Selasa, 22 September 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Nyaman di Atas Motor. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Posisi berkendara motor ikut menentukan kenyamanan ketika seseorang menghabiskan waktu di jalan setiap hari. Duduk terlalu membungkuk, menggenggam setang terlalu kuat, atau membiarkan bahu terus menegang dapat membuat tubuh lebih cepat terasa lelah.
Persoalan ini relevan karena sepeda motor mendominasi kendaraan bermotor di Indonesia. Data BPS mencatat 132.433.679 sepeda motor pada 2023 dari total sekitar 157,08 juta kendaraan bermotor. Jumlah mobil penumpang pada periode yang sama sekitar 18,29 juta unit.
Artinya, kenyamanan ergonomis bukan hanya persoalan perjalanan jarak jauh. Perjalanan pendek yang dilakukan berulang setiap hari juga membuat tubuh berada dalam posisi berkendara yang sama berkali-kali.
Posisi Berkendara Motor Tidak Perlu Terlalu Kaku
Postur yang baik bukan berarti punggung harus dibuat tegak dan kaku sepanjang perjalanan. Tubuh justru perlu berada pada posisi natural sehingga pengendara tetap leluasa mengontrol kendaraan.
Bahu sebaiknya rileks dan siku tidak terkunci lurus. Tangan memegang setang secara mantap tanpa menggenggam berlebihan, sementara kaki berada pada tempat yang memang disediakan kendaraan.
Posisi tubuh juga perlu disesuaikan dengan desain motor. Skuter, motor bebek, dan motor sport mempunyai konfigurasi jok, setang, serta pijakan kaki berbeda sehingga tidak ada satu postur yang identik untuk semua kendaraan.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa posisi duduk dalam waktu lama dapat membuat otot punggung bekerja menahan beban tubuh bagian atas. Posisi statis yang berkepanjangan juga dapat membuat otot pinggang lebih mudah mengalami kelelahan.
Konteks tersebut tidak khusus membahas sepeda motor. Namun, prinsip menghindari posisi duduk yang terlalu statis tetap relevan bagi pengendara yang menempuh perjalanan cukup lama.
Bahu dan Tangan yang Tegang Membuat Tubuh Cepat Lelah
Kemacetan sering membuat pengendara tanpa sadar menaikkan bahu atau mencengkeram setang lebih kuat. Ketegangan tersebut dapat bertahan sampai perjalanan selesai.
Padahal, tangan membutuhkan ruang untuk mengendalikan gas, rem, dan arah kendaraan. Posisi siku yang sedikit lentur membantu tubuh tetap fleksibel ketika motor melewati permukaan jalan yang tidak rata.
Perhatikan pula pergelangan tangan. Posisi yang terasa janggal selama perjalanan sebaiknya tidak terus dipertahankan hanya karena sudah menjadi kebiasaan.
Keluhan juga dapat muncul akibat kombinasi banyak faktor. Kementerian Kesehatan mencatat nyeri punggung bawah dapat berkaitan dengan kekakuan otot, cedera, gerakan berlebihan, maupun aktivitas mengangkat beban berat. Keluhan tertentu bahkan dapat terasa ketika duduk atau berjalan.
Karena penyebab nyeri beragam, rasa sakit yang menetap, memburuk, atau mengganggu aktivitas sebaiknya tidak dianggap otomatis berasal dari posisi berkendara. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan bila keluhan terus berlangsung.
Perjalanan Lama Membutuhkan Jeda
Postur yang nyaman tidak membuat tubuh kebal terhadap kelelahan. Pengendara tetap membutuhkan istirahat, terutama ketika perjalanan berlangsung lama atau kondisi tubuh mulai menurun.
Korlantas Polri pada Agustus 2026 kembali mengingatkan pengendara agar tidak memaksakan perjalanan ketika lelah. Berhenti di lokasi aman dan beristirahat dinilai lebih baik daripada terus berkendara dengan konsentrasi yang menurun.
Peringatan tersebut penting karena konsentrasi merupakan bagian utama dari keselamatan. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 juga mengatur kewajiban mengemudikan kendaraan secara wajar dan penuh konsentrasi.
Jika perjalanan cukup panjang, jeda dapat dimanfaatkan untuk turun dari motor dan mengubah posisi tubuh. Gerakan ringan memberi kesempatan tubuh keluar dari postur statis yang dipertahankan selama berkendara.
Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa perubahan posisi dapat membantu merelaksasikan otot punggung yang mengalami tekanan akibat duduk lama.
Tidak perlu menunggu tubuh terasa sangat sakit. Leher mulai kaku, punggung tidak nyaman, mata berat, atau konsentrasi menurun sudah cukup menjadi alasan untuk mempertimbangkan istirahat.
Jangan Mengorbankan Postur demi Memburu Waktu
Ada kebiasaan lain yang mudah muncul ketika seseorang terlambat. Tubuh condong ke depan, tangan semakin tegang, kecepatan meningkat, lalu jarak dengan kendaraan depan ikut mengecil.
Padahal, posisi tubuh yang baik tetap harus berjalan bersama perilaku berkendara aman. Pada Juli 2026, Korlantas kembali menyoroti kegagalan menjaga jarak aman sebagai salah satu perilaku pengendara motor yang berisiko memicu kecelakaan.
Temuan pelanggaran juga menunjukkan persoalan keselamatan masih dekat dengan keseharian. Hingga hari kelima Operasi Keselamatan Candi 2026 di Jawa Tengah, tercatat 15.028 pelanggaran. Pengendara motor menyumbang 6.196 kasus, sementara 3.270 pelanggaran berkaitan dengan penggunaan helm non-SNI.
Pada periode tersebut juga tercatat 169 kecelakaan. Kepolisian menyebut faktor seperti mendahului secara tidak aman, gagal menjaga jarak, serta kelelahan atau mengantuk sebagai bagian dari kelalaian yang ditemukan.
Angka itu menunjukkan bahwa kenyamanan tubuh tidak bisa dipisahkan dari disiplin berkendara. Postur rileks bukan alasan untuk kehilangan kewaspadaan, begitu pula terburu-buru bukan alasan mengabaikan posisi tubuh dan kontrol kendaraan.
Motor Juga Harus Cocok dengan Pengendaranya
Tidak semua rasa tidak nyaman berasal dari kebiasaan duduk. Dimensi kendaraan ikut memengaruhi bagaimana tubuh beradaptasi selama perjalanan.
Pengendara perlu mampu menjangkau setang, mengoperasikan rem, menggunakan pijakan kaki, serta melihat spion tanpa melakukan gerakan tubuh yang berlebihan.
Jika setiap perjalanan membuat pergelangan tangan, bahu, pinggang, atau lutut cepat tidak nyaman, perhatikan kembali posisi tubuh dan kecocokan kendaraan. Hindari melakukan modifikasi komponen kendali sembarangan karena dapat memengaruhi karakter pengoperasian motor.
Tubuh juga tidak perlu menunggu perjalanan puluhan kilometer untuk merasa lelah. Rutinitas pergi-pulang yang dilakukan lima atau enam hari dalam seminggu membuat kenyamanan kecil terasa penting dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, posisi berkendara motor yang nyaman bukan soal terlihat sempurna di atas kendaraan. Tujuannya adalah menjaga tubuh tetap rileks, kontrol kendaraan tetap baik, dan perhatian tetap tertuju pada kondisi jalan.
Kebiasaan sederhana seperti merilekskan bahu, tidak mengunci siku, menempatkan kaki dengan stabil, serta beristirahat ketika lelah dapat membuat mobilitas harian terasa lebih nyaman dan terkendali.
