Logo

Adab Berbeda Pendapat dalam Pergaulan Anak Muda

Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan perselisihan. Dalam Islam, menjaga adab sama pentingnya dengan menyampaikan kebenaran.
Reporter:,Editor:

Rabu, 28 October 2026 05:00 UTC

Adab Berbeda Pendapat dalam Pergaulan Anak Muda

Ilustrasi: Menghargai perbedaan dengan santun. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Adab berbeda pendapat menjadi keterampilan sosial yang semakin penting dalam kehidupan anak muda. Perbedaan pandangan dapat muncul dalam pertemanan, organisasi, lingkungan pendidikan, hingga percakapan di media sosial.

Seseorang mungkin memiliki pandangan berbeda mengenai cara menjalankan kegiatan, memilih pemimpin organisasi, atau memahami persoalan keagamaan. Perbedaan tersebut sebenarnya merupakan bagian wajar dari kehidupan bersama.

Persoalan muncul ketika perbedaan gagasan berubah menjadi serangan pribadi. Keinginan mempertahankan pendapat terkadang membuat seseorang mengabaikan perasaan orang lain, menggunakan kata-kata merendahkan, atau menyebarkan penilaian tanpa memahami persoalan secara utuh.

Islam memberikan pedoman mengenai cara menyampaikan pendapat, menjaga lisan, dan menghormati sesama. Ajaran tersebut tetap relevan dalam kehidupan modern, terutama ketika percakapan semakin banyak berlangsung melalui ruang digital.

Momentum Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober juga mengingatkan bahwa persatuan tidak menuntut setiap orang memiliki pemikiran yang sama. Persatuan justru membutuhkan kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa.
 

Perbedaan Pendapat Merupakan Bagian dari Kehidupan

Indonesia memiliki populasi generasi muda yang besar. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasi Statistik Pemuda Indonesia 2024 mencatat sekitar 64,22 juta penduduk berusia 16–30 tahun, setara dengan sekitar seperlima penduduk Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 60,72 persen tinggal di wilayah perkotaan. Kehidupan pendidikan, pekerjaan, dan pergaulan mempertemukan anak muda dengan beragam pengalaman serta cara berpikir.

Perbedaan pendapat dalam situasi demikian tidak selalu menunjukkan adanya permusuhan. Dua orang dapat memiliki tujuan yang sama, tetapi menawarkan cara berbeda untuk mencapainya.

Dalam sejarah keilmuan Islam, perbedaan pandangan juga dikenal melalui tradisi ikhtilaf. Para ulama dapat menghasilkan pendapat berbeda karena perbedaan metode penalaran, pemahaman dalil, atau penilaian terhadap keadaan tertentu.

Namun, tidak semua perbedaan memiliki kedudukan yang sama. Ada persoalan yang telah memiliki ketentuan jelas, sementara persoalan lain membuka ruang ijtihad dan penafsiran berdasarkan kaidah keilmuan.

Karena itu, menghargai perbedaan bukan berarti menganggap semua pendapat pasti benar. Sikap yang diperlukan adalah kemampuan membedakan antara menguji kebenaran gagasan dan merendahkan orang yang menyampaikannya.
 

Al-Qur'an Mengajarkan Cara Berbicara yang Baik

Salah satu pedoman penting dalam menghadapi perbedaan terdapat dalam Surah An-Nahl ayat 125. Allah memerintahkan agar manusia menyeru kepada jalan-Nya dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan berdialog dengan cara yang lebih baik.

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa tujuan menyampaikan kebenaran tidak dapat dipisahkan dari cara penyampaiannya.

Seseorang mungkin memiliki argumen yang kuat, tetapi penggunaan bahasa kasar dapat membuat percakapan kehilangan manfaat. Lawan bicara menjadi lebih sibuk mempertahankan harga dirinya daripada mempertimbangkan isi pembicaraan.

Al-Qur'an juga mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 agar suatu kelompok tidak merendahkan kelompok lain. Larangan tersebut mencakup perilaku saling mencela dan memanggil orang dengan julukan buruk.

Dalam pergaulan anak muda, pesan ini dapat diterapkan dengan menghindari ejekan terhadap kemampuan, latar belakang pendidikan, kondisi ekonomi, maupun pilihan pribadi seseorang.

Mengkritik sebuah gagasan tetap diperbolehkan. Namun, kritik sebaiknya diarahkan pada alasan, bukti, dan dampak dari gagasan tersebut, bukan pada penghinaan terhadap identitas orang yang menyampaikannya.
 

Media Sosial Memperbesar Tantangan Menjaga Ada

Perkembangan internet membuat perbedaan pendapat semakin mudah muncul di ruang publik. Percakapan yang dahulu terbatas pada kelompok kecil kini dapat dibaca dan ditanggapi banyak orang.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat sekitar 221,56 juta pengguna internet, dengan tingkat penetrasi sebesar 79,5 persen.

Dalam komposisi pengguna internet tersebut, Generasi Z menyumbang sekitar 34,40 persen dan generasi milenial sekitar 30,62 persen. Kedua kelompok itu memiliki peran besar dalam aktivitas komunikasi digital.

Angka tersebut menggambarkan luasnya penggunaan internet, bukan tingkat kesantunan atau konflik di media sosial. Namun, besarnya ruang interaksi digital menunjukkan pentingnya etika berkomunikasi.

Percakapan melalui layar memiliki keterbatasan. Pesan tertulis tidak selalu mampu memperlihatkan intonasi, ekspresi wajah, atau maksud sebenarnya dari seseorang.

Kalimat yang dianggap biasa oleh pengirim dapat ditafsirkan sebagai sindiran oleh penerima. Kesalahpahaman semakin mudah berkembang ketika seseorang langsung memberikan tanggapan tanpa membaca keseluruhan konteks.

Dalam Islam, kehati-hatian menerima informasi berkaitan dengan prinsip tabayyun. Surah Al-Hujurat ayat 6 mengajarkan pentingnya memeriksa berita agar seseorang tidak merugikan pihak lain akibat ketidaktahuan.

Prinsip ini relevan ketika anak muda menghadapi potongan video, tangkapan layar percakapan, atau informasi yang belum diketahui sumber dan konteksnya.

Tidak setiap informasi perlu langsung dibagikan. Tidak setiap perbedaan juga harus segera dibalas dengan komentar.
 

Mendengarkan Tidak Berarti Harus Menyetujui

Salah satu kesalahpahaman dalam pergaulan adalah anggapan bahwa mendengarkan pendapat orang lain berarti menerima seluruh isinya. Padahal, mendengarkan merupakan langkah untuk memahami alasan seseorang sebelum menyusun tanggapan.

Dalam diskusi organisasi, misalnya, seorang anggota dapat mengusulkan kegiatan sosial dengan biaya besar. Anggota lain mungkin menolak karena mempertimbangkan kemampuan keuangan kelompok.

Keduanya dapat memiliki tujuan yang baik. Perbedaan muncul pada penilaian mengenai sumber daya dan cara pelaksanaan.

Diskusi akan lebih produktif apabila masing-masing pihak menjelaskan alasan, mendengarkan keberatan, dan mencari pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap ini sejalan dengan ajaran musyawarah dalam Islam. Surah Asy-Syura ayat 38 menyebutkan musyawarah sebagai salah satu karakter orang beriman dalam mengurus persoalan bersama.

Musyawarah bukan sekadar memberikan kesempatan berbicara. Proses tersebut juga membutuhkan kesediaan mempertimbangkan pendapat yang berbeda, termasuk kemungkinan memperbaiki pandangan sendiri.

Mengakui kekeliruan bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, kemampuan mengubah pendapat setelah menemukan alasan yang lebih kuat menunjukkan kedewasaan berpikir.

 

Menjaga Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam.

Ajaran tersebut bukan larangan menyampaikan kritik. Pesannya adalah menjaga agar ucapan memiliki manfaat dan tidak menimbulkan keburukan yang tidak diperlukan.

Anak muda dapat menerapkannya dengan memilih waktu yang tepat untuk berdiskusi, menghindari mempermalukan teman di depan umum, serta tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan ejekan berkepanjangan.

Ketika perbedaan menyangkut persoalan keagamaan yang membutuhkan pengetahuan khusus, mencari penjelasan dari ulama atau sumber keilmuan yang kompeten lebih bermanfaat daripada mempertahankan perdebatan tanpa dasar.

Hubungan pertemanan juga tidak harus berakhir hanya karena dua orang memiliki pandangan berbeda. Selama masing-masing menghormati batasan dan tidak melakukan tindakan merugikan, ruang untuk tetap berhubungan baik masih terbuka.

Semangat persatuan yang diperingati setiap Hari Sumpah Pemuda dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana tersebut.

Adab berbeda pendapat membantu anak muda membangun pergaulan yang lebih sehat, baik dalam kehidupan langsung maupun komunikasi digital. Ketegasan dalam prinsip dapat berjalan bersama kelembutan dalam bertutur kata.

Pada akhirnya, kedewasaan seseorang tidak hanya terlihat dari kemampuannya mempertahankan pendapat, tetapi juga dari caranya memperlakukan orang yang tidak sependapat dengannya.