Sabtu, 31 October 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Kebersamaan di ruang publik kota. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Ruang publik kota memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat modern. Taman, alun-alun, jalur pedestrian, dan kawasan terbuka lainnya bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan tempat berlangsungnya berbagai aktivitas sosial sehari-hari.
Di tengah kepadatan permukiman dan kesibukan pekerjaan, keberadaan tempat berkumpul yang mudah diakses menjadi kebutuhan masyarakat. Anak-anak memerlukan ruang bermain, orang dewasa membutuhkan tempat beristirahat, sementara kelompok lanjut usia memerlukan lingkungan yang mendukung aktivitas sosial.
Ruang publik juga memungkinkan pertemuan antarwarga yang tidak selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Orang dari latar belakang berbeda dapat menggunakan fasilitas yang sama tanpa harus menjadi pelanggan atau membayar biaya masuk.
Momentum Hari Kota Sedunia yang diperingati setiap 31 Oktober menjadi kesempatan melihat kembali bagaimana kualitas ruang bersama memengaruhi kenyamanan hidup masyarakat perkotaan.
Kota yang Tumbuh Membutuhkan Ruang Bersama
Pertumbuhan kawasan perkotaan membawa perubahan pada kebutuhan ruang dan pola interaksi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui hasil Sensus Penduduk 2020 mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa. Sebanyak 56,7 persen penduduk tinggal di wilayah perkotaan berdasarkan klasifikasi wilayah yang digunakan dalam sensus tersebut.
Proporsi tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk Indonesia hidup dalam lingkungan yang menghadapi berbagai kebutuhan perkotaan, mulai dari permukiman, transportasi, hingga fasilitas sosial.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui World Urbanization Prospects 2025 juga memperkirakan sekitar 45 persen dari 8,2 miliar penduduk dunia tinggal di kota pada 2025, menggunakan definisi kota berbasis klasifikasi derajat urbanisasi. Angka ini tidak langsung sebanding dengan statistik perkotaan nasional karena perbedaan definisi wilayah.
Seiring bertambahnya aktivitas perkotaan, kebutuhan terhadap ruang terbuka menjadi semakin beragam. Masyarakat tidak hanya membutuhkan tempat tinggal dan fasilitas ekonomi, tetapi juga lingkungan yang mendukung interaksi sosial.
Taman kota, misalnya, dapat digunakan untuk berjalan kaki, membaca, bermain, atau sekadar duduk menikmati suasana. Kegiatan sederhana tersebut memberikan alternatif terhadap aktivitas yang selalu berlangsung di ruang tertutup.
Ruang bersama juga memiliki nilai sosial karena tidak mensyaratkan kemampuan konsumsi tertentu. Masyarakat dapat menikmati lingkungan kota tanpa harus membeli produk atau menggunakan layanan komersial.
Tempat Berkumpul Membantu Memperkuat Hubungan Sosial
Kehidupan perkotaan sering mempertemukan banyak orang tanpa selalu menciptakan hubungan sosial yang dekat. Tetangga dapat tinggal dalam satu kawasan selama bertahun-tahun, tetapi jarang memiliki kesempatan berinteraksi.
Ruang publik menyediakan tempat bagi pertemuan yang berlangsung secara alami. Percakapan singkat di taman, kegiatan olahraga bersama, atau aktivitas anak-anak dapat membuka hubungan antarwarga.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan World Report on Social Determinants of Health Equity 2025 menempatkan kondisi lingkungan tempat tinggal sebagai salah satu faktor sosial yang memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, WHO Commission on Social Connection pada 2025 melaporkan sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. Angka tersebut menggambarkan pentingnya perhatian terhadap hubungan sosial, meskipun tidak dapat diartikan bahwa ketersediaan taman secara langsung menentukan tingkat kesepian.
Ruang publik yang dirancang dengan baik dapat menyediakan kesempatan berinteraksi, tetapi manfaat sosialnya tetap bergantung pada keamanan, aksesibilitas, kegiatan masyarakat, dan kenyamanan pengunjung.
Bagi keluarga, taman menjadi tempat anak-anak mengenal lingkungan di luar rumah. Mereka dapat belajar berbagi fasilitas, berkomunikasi dengan teman sebaya, serta memahami aturan sederhana dalam menggunakan ruang bersama.
Bagi kelompok lanjut usia, keberadaan tempat duduk, jalur berjalan yang aman, dan suasana yang nyaman dapat membantu mempertahankan aktivitas sosial tanpa membutuhkan perjalanan jauh.
Ruang Terbuka Hijau dan Kenyamanan Hidup
Selain menjadi tempat berkumpul, ruang publik yang memiliki vegetasi berperan dalam meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Pepohonan dapat memberikan keteduhan, mengurangi paparan panas matahari secara langsung, dan membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki.
WHO dalam publikasi Urban Green Spaces and Health pada 2016 menjelaskan bahwa ruang hijau perkotaan dapat mendukung kesehatan melalui berbagai mekanisme, termasuk aktivitas fisik, relaksasi psikologis, interaksi sosial, serta pengurangan paparan terhadap sejumlah gangguan lingkungan.
Manfaat tersebut tidak berarti semua taman memiliki kualitas yang sama. Kondisi vegetasi, kebersihan, keamanan, luas kawasan, dan kemudahan akses menentukan seberapa besar ruang hijau dapat dimanfaatkan masyarakat.
Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menetapkan proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota.
Ketentuan tersebut terdiri atas ruang terbuka hijau publik paling sedikit 20 persen dan ruang terbuka hijau privat paling sedikit 10 persen.
Angka tersebut merupakan standar perencanaan tata ruang, bukan gambaran bahwa seluruh kota di Indonesia telah memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau.
Keberadaan taman yang luas juga belum tentu menjamin pemerataan akses. Sebuah kawasan mungkin memiliki taman besar, tetapi masyarakat yang tinggal jauh dari lokasi tersebut tetap kesulitan mengunjunginya.
Karena itu, penyediaan ruang publik perlu memperhatikan persebaran fasilitas hingga tingkat lingkungan permukiman.
Ruang Publik yang Baik Harus Bisa Dinikmati Semua Orang
Kualitas ruang publik tidak cukup dinilai dari tampilan yang menarik atau kelengkapan fasilitas dekoratif.
Taman yang indah tetapi sulit dijangkau pejalan kaki dapat kehilangan sebagian manfaatnya. Begitu pula ruang terbuka yang tidak memiliki penerangan memadai atau fasilitas dasar yang terawat.
Anak-anak membutuhkan area bermain yang aman. Penyandang disabilitas memerlukan jalur yang mudah dilalui. Kelompok lanjut usia membutuhkan tempat beristirahat dengan akses yang nyaman.
Fasilitas seperti tempat duduk, air minum, toilet, jalur pedestrian, dan tempat sampah menjadi bagian penting dari pengalaman menggunakan ruang publik.
Keberadaan aktivitas ekonomi kecil juga dapat memberikan manfaat apabila dikelola secara tertib. Pedagang makanan dan minuman, misalnya, dapat melayani pengunjung tanpa mengganggu jalur berjalan atau fungsi utama kawasan.
Pengelolaan ruang publik sebaiknya melibatkan masyarakat sekitar. Warga yang merasa memiliki ruang bersama cenderung mempunyai alasan lebih kuat untuk ikut menjaga kebersihan dan ketertibannya.
Namun, tanggung jawab pemeliharaan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Pemerintah daerah tetap memegang peran penting dalam penyediaan fasilitas, pengawasan, dan pengelolaan anggaran.
Menjadikan Ruang Publik Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Memanfaatkan ruang publik tidak selalu membutuhkan kegiatan khusus. Berjalan kaki pada sore hari, membaca buku di taman, atau mengajak anak bermain dapat menjadi aktivitas sederhana yang menyenangkan.
Kegiatan komunitas juga dapat menghidupkan kawasan terbuka. Pertemuan warga, pertunjukan seni, permainan tradisional, dan aktivitas literasi memungkinkan ruang publik digunakan secara lebih beragam.
Meski demikian, penyelenggaraan kegiatan perlu memperhatikan kepentingan pengunjung lain. Ruang bersama sebaiknya tidak dikuasai satu kelompok secara terus-menerus sehingga membatasi hak masyarakat lainnya.
Bagi pemerintah kota, keberhasilan pembangunan ruang publik dapat dinilai melalui penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya jumlah taman yang diresmikan.
Pengamatan terhadap jumlah pengunjung, keragaman pengguna, kondisi fasilitas, dan tingkat kepuasan masyarakat dapat membantu mengevaluasi manfaat suatu kawasan.
Peringatan Hari Kota Sedunia juga mengingatkan bahwa pembangunan perkotaan tidak semata-mata berkaitan dengan gedung, jalan, atau pertumbuhan ekonomi. Kualitas hubungan manusia dengan lingkungannya merupakan bagian penting dari keberhasilan sebuah kota.
Ruang publik kota yang nyaman memungkinkan masyarakat menikmati kehidupan di luar rumah tanpa selalu bergantung pada fasilitas komersial. Di tempat seperti itulah anak-anak bermain, warga saling mengenal, dan berbagai kegiatan sederhana membentuk pengalaman hidup bersama.
Kota yang baik bukan hanya menyediakan tempat untuk bekerja dan tinggal, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk bertemu, beristirahat, dan merasa menjadi bagian dari lingkungannya.
