Senin, 02 November 2026 10:09 UTC

Jobong kuno setengah lingkaran yang ditemukan di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Senin, 2 November 2026. Foto: Karin/Jatimnet
JATIMNET.COM, Jombang – Petugas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur mengevakuasi temuan jobong kuno di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Senin, 2 November 2026. Tim mengamankan tiga lapis artefak yang diduga berkaitan dengan struktur bangunan kuno tersebut.
Petugas memindahkan jobong berbentuk setengah lingkaran itu ke kawasan Candi Pandegong. Lokasi tersebut berjarak sekitar satu kilometer ke arah barat dari tempat penemuan.
Pamong Budaya Ahli Pertama BPK Jawa Timur, Indra Eka Widya Jaya, menjelaskan bahwa warga menemukan artefak tersebut sekitar sepekan lalu. Setelah mengetahui temuan itu, warga melalui Juru Pelihara (Jupel) Situs Pandegong, Jayadi, langsung berkoordinasi dengan BPK Jawa Timur untuk mendapatkan penanganan.
"Nah penemuan ini merupakan sebuah artefak yang disebut jobong, ada yang menyebut perigi," katanya.
Indra menerangkan, para ahli selama ini memiliki beberapa pandangan mengenai fungsi jobong. Secara umum, artefak tersebut diperkirakan menjadi bagian dinding sumur. Namun, ada pula pendapat yang menyebut bentuk dan fungsinya menyerupai septic tank seperti yang dikenal saat ini.
Meski demikian, pihaknya masih membutuhkan kajian lebih lanjut untuk memastikan fungsi sebenarnya dari peninggalan tersebut.
Di lokasi penemuan, petugas mendapati empat lapis jobong yang tersusun bertumpuk. Namun, tim hanya berhasil mengangkat tiga lapis karena bagian paling bawah cukup sulit dievakuasi.
"Yang berhasil kami evakuasi ada tiga lapis, lapis terakhir kami tinggalkan karena memang sangat sukar sekali untuk diangkat. Jadi nanti langsung diurug, diratakan saja. Karena lokasinya akan dijadikan salah satu bangunan rumah warga," jelasnya.
Indra mengungkapkan, jobong pada lapisan paling bawah justru memiliki kondisi relatif utuh. Ukurannya diperkirakan dua kali lebih tinggi dibandingkan lapisan ketiga yang memiliki tinggi 38 sentimeter.
Sementara itu, bagian jobong paling atas ditemukan pada kedalaman sekitar satu meter dari permukaan tanah. Namun, kondisinya sudah mengalami kerusakan cukup parah.
"Dua lapis pertama itu memang sudah hancur. Dan memang di dalam jobong ini ditemukan juga beberapa pecahan tembikar halus, juga ada ditemukan pecahan bata yang lumayan besar ukurannya," ungkapnya.
Selain pecahan tembikar, petugas juga menemukan sejumlah pecahan bata berukuran cukup besar di sekitar lokasi. BPK Jawa Timur kemudian membandingkan dimensi bata tersebut dengan material bata yang terdapat di Candi Pandegong.
Hasil pengukuran sementara menunjukkan keduanya memiliki ukuran yang hampir sama, baik dari segi ketebalan maupun panjang. Kesamaan karakteristik material itu membuka kemungkinan bahwa jobong dan Candi Pandegong berasal dari periode yang sama.
"Jobong kuno yang telah dievakuasi, akan dilakukan pembersihan, dan jika memungkinkan juga akan dilakukan rekonstruksi. Untuk yang tidak bisa kami angkat itu akan diuruk, diratakan dengan tanah, tapi kita berikan tanda," terangnya.
Indra menambahkan, pemberian tanda tersebut bertujuan agar keberadaan artefak yang masih tertanam tetap diketahui. Dengan begitu, peneliti maupun masyarakat yang suatu saat melakukan penggalian di lokasi tersebut dapat mengetahui bahwa BPK Jawa Timur pernah melakukan penanganan terhadap temuan benda bersejarah itu.
"Sehingga suatu saat kalau misalnya ada peneliti atau masyarakat tidak sengaja menggalinya, itu sudah ada tanda bahwa kita pernah melakukan penanganan terhadap benda tersebut," pungkasnya.
