Jumat, 23 October 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Belanja Cukup, Makan Tuntas. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM- Belanja makanan terasa seperti pengeluaran paling wajar dalam rumah tangga. Beras, sayuran, lauk, buah, makanan siap santap, kopi, camilan, hingga pesan antar hampir selalu hadir dalam pengeluaran sehari-hari. Besarnya memang tidak kecil.
Data Badan Pusat Statistik dari Susenas Maret 2025 menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia mencapai Rp1.569.088 per kapita setiap bulan. Dari jumlah itu, sekitar Rp775.516 digunakan untuk makanan. Artinya, hampir separuh pengeluaran rata-rata masyarakat berhubungan dengan apa yang dimakan dan diminum.
Menariknya, kelompok terbesar bukan lagi beras, ikan, daging, atau sayuran. Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi mencapai rata-rata Rp248.501 per kapita sebulan. Nilainya hampir tiga kali lipat pengeluaran padi-padian yang berada di kisaran Rp89.278.
Pola konsumsi kita berubah. Masalahnya, semakin banyak makanan tersedia tidak selalu berarti semakin baik makanan dikelola.
Makanan Mengambil Porsi Besar Dompet Keluarga
Komposisi pengeluaran berbeda antardaerah. Di Jawa Timur, misalnya, BPS mencatat 50,45 persen pengeluaran per kapita pada 2025 digunakan untuk makanan. Di Jawa Barat porsinya 48,28 persen.
Perbedaan juga terlihat antara kota dan desa. Rata-rata penduduk perkotaan mengeluarkan Rp834.093 per kapita setiap bulan untuk makanan. Di perdesaan nilainya Rp689.466.
Namun, pola belanjanya tidak sama. Pengeluaran makanan dan minuman jadi di perkotaan mencapai Rp294.188 per kapita sebulan. Di perdesaan hanya Rp181.387.
Sebaliknya, pengeluaran padi-padian di desa mencapai Rp96.924, lebih tinggi dibandingkan kota sebesar Rp84.072. Angka tersebut menggambarkan perubahan gaya hidup yang mudah ditemukan sehari-hari.
Masyarakat perkotaan semakin terbiasa membeli makanan siap konsumsi. Sarapan bisa dibeli di perjalanan, makan siang melalui aplikasi, kopi dipesan menjelang sore, lalu makan malam kembali dibeli di luar.
Kemudahan itu menyenangkan. Namun, tanpa perencanaan, rumah bisa tetap penuh bahan makanan yang akhirnya tidak pernah disentuh.
Masalahnya Sering Dimulai dari Kulkas
Kulkas penuh sering dianggap tanda rumah memiliki persediaan makanan yang cukup. Padahal, kulkas yang terlalu penuh juga membuat bahan makanan mudah terlupakan.
Cabai terselip di belakang wadah. Sayuran layu di laci. Buah terlalu matang. Tahu melewati masa layak konsumsi. Makanan sisa tiga hari lalu masih berada dalam kotak karena tidak ada yang ingat kapan makanan itu dimasukkan.
Pada saat bersamaan, keluarga kembali berbelanja. Kebiasaan kecil tersebut menjadi penting ketika dilihat dalam skala nasional. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup secara konsisten menempatkan sisa makanan sebagai salah satu komponen terbesar sampah yang dilaporkan daerah.
Persoalan sisa makanan karena itu bukan semata-mata urusan tempat pembuangan akhir. Ada uang rumah tangga, energi, air, lahan pertanian, transportasi, tenaga kerja, dan waktu memasak yang ikut terbuang bersama makanan. Sebuah tomat yang dibuang bukan sekadar satu tomat.
Ada proses menanam, memanen, mengangkut, menyimpan, menjual, membeli, lalu membawanya pulang sebelum akhirnya berakhir sebagai sampah.
Belanja Hemat Bukan Berarti Membeli yang Termurah
Ada anggapan bahwa menghemat pengeluaran makanan berarti mencari harga paling murah. Tidak selalu demikian.
Barang diskon tetap menjadi pemborosan ketika akhirnya tidak dimakan. Paket beli tiga lebih murah daripada satu juga tidak ekonomis jika dua di antaranya terbuang.
Karena itu, ukuran belanja hemat seharusnya bergeser dari harga barang menuju tingkat pemanfaatannya. Sayuran Rp15.000 yang seluruhnya dimakan bisa lebih ekonomis daripada sayuran Rp10.000 yang separuhnya dibuang.
Prinsip yang sama berlaku untuk makanan siap santap. Porsi besar mungkin terlihat lebih menguntungkan, tetapi tidak lagi murah ketika sisanya masuk tempat sampah.
Keluarga juga tidak harus membuat perencanaan menu yang rumit. Sebelum berbelanja, cukup periksa isi kulkas dan lemari. Tentukan beberapa menu utama untuk beberapa hari. Dahulukan bahan yang mudah rusak dan jangan membeli kembali barang yang masih tersedia.
Kebiasaan sederhana ini juga membantu mengurangi fenomena klasik di rumah: merasa tidak punya makanan ketika sebenarnya bahan makanan masih banyak.
Sisa Makan Bisa Dirancang Menjadi Menu Berikutnya
Perubahan berikutnya terjadi di dapur. Memasak secukupnya terdengar sederhana, tetapi ukuran “cukup” setiap keluarga berbeda. Jumlah anggota keluarga, usia, aktivitas, dan kebiasaan makan perlu diperhatikan.
Ketika makanan tetap tersisa, prinsip berikutnya bukan langsung membuangnya. Nasi yang masih layak dapat direncanakan menjadi nasi goreng keesokan pagi. Ayam matang dapat menjadi isian makanan lain. Sayuran tertentu bisa digunakan untuk sup atau tumisan berikutnya.
Kuncinya bukan kreativitas memasak yang rumit, melainkan mengetahui kondisi makanan dan menyimpannya dengan benar. Wadah transparan membantu karena makanan terlihat. Memberi tanggal penyimpanan juga jauh lebih berguna daripada mengandalkan ingatan.
Ada pula prinsip sederhana yang dikenal sebagai FIFO, first in first out. Bahan yang lebih dahulu masuk digunakan lebih dahulu. Barang baru ditempatkan di belakang, sedangkan bahan lama yang masih layak berada di depan.
Teknik sederhana yang biasa digunakan dalam pengelolaan persediaan itu ternyata sangat relevan untuk kulkas rumah tangga.
Anak Juga Perlu Belajar Menghargai Makanan
Kebiasaan mengurangi sisa makanan sebaiknya tidak hanya menjadi pekerjaan orang tua. Anak dapat dilibatkan sejak proses merencanakan menu, berbelanja, menyimpan bahan, menentukan porsi, hingga membereskan makanan setelah makan bersama.
Pengalaman tersebut mengajarkan sesuatu yang lebih luas daripada urusan dapur. Anak belajar bahwa makanan memiliki nilai. Uang keluarga terbatas. Sumber daya alam juga terbatas. Mengambil makanan berarti memiliki tanggung jawab untuk menghabiskannya dalam porsi yang wajar.
Di sinilah pendidikan gaya hidup berkelanjutan bisa dimulai tanpa ceramah panjang. Tidak harus dimulai dengan istilah perubahan iklim, ekonomi sirkular, atau ketahanan pangan. Cukup dari pertanyaan sederhana ketika mengambil nasi: apakah porsinya benar-benar akan dihabiskan?
Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari sering memiliki pengaruh lebih panjang daripada kampanye besar yang hanya diingat sesaat. Pada akhirnya, makan dengan lebih bijak bukan berarti keluarga harus hidup serba terbatas.
Kita tetap boleh menikmati kuliner, memesan makanan, mencoba restoran baru, atau membeli makanan favorit. Yang perlu berubah adalah hubungan kita dengan makanan yang sudah dibeli.
Sebab belanja makanan yang cerdas bukan tentang seberapa penuh keranjang ketika pulang dari pasar. Ukurannya justru seberapa sedikit makanan yang akhirnya harus dibuang.
