tidak demikian.

WHO memasukkan distraksi, termasuk penggunaan telepon seluler saat berkendara, sebagai salah satu faktor risiko keselamatan jalan. Pada Juli 2026, WHO bahkan membentuk kelompok teknis global yang salah satu fokusnya adalah penyusunan panduan mengenai distracted driving, termasuk penggunaan ponsel saat mengemudi. 

Gangguan tidak selalu berbentuk mengetik pesan panjang. Membaca notifikasi beberapa detik pun mengalihkan mata dari jalan.

Dalam lingkungan yang ramai, beberapa detik tersebut dapat bertepatan dengan banyak hal: bola menggelinding ke jalan, anak mengejarnya, kendaraan depan berhenti, atau sepeda motor masuk dari sisi kiri.

Jika informasi benar-benar perlu diperiksa, berhenti di lokasi aman. Untuk navigasi, atur tujuan sebelum bergerak dan gunakan panduan suara jika tersedia.

 

Area Lomba Perlu Diperlakukan seperti Zona Khusus

Ada pemandangan khas Surabaya menjelang pertengahan Agustus. Kursi plastik mulai tersusun di pinggir gang. Pengeras suara muncul. Tali rafia membatasi area permainan. Di sudut lain, warga sibuk memasang dekorasi.

Pengemudi sebaiknya membaca tanda-tanda tersebut sebelum benar-benar sampai di tengah keramaian.

Kurangi kecepatan lebih awal. Jangan menunggu panitia melambaikan tangan tepat di depan kendaraan. Bila jalan terlihat terlalu sempit atau kegiatan sedang berlangsung, memilih jalur alternatif sering lebih praktis daripada memaksakan lewat.

Perhatian terbesar layak diberikan kepada anak-anak dan pejalan kaki. Secara global, WHO mencatat lebih dari separuh kematian akibat kecelakaan lalu lintas terjadi pada pengguna jalan rentan, termasuk pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara motor. Kecelakaan jalan juga masih menjadi penyebab kematian utama pada kelompok usia 5–29 tahun. 

Keramaian Agustusan mempertemukan kelompok-kelompok tersebut dalam ruang yang sama.  Klakson pun sebaiknya digunakan seperlunya. Membunyikannya panjang di tengah lomba anak-anak mungkin membuat orang mengetahui keberadaan kendaraan, tetapi juga dapat mengejutkan orang yang sedang berada sangat dekat dengan mobil.

 

Sabuk Pengaman Tetap Dipakai untuk Perjalanan Dekat

Kalimat “cuma dekat” sering menjadi alasan melonggarkan kebiasaan keselamatan. Padahal jarak tujuan tidak menentukan apakah kecelakaan akan terjadi. WHO mencatat penggunaan sabuk keselamatan dapat menurunkan risiko kematian penumpang kendaraan hingga 50 persen. 

Jadi, perjalanan dua kilometer menuju rumah saudara tetap layak dimulai dengan sabuk terpasang. Anak juga perlu menggunakan sistem perlindungan sesuai usia, ukuran tubuh, serta ketentuan keselamatan yang berlaku. Memangku anak di kursi depan bukan pengganti perlindungan yang dirancang untuk penumpang kecil.

Kebiasaan sederhana semacam ini justru paling mudah diterapkan sebelum kendaraan bergerak. Setelah mobil masuk ke tengah lalu lintas, perhatian pengemudi seharusnya sudah berada di jalan.

 

Agustusan Mengubah Ritme Jalan Surabaya

Keselamatan lalu lintas kini semakin dipahami sebagai persoalan sistem, bukan sebatas kemampuan individu mengendalikan kendaraan. WHO mendorong pendekatan safe system yang mencakup jalan aman, kecepatan aman, kendaraan aman, serta pengguna jalan yang aman. Target globalnya adalah memangkas kematian dan cedera akibat kecelakaan jalan sedikitnya 50 persen pada 2030 dibandingkan tingkat 2021. 

Bagi pengendara di Surabaya, gagasan besar itu bisa diterjemahkan sangat sederhana selama Agustus. Tidak perlu berebut celah ketika jalan sedang dipakai warga. Kurangi kecepatan sebelum memasuki keramaian, simpan ponsel, beri ruang bagi motor dan pejalan kaki, serta terima kenyataan bahwa perjalanan mungkin bertambah beberapa menit.

Menjelang malam, ketika lampu panggung mulai menyala dan warga semakin banyak keluar rumah, jalan kampung memang tidak lagi berfungsi seperti hari biasa.

Berkendara aman saat Agustusan berarti mengikuti perubahan ritme tersebut. Tiba lima menit lebih lambat jauh lebih mudah diterima daripada mengambil risiko hanya untuk melewati satu gang lebih cepat.