Jumat, 23 October 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Teman Hadir, Bukan Online. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kesepian terdengar seperti masalah orang yang tidak mempunyai teman. Kenyataannya jauh lebih rumit. Seseorang dapat memiliki ratusan kontak, ribuan pengikut, aktif dalam banyak grup percakapan, tetapi tetap merasa tidak memiliki tempat untuk benar-benar berbicara. Fenomena ini semakin relevan ketika kehidupan sosial berpindah ke ruang digital.
APJII mencatat penetrasi internet Indonesia pada 2026 mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna. Internet telah menjadi bagian keseharian masyarakat, terutama generasi muda yang tumbuh bersama media sosial, aplikasi pesan, gim daring, dan berbagai komunitas digital. Namun, dunia yang semakin terkoneksi ternyata tidak otomatis menghapus kesepian.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. Dampaknya bukan hanya persoalan perasaan. WHO juga menempatkan keterhubungan sosial sebagai isu kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius.
Kita Semakin Mudah Bertemu, tetapi Sulit Hadir
Teknologi telah menghapus banyak batas dalam hubungan manusia. Teman yang tinggal ratusan kilometer jauhnya dapat dihubungi dalam hitungan detik. Foto perjalanan bisa langsung dibagikan.
Grup keluarga terus aktif. Teman lama dapat ditemukan kembali hanya dengan mengetik nama. Semua itu merupakan kemajuan besar. Masalah muncul ketika banyaknya interaksi mulai dianggap sama dengan kedalaman hubungan.
Mengirim emoji tidak selalu sama dengan mendengarkan cerita. Menekan tombol suka berbeda dengan menemani seseorang melewati hari yang sulit.
Menonton unggahan teman juga tidak berarti mengetahui keadaan sebenarnya. Di sinilah paradoks kehidupan sosial modern muncul. Kita mengetahui lebih banyak tentang aktivitas orang lain, tetapi belum tentu mengetahui lebih banyak tentang perasaannya.
Seseorang tahu temannya sedang berlibur karena melihat Instagram, mengetahui ia makan di restoran tertentu dari unggahan, dan tahu lagu yang sedang didengarkan dari status. Namun, mungkin tidak tahu bahwa orang yang sama sedang menghadapi persoalan keluarga atau merasa sangat sendirian.
Anak Muda Termasuk Kelompok yang Perlu Diperhatikan
Kesepian tidak hanya dialami orang lanjut usia. WHO menunjukkan bahwa kesepian banyak dialami remaja dan orang dewasa muda. Secara global, sekitar 17–21 persen kelompok usia 13–29 tahun dilaporkan mengalami kesepian, dengan angka tertinggi ditemukan pada remaja.
Angka tersebut penting karena masa remaja dan dewasa muda justru merupakan periode ketika jaringan pertemanan biasanya berkembang luas.
Sekolah, kampus, organisasi, tempat kerja, komunitas, hingga media sosial menyediakan banyak kesempatan bertemu orang. Tetapi kuantitas hubungan tidak selalu menghasilkan rasa memiliki.
Anak muda juga hidup dalam lingkungan yang sangat terkoneksi. UNICEF Indonesia melaporkan hampir seluruh anak di Indonesia menggunakan internet dengan rata-rata pemakaian sekitar 5,4 jam sehari. Internet tentu bukan penyebab tunggal kesepian.
Ruang digital bahkan dapat membantu seseorang menemukan komunitas, mempertahankan persahabatan jarak jauh, belajar, bekerja sama, dan memperoleh dukungan ketika lingkungan terdekat tidak mampu memberikannya. Persoalannya terletak pada kualitas penggunaan dan keseimbangan hubungan.
Pertemanan Butuh Waktu yang Tidak Efisien
Banyak bagian kehidupan modern dirancang agar semakin cepat. Pesan harus segera dibalas. Makanan bisa datang dalam beberapa menit. Video dipercepat. Pertemuan dibuat singkat. Percakapan dipadatkan menjadi pesan suara.
Persahabatan justru bekerja dengan cara berbeda. Hubungan dekat membutuhkan waktu yang kadang terlihat tidak produktif.
Duduk bersama tanpa agenda. Berjalan kaki sambil mengobrol. Menunggu hujan reda. Makan sederhana. Mengantar teman pulang. Mendengar cerita yang sebenarnya pernah diceritakan sebelumnya.
Aktivitas semacam itu tidak menghasilkan sertifikat, uang, nilai, atau konten. Tetapi justru di ruang-ruang biasa itulah kepercayaan dibangun.
Manusia membutuhkan pengalaman bahwa dirinya didengarkan, diterima, dan dianggap penting oleh orang lain. Perasaan tersebut sulit dibentuk hanya melalui jumlah notifikasi. Karena itu, persahabatan yang sehat sering membutuhkan sesuatu yang semakin mahal dalam kehidupan modern: perhatian penuh.
Coba Letakkan Ponsel ketika Teman Datang
Tidak realistis meminta orang meninggalkan media sosial atau berhenti menggunakan smartphone. Teknologi sudah menjadi bagian dari pekerjaan, pendidikan, komunikasi, transportasi, transaksi, dan hiburan. Yang lebih mungkin dilakukan adalah menciptakan ruang kecil tanpa distraksi.
Ketika makan bersama, misalnya, telepon genggam bisa diletakkan beberapa saat. Ketika seorang teman sedang bercerita, notifikasi tidak harus langsung dibuka.
Kebiasaan sederhana itu mengirimkan pesan sosial yang kuat: orang di depan kita lebih penting daripada sesuatu yang baru muncul di layar. Pertemuan juga tidak harus mahal.
Berjalan pagi, bersepeda, makan di rumah, belajar bersama, mengikuti kegiatan komunitas, berolahraga, berkebun, menjadi relawan, atau terlibat dalam organisasi dapat membuka ruang interaksi yang lebih alami.
Aktivitas bersama memiliki kelebihan dibandingkan sekadar bertemu untuk berfoto. Ada pengalaman yang dikerjakan bersama. Ada masalah kecil yang diselesaikan. Ada percakapan yang muncul tanpa direncanakan. Dari situlah hubungan sering berkembang.
Komunitas Bisa Menjadi Ruang untuk Merasa Dimiliki
Hubungan sosial tidak selalu harus berbentuk persahabatan sangat dekat. Merasa menjadi bagian dari kelompok juga penting. Komunitas olahraga, organisasi pemuda, kelompok keagamaan, kegiatan seni, klub membaca, kelompok relawan, Kepramukaan, hingga komunitas lingkungan dapat memberi kesempatan seseorang bertemu orang lain secara rutin.
Pertemuan yang berulang memungkinkan orang saling mengenal secara perlahan. Nama mulai diingat. Kebiasaan diketahui. Ketidakhadiran seseorang mulai disadari. Dari sana muncul sesuatu yang tidak mudah diperoleh melalui interaksi sesaat: rasa memiliki.
WHO juga menekankan bahwa hubungan sosial yang kuat berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik. Sebaliknya, isolasi sosial dan kesepian berhubungan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan serta kematian dini.
Artinya, menjaga pertemanan bukan aktivitas tambahan setelah semua pekerjaan selesai.Hubungan sosial merupakan bagian dari kehidupan sehat itu sendiri.
Jangan Ukur Pertemanan dari Jumlah Kontak
Media sosial membuat hubungan manusia mudah dihitung. Jumlah pengikut terlihat. Jumlah teman terlihat. Jumlah suka terlihat. Bahkan berapa orang yang melihat sebuah unggahan dapat diketahui. Namun, indikator terpenting dalam hubungan justru tidak muncul pada layar.
Siapa yang bisa kita hubungi ketika sedang bingung? Siapa yang berani mengatakan bahwa keputusan kita keliru? Siapa yang tetap menyenangkan diajak duduk bersama meskipun tidak ada sesuatu yang menarik untuk dipamerkan?
Dan pertanyaan yang tidak kalah penting: bagi siapa kita bersedia menjadi orang seperti itu? Kesepian tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan “lebih banyak bergaul”. Kondisinya bisa dipengaruhi banyak faktor dan bagi sebagian orang membutuhkan dukungan yang lebih serius.
Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kita tetap dapat memperbaiki kualitas hubungan yang sudah ada. Mulailah dengan hadir. Bukan sekadar muncul dalam daftar penonton sebuah story. Bukan hanya mengirim tanda suka. Bukan pula hadir sambil terus menatap layar.
Di tengah dunia yang memungkinkan kita memiliki banyak teman online, mungkin kemewahan sosial terbesar justru sangat sederhana: memiliki beberapa orang yang bersedia duduk bersama, mendengarkan, dan benar-benar ada.
