Selasa, 03 November 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Mengelola bahan makanan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Sampah makanan menjadi persoalan yang sering luput dari perhatian dalam aktivitas rumah tangga. Sayuran yang membusuk di kulkas, nasi yang tersisa setelah makan, hingga bahan masakan yang kedaluwarsa merupakan contoh makanan terbuang akibat kebiasaan sehari-hari. Jumlahnya mungkin terlihat kecil, tetapi akumulasinya dapat menimbulkan kerugian ekonomi sekaligus menambah beban lingkungan.
Persoalan tersebut tidak selalu disebabkan oleh kebiasaan membeli makanan secara berlebihan. Penyimpanan yang kurang tepat, perencanaan menu yang tidak teratur, dan ketidaktahuan mengenai daya tahan bahan pangan juga berperan. Akibatnya, makanan yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan berakhir di tempat sampah.
Laporan Food Waste Index Report 2024 yang diterbitkan United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan sebanyak 1,05 miliar ton makanan terbuang secara global pada 2022. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 19 persen makanan yang tersedia bagi konsumen pada tingkat rumah tangga, layanan makanan, dan ritel.
Dari keseluruhan sampah makanan tersebut, rumah tangga menyumbang sekitar 631 juta ton atau 60 persen. Sementara itu, layanan makanan menyumbang 290 juta ton dan sektor ritel sekitar 131 juta ton. Angka ini memperlihatkan bahwa kebiasaan pengelolaan makanan di rumah memiliki peran penting dalam upaya mengurangi pemborosan pangan.
Mengapa Sampah Makanan Banyak Berasal dari Rumah?
Dapur merupakan tempat berbagai keputusan konsumsi dibuat. Mulai dari menentukan bahan yang dibeli, memilih jumlah masakan, menyimpan persediaan, hingga memutuskan makanan mana yang masih layak dikonsumsi.
Kesalahan kecil dalam proses tersebut dapat menyebabkan makanan terbuang. Membeli sayuran tanpa memperhitungkan kebutuhan, misalnya, membuat sebagian bahan tersimpan terlalu lama. Ketika kualitasnya menurun, bahan tersebut akhirnya dibuang sebelum sempat dimasak.
Persoalan serupa muncul ketika seseorang memasak dalam jumlah lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Sisa makanan sebenarnya dapat disimpan untuk konsumsi berikutnya, tetapi penyimpanan yang terlambat atau tidak sesuai dapat meningkatkan risiko kerusakan pangan.
Kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas pada 2021 memperkirakan kehilangan dan pemborosan pangan di Indonesia sepanjang periode 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton per tahun. Jumlah tersebut setara dengan 115–184 kilogram per kapita setiap tahun.
Angka Bappenas mencakup kehilangan pangan dari tahap produksi hingga konsumsi, sehingga tidak seluruhnya merupakan sampah dapur rumah tangga. Namun, kajian tersebut menunjukkan bahwa tahap konsumsi menjadi salah satu penyumbang terbesar, dengan estimasi 5–19 juta ton per tahun.
Dari timbulan pada tahap konsumsi itu, sekitar 80 persen diperkirakan berasal dari rumah tangga. Temuan tersebut memperkuat pentingnya pengelolaan bahan makanan sejak sebelum kegiatan memasak dilakukan.
Mengatur Persediaan Makanan Sebelum Berbelanja
Langkah mengurangi sampah makanan sebaiknya dimulai dengan memeriksa persediaan dapur. Kebiasaan ini membantu penghuni rumah mengetahui bahan yang masih tersedia, bahan yang perlu segera digunakan, dan kebutuhan yang benar-benar harus dibeli.
Pemeriksaan sederhana dapat dilakukan dengan membuka lemari penyimpanan dan kulkas sebelum menyusun daftar belanja. Perhatikan jumlah beras, telur, sayuran, buah, serta bahan pelengkap yang masih dapat digunakan.
Setelah mengetahui persediaan, tentukan menu berdasarkan bahan yang sudah tersedia. Cara ini berbeda dengan kebiasaan memilih menu terlebih dahulu, kemudian membeli seluruh bahan tanpa mempertimbangkan stok di rumah.
Sebagai contoh, wortel dan kol yang masih tersimpan dapat diolah menjadi sup, tumisan, atau campuran telur dadar. Sementara itu, buah yang sudah matang dapat segera dikonsumsi atau diolah menjadi hidangan lain selama kondisinya masih aman.
Perencanaan menu tidak harus dilakukan untuk satu minggu penuh. Rumah tangga dengan jadwal yang berubah-ubah dapat menyusun rencana makan untuk dua atau tiga hari agar lebih mudah menyesuaikan kebutuhan.
Pembelian bahan segar dalam jumlah kecil juga dapat menjadi pilihan apabila akses ke pasar atau toko cukup mudah. Namun, keputusan tersebut tetap perlu mempertimbangkan biaya perjalanan, harga satuan, dan frekuensi belanja agar tidak menimbulkan pengeluaran tambahan yang lebih besar.
Penyimpanan yang Tepat Membantu Menjaga Kualitas
Setiap bahan pangan memiliki karakteristik penyimpanan berbeda. Sayuran berdaun umumnya membutuhkan perlindungan dari kehilangan kelembapan, sedangkan bahan kering memerlukan tempat bersih dan terlindung dari air.
Penggunaan wadah tertutup dapat membantu menjaga kebersihan serta mengurangi paparan terhadap kontaminasi. Namun, wadah yang sesuai tetap harus disertai pengaturan suhu dan penanganan berdasarkan jenis makanan.
Untuk makanan matang yang mudah rusak, pedoman keamanan pangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan penyimpanan pada suhu di bawah 5 derajat Celsius. Makanan matang juga tidak dianjurkan dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam sebelum didinginkan atau disimpan dengan aman.
Ketentuan tersebut penting terutama bagi hidangan yang mengandung daging, ikan, telur, susu, atau bahan lain yang mudah rusak. Tampilan dan aroma yang masih normal tidak selalu menjamin makanan terbebas dari mikroorganisme berbahaya.
Penghuni rumah juga dapat menerapkan prinsip menggunakan bahan yang lebih dahulu dibeli sebelum membuka persediaan baru. Bahan dengan tanggal penggunaan paling dekat ditempatkan pada posisi yang mudah terlihat.
Meski demikian, tanggal pada kemasan perlu dipahami dengan benar. Keterangan batas keamanan konsumsi tidak boleh diperlakukan sama dengan petunjuk mutu terbaik. Apabila produk telah melewati batas aman penggunaannya atau menunjukkan tanda kerusakan, makanan sebaiknya tidak dikonsumsi.
Mengolah Bahan Tersisa Tanpa Mengabaikan Keamanan
Bahan makanan yang belum habis digunakan tidak selalu harus dibuang. Sebagian dapat dimanfaatkan untuk hidangan berikutnya apabila masih segar, disimpan dengan benar, dan belum mengalami kerusakan.
Potongan wortel, batang brokoli yang masih baik, atau bagian sayuran lain yang lazim dimakan dapat dijadikan campuran sup. Buah matang dapat diolah menjadi hidangan sederhana sebelum kualitasnya menurun.
Sisa nasi juga dapat dimanfaatkan kembali, tetapi memerlukan perhatian khusus. Nasi matang harus segera didinginkan, disimpan pada suhu aman, dan dipanaskan kembali secara menyeluruh ketika akan dikonsumsi. Nasi yang terlalu lama dibiarkan pada suhu ruang berisiko mengalami pertumbuhan bakteri tertentu.
Penting pula membedakan bahan makanan yang masih layak digunakan dengan bahan yang sudah rusak. Memotong bagian yang terlihat busuk tidak selalu membuat keseluruhan makanan kembali aman, terutama pada bahan lunak yang berjamur.
Pengolahan ulang sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk mempertahankan makanan yang sudah meragukan keamanannya. Mengurangi pemborosan tetap harus berjalan bersama upaya melindungi kesehatan keluarga.
Sementara itu, bagian pangan yang memang tidak dapat dimakan, seperti kulit tertentu dan sisa potongan sayuran, dapat dipisahkan dari sampah anorganik. Apabila fasilitas memungkinkan, sebagian sampah organik tersebut bisa diolah menjadi kompos.
Mengukur Sampah Makanan untuk Mengubah Kebiasaan
Perubahan kebiasaan akan lebih mudah dilakukan apabila penghuni rumah mengetahui jenis makanan yang paling sering terbuang.
Pencatatan sederhana selama tujuh hari dapat memberikan gambaran mengenai sumber pemborosan. Tidak diperlukan aplikasi khusus atau peralatan mahal. Buku catatan kecil sudah cukup untuk menuliskan jenis bahan, perkiraan jumlah, dan alasan pembuangannya.
Misalnya, sebuah rumah tangga menemukan bahwa setiap minggu terdapat sekitar 300 gram sayuran dan 200 gram makanan matang yang terbuang. Jumlah keseluruhannya mencapai 500 gram per minggu.
Apabila kondisi tersebut berlangsung selama 52 minggu, timbulan sampah makanan mencapai sekitar 26 kilogram dalam setahun. Perhitungan ini hanya contoh ilustratif, bukan angka rata-rata rumah tangga Indonesia.
Pencatatan dapat membantu menemukan penyebab yang berbeda. Sayuran terbuang mungkin karena pembelian berlebihan, sedangkan makanan matang tersisa akibat ukuran porsi yang tidak sesuai kebutuhan.
Setelah penyebab diketahui, perubahan dapat dilakukan secara bertahap. Mengurangi jumlah pembelian sayuran, menyesuaikan takaran memasak, atau menggunakan wadah penyimpanan yang lebih tepat merupakan langkah yang bisa dievaluasi hasilnya.
Manfaat pengurangan sampah makanan juga berkaitan dengan lingkungan. UNEP memperkirakan kehilangan dan pemborosan pangan menyumbang sekitar 8–10 persen emisi gas rumah kaca global. Dampaknya berasal dari berbagai tahapan, termasuk produksi, pengolahan, distribusi, dan pengelolaan makanan yang akhirnya tidak dikonsumsi.
Bagi rumah tangga, pengurangan pemborosan berarti semakin banyak bahan yang dibeli benar-benar memberikan manfaat. Nilai ekonominya tidak hanya terlihat dari berkurangnya makanan yang dibuang, tetapi juga dari penggunaan air, energi, waktu memasak, dan tenaga secara lebih efisien.
Cara mengurangi sampah makanan dari dapur rumah pada akhirnya tidak membutuhkan perubahan besar sekaligus. Memeriksa persediaan, membeli sesuai kebutuhan, menyimpan bahan dengan aman, dan mengevaluasi sisa makanan merupakan kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan secara konsisten. Dapur yang dikelola dengan baik bukan sekadar terlihat rapi, melainkan juga mampu memanfaatkan pangan secara lebih bertanggung jawab.
