Minggu, 25 October 2026 02:00 UTC

ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen dan kesejahteraan rakyat
JATIMNET.COM - Belanja bulanan sering menjadi tantangan bagi keluarga ketika harga kebutuhan berubah dan pengeluaran kecil terus bertambah. Uang yang awalnya terasa cukup bisa berkurang lebih cepat karena pembelian yang tidak direncanakan.
Kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh kenaikan harga. Cara menyusun daftar belanja, memilih ukuran kemasan, menyimpan bahan makanan, hingga memanfaatkan promosi ikut menentukan besarnya pengeluaran.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa makanan masih menjadi komponen penting dalam konsumsi rumah tangga Indonesia. Karena itu, perubahan kecil dalam kebiasaan berbelanja dapat membantu keluarga mengelola anggaran tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok.
Susun Daftar Belanja Berdasarkan Kebutuhan
Kebiasaan pertama untuk membuat belanja bulanan lebih hemat adalah menyusun daftar kebutuhan sebelum berangkat ke pasar atau supermarket. Daftar tersebut sebaiknya dibuat setelah memeriksa persediaan yang masih tersedia di rumah.
Beras, minyak goreng, telur, sayuran, bahan lauk, dan kebutuhan kebersihan dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat kepentingannya. Barang yang hampir habis mendapat prioritas dibandingkan produk yang hanya menarik karena promosi.
Pentingnya pengelolaan belanja terlihat dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025. BPS mencatat bahwa pengeluaran makanan menyumbang 49,42 persen dari total pengeluaran per kapita penduduk Indonesia.
Di Jawa Timur, proporsi pengeluaran makanan bahkan mencapai 50,45 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Angka ini memperlihatkan besarnya peran konsumsi makanan dalam anggaran masyarakat.
Dengan daftar belanja, keluarga memiliki pedoman yang lebih jelas untuk menentukan prioritas. Pembelian spontan juga lebih mudah dikendalikan karena setiap barang dapat dibandingkan dengan kebutuhan yang telah direncanakan.
Bandingkan Harga Berdasarkan Satuan
Kemasan besar sering dianggap lebih ekonomis daripada kemasan kecil. Padahal, harga yang terlihat murah belum tentu memberikan nilai terbaik jika dibandingkan berdasarkan berat atau volumenya.
Sebagai contoh, minyak goreng kemasan 900 mililiter seharga Rp18.000 memiliki harga setara Rp20.000 per liter. Sementara kemasan satu liter seharga Rp19.000 justru lebih murah berdasarkan satuan volume.
Perhitungan sederhana seperti ini membantu keluarga menentukan pilihan secara objektif. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada beras, deterjen, gula, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Namun, membeli dalam jumlah besar tidak selalu menguntungkan. Produk yang jarang digunakan berisiko rusak atau melewati masa simpan sebelum habis dikonsumsi.
Karena itu, perbandingan harga perlu mempertimbangkan jumlah pemakaian, kapasitas penyimpanan, dan kemampuan keluarga menghabiskan produk tersebut.
Rencanakan Menu agar Bahan Makanan Tidak Terbuang
Pengeluaran rumah tangga tidak hanya dipengaruhi harga ketika membeli makanan. Bahan yang rusak sebelum dimasak juga menimbulkan kerugian karena uang telah dikeluarkan tanpa menghasilkan manfaat konsumsi.
United Nations Environment Programme (UNEP), melalui Food Waste Index Report 2024, memperkirakan sekitar 1,05 miliar ton sampah makanan dihasilkan secara global pada 2022. Jumlah tersebut setara sekitar 132 kilogram per kapita, mencakup bagian makanan yang tidak dapat dimakan.
Laporan tersebut memperlihatkan bahwa pemborosan makanan merupakan persoalan besar, bukan sekadar masalah kecil di dapur keluarga.
Salah satu langkah praktis untuk menguranginya adalah menyusun menu mingguan. Keluarga dapat menentukan jenis lauk, sayuran, dan bahan pendamping yang akan digunakan selama beberapa hari.
Perencanaan menu membantu menghindari pembelian bahan yang sebenarnya tidak diperlukan. Bahan yang mudah rusak dapat dijadwalkan untuk dimasak lebih awal, sedangkan produk tahan lama disimpan untuk kebutuhan berikutnya.
Penyimpanan juga perlu diperhatikan. Sayuran, daging, dan bahan makanan matang membutuhkan perlakuan berbeda agar tetap aman dikonsumsi.
Dengan kebiasaan ini, keluarga tidak hanya menghemat pengeluaran, tetapi juga mengurangi jumlah makanan yang berakhir di tempat sampah.
Kendalikan Pembelian Makanan dan Minuman Jadi
Pengeluaran untuk makanan siap santap sering luput dari perencanaan belanja bulanan. Pembelian minuman, camilan, atau makanan pesan antar terlihat kecil ketika dilakukan satu per satu.
Data Susenas Maret 2025 menunjukkan bahwa makanan dan minuman jadi menyumbang 15,84 persen dari total pengeluaran per kapita penduduk Indonesia. Di perkotaan, proporsinya mencapai 16,24 persen, sedangkan di perdesaan 14,96 persen.
Angka tersebut bukan berarti seluruh pengeluaran makanan jadi merupakan pemborosan. Bagi pekerja yang memiliki keterbatasan waktu atau fasilitas memasak, membeli makanan siap santap bisa menjadi pilihan yang masuk akal.
Persoalan muncul ketika pembelian dilakukan tanpa mempertimbangkan anggaran. Kebiasaan memesan makanan karena tergoda promosi, misalnya, dapat membuat pengeluaran meningkat tanpa disadari.
Keluarga dapat menetapkan anggaran khusus untuk makan di luar atau membeli makanan jadi. Dengan demikian, kebutuhan praktis tetap terpenuhi tanpa mengganggu anggaran utama.
Membawa bekal beberapa kali dalam seminggu juga dapat menjadi pilihan. Tidak perlu dilakukan setiap hari, terutama jika jadwal kerja dan aktivitas keluarga tidak memungkinkan.
Evaluasi Pengeluaran Setiap Akhir Pekan
Kebiasaan terakhir adalah mengevaluasi pengeluaran secara berkala. Pencatatan sederhana membantu keluarga mengetahui apakah belanja sudah sesuai rencana atau justru melampaui batas.
Catatan tidak harus menggunakan aplikasi keuangan khusus. Buku kecil, spreadsheet, atau fitur catatan di ponsel sudah cukup untuk mencatat tanggal, jenis barang, dan jumlah pengeluaran.
Sebagai simulasi, keluarga dengan anggaran belanja kebutuhan rumah tangga Rp2.000.000 per bulan dapat membaginya menjadi empat alokasi mingguan sebesar Rp500.000.
Pembagian tersebut bukan aturan baku. Keluarga yang membeli beras dan kebutuhan pokok dalam jumlah besar pada awal bulan tentu memerlukan distribusi anggaran yang berbeda.
Evaluasi mingguan berguna untuk menemukan pola pembelian yang kurang efisien. Misalnya, terlalu sering membeli bahan yang sama, memilih kemasan yang lebih mahal, atau menghabiskan anggaran untuk produk yang sebenarnya belum dibutuhkan.
Jika pengeluaran lebih rendah dari rencana, selisihnya dapat dialihkan untuk tabungan atau kebutuhan mendesak. Sebaliknya, ketika pengeluaran meningkat, keluarga dapat menelusuri penyebabnya sebelum menentukan penyesuaian.
Kebiasaan mencatat juga membuat keputusan belanja lebih terukur. Anggaran tidak lagi hanya bergantung pada perkiraan, melainkan pada pengalaman pengeluaran yang benar-benar terjadi.
Mengelola belanja bulanan lebih hemat tidak berarti selalu memilih barang termurah atau menghindari seluruh kesenangan keluarga. Kebutuhan gizi, kualitas produk, dan kenyamanan tetap perlu diperhatikan.
Lima kebiasaan sederhana tersebut dapat diterapkan secara bertahap sesuai kondisi masing-masing rumah tangga. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam satu minggu, tetapi pola pengeluaran akan semakin mudah dipahami.
Pada akhirnya, belanja bulanan lebih hemat bukan tentang seberapa sedikit uang yang dikeluarkan, melainkan seberapa tepat keluarga menggunakan anggarannya untuk memenuhi kebutuhan.
